KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Saya sangat prihatin atas kasus buaya dan cicak ini," kata Ratna Sarumpaet di Jakarta, Senin (16/11).
Ratna menjelaskan, dirinