KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Ya asyik aja, ternyata masih suka. Namanya saya seniman. Kalau di sana (pemerintahan) saya berusaha menikmati dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan saya," ujar Suti saat ditemui di sela syuting TOILET 105 di Cipayung, Jaktim, Senin (09/11) kemarin.
Namun begitu, Suti membantah jika kemunculannya saat ini hanya untuk coba-coba saja.
"Waduh, ini bukan coba-coba. Ya kebetulan waktunya pas dan perannya cocok sama saya. Hidup ini kan pilihan dan saya pilih untuk mendampingi Rano. Kebetulan sekarang kegiatannya nggak terlalu banyak," terang Suti.
Lalu, lebih enak mana bekerja di dunia hiburan atau mendampingi sang kakak di pemerintahan? "Semuanya enak. Yang penting dapat uang. Yang penting cari duit halal. Kita kan anaknya seniman," pungkasnya. (kpl/gum/npy)

"Untuk film horor ini yang pertama kali. Jadi baru pertama kali rusak dan mukanya berdarah-darah. Biasanya nggak pernah dan jujur capek banget. Adegan ini agak-agak berat, dari kemarin, udah dua hari," tuturnya soal adegan bertemu hantu di kamar mandi itu.
Lalu, apakah kegiatannya ini tidak mengganggu kegiatannya bersama Rano? "Kebetulan sebulan yang lalu ditelepon sama orang Multivision dan saya pikir nggak jadi. Ternyata mendadak jadi, ya saya mohon izin dulu tapi tetap ngontrol schedule-nya Mas Rano," terangnya.
Diakuinya, Suti merasa kangen dengan situasi syuting di mana banyak kru dan teman-teman artis di situ. "Nunggunya soalnya hampir dua tahun nggak syuting," tambah Suti.
"Di sini saya baru sepuluh hari. Sebenarnya tanya Mas Rano-nya langsung ya, tapi saya rasa Mas Rano juga nggak ada masalah karena saya tetap bertanggung jawab dengan schedule beliau dan kesehatan beliau," pungkas pemeran Atun dalam sinetron top SI DOEL ANAK SEKOLAH ini. (kpl/gum/npy)

"Aku pernah menonton filmnya. Tapi tidak detail karena tak ingin kebawa perannya Rano Karno," imbuh Mario di Bondies Cafe, Rabu (04/11).
Mario pun ingin membuat suatu perbedaan ketika memerankan Galih. Menurutnya jika di film Galih hanya melakukan dialog namun di drama musikal ini tidak hanya melakukan hal tersebut. Dia harus melengkapinya dengan dialog yang ditambah dengan menari sehingga fisik harus kuat. Guna menunjang agar fisiknya kuat, maka anak pertama dari tiga bersaudara ini melakukan berbagai macam cara. Antara lain, Mario rajin berolahraga. "Biasanya fitness tiga kali seminggu," ucap Mario.
Mengenai tarian, lanjutnya, sudah tak asing lagi. Sebab sebelum menjadi penyanyi dia sudah berkiprah menjadi penari daerah. (kpl/dis/npy)

"Jujur saya harus katakan kerinduan itu tidak bisa saya bunuh, cuma memang karena waktu, terpaksa saya sekarang banyak menulis. Lebih banyak perjalanan ini dan pendekatan kebudayaan. Sebetulnya masih bisa saya bikin misalnya SI DOEL JADI PEJABAT, tapi itu menyita waktu, gak bisa," ungkapnya saat ditemui dalam Open House Lebaran di bilangan Karang Tengah, Jaksel, Senin (21/9).
Meski demikian, ada juga tawaran yang datang kepada pemeran GITA CINTA DARI SMA ini untuk membuat karakter si Doel kembali ke layar kaca. "Alhamdulillah, sebetulnya ada permintaan untuk membuat si Doel lagi. Yang membuat saya tidak sanggup permintaan itu sangat mendekat dan akan ditayangkan bulan Ramadhan, sehingga tidak mungkin. Saya termasuk orang yang tidak pandai membuat cerita dengan cepat seperti SI DOEL 1 ke 2, itu proses 1 tahun saya vakum," jelas Rano.
Rano menambahkan kemungkinan ia hanya menulis skrip, sedang yang memerankan orang lain. "Oh iya tentu saja, tapi maaf kalau bahasannya sosok Doel itu ruhnya gak bisa. Ada beberapa PH (Production House, red) tidak minta izin bikin si Doel, saya bilang silahkan saja. Tapi satu, jangan pakai judul SI DOEL ANAK SEKOLAHAN atau tulisannya 'Doel' karena itu sudah dipatenkan hak ciptanya di Haki. Tapi mereka (PH) mengakui kalau bikin si Doel tidak bisa lari dari saya (karakter Doel)," pungkasnya. (kpl/gum/riz)

"Saya menulis tentang kebudayaan yang ada di kabupaten Tangerang yang sebenarnya hampir sama dengan kebudayaan Betawi. Tapi saya akui, sedikit unggulnya kabupaten Tangerang itu ada etnis Tionghoa yang tidak bisa dihilangkan atau sering disebut Cina Benteng yang sudah jadi ikon nasional. Sangat banyak potensi cerita di daerah Tangerang tapi sekarang saya terpaksa nulis aja dulu," ujar Rano sambil berpromosi.
Ditemui dalam acara Open House Lebaran di rumahnya, bilangan Karang Tengah, Jaksel, Senin (21/9) Rano menuturkan jika selama dua tahun pemerintahannya ini, Tangerang sudah mengalami beberapa kemajuan.
"Tahun 2009 ini setiap wilayah tangerang inginkan ada yang namanya WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), pemeriksaan BPK artinya administrasi, keuangan kita betul. Yang selama ini kabupaten Tangerang tidak pernah, selalu WDP (Wajar Dengan Pengecualian) bahkan pemerintah pusat sendiri disclaimer, artinya tidak bisa diberikan opini. Nah itu salah satu prestasi tertinggi dari suatu pemerintahan," jelas Rano yang bakal menjadi Wakil Bupati Tangerang hingga 2013 nanti.
Meski sukses memajukan Tangerang, tak berarti suami dari Dewi Indriati bakal meninggalkan dunia entertainment sepenuhnya. Lalu kapan Rano akan terjun ke dunia entertainment lagi? "Insya allah kalau bahasannya untuk kepentingan pribadi sudah mulai tapi belum saya rangkai, saya baru ambil prototype bangunan-bangunan, menginventarisasi potensi budaya lokal sehingga bisa saya rangkai menjadi budaya nasional," pungkas ayah dua orang anak ini. (kpl/gum/riz)

"Saya pernah mengusulkan atau melemparkan, kita ini harus memiliki Menteri tentang budaya sehingga konsennya bisa lebih dari Menteri Kebudayaan dan Pendidikan. Bicara budaya itu bicara sejarah. Dulu ada Dirjen Budaya tapi maaf tidak punya kebijakan sehingga batik kita diklaim, tarian kita diklaim, ukiran Jepara diklaim. Marilah kita pikirkan tentang ini, bukan kepentingan," ungkapnya saat ditemui dalam acara Open House di rumahnya, daerah Karang Tengah, Jaksel, Senin (21/9).
Rano menambahkan, seharusnya budaya bangsa selayaknya dijunjung. "Iya, saya sudah melemparkan kalau budaya itu bagian dari seni maka hancurlah kebudayaan karena orang anggap budaya itu hanya seni tari-menari dan kehancuran itu sudah terlihat seperti peristiwa Ambon karena Pela Gandong (satu kebudayaan Maluku yang menyatukan unsur masyarakat) sudah tidak dibudayakan lagi. Peristiwa Kalimantan antara Madura dan Dayak, karena budaya sudah tidak dijunjung. Ada peribahasa 'Di mana bumi dipijak di situ tradisi harus diangkat,'" jelas pemeran SI DOEL ANAK SEKOLAHAN.
Aktor kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1960 ini juga memiliki saran yang ditujukan kepada Presiden sebagai pemimpin negara ini. "Saran saya mumpung pak Presiden sedang mengkalkulasi, mulailah membangun Departemen Kebudayaan, gak harus menterinya saya, pilih orang lain. Indonesia ini kaya dengan budaya," ujar Rano. (kpl/gum/riz)

"Kalau dari sisi artis saya setuju, karena ini silaturahmi. Misalnya saya ngirimin Mak Nyak (Aminah Cendrakasih - pemeran ibunda Si Doel), lalu Mak Nyak ngirimin saya. Atau Mandra ngirimin saya, atau keluarga almarhum Basuki ngirimin atau saya kirimin. Nah, itu kan nggak bisa dipotong rata seperti itu. Kalau pejabat semua sudah pada tahu, rambu-rambunya sudah pada tahu," kata Rano.
Dijumpai saat Open House Lebaran di kediamannya di kawasan Karang Tengah, Jakarta Selatan, Senin (21/9) kemarin, aktor berkumis lebat ini menegaskan jika masalah parcel sudah menjadi aturan tetap. Ia juga sudah menerapkan di tempatnya bekerja yaitu di Pemkab Tangerang. "Itu sudah aturan dari pusat bagi PNS, instruksi itu menjadi dewa. Kalau sudah arahan pimpinan, nggak ada yang berani," ujarnya.
Tapi, lanjut Rano, peraturan juga tidak menjamin ia tidak menerima parcel. Namun kembali ia tegaskan jika parcel yang diterimanya berbeda kasus dengan masalah birokrasi. Ia mengaku masih sering mendapat parcel dari teman-temannya yang bukan pejabat. "Itu kan nggak bisa disejajarkan. Kalau sekarang dilihat, paling nggak ada lebih dari lima parcel," katanya.
Rano menjelaskan, parcel yang ada di kalangan tempatnya bekerja sebagai Wakil Bupati, tidak berupa parcel mewah. Jadi tidak ada kepentingan 'istimewa' atas pemberian maupun penerimaan parcel-parcel tersebut. Lain halnya jika di kalangan pejabat tinggi.
"Parcel apa sih yang bisa dikasihin sama orang Kabupaten? Kecuali pimpinan pusat mungkin, maaf, Presiden, Menteri-Menteri. Nah mungkin di situ bahasa parcelnya ada kepentingan. Tapi kalau di Kabupaten, misalnya Tangerang, lebih ke forum silaturahmi," pungkasnya. (kpl/gum/boo)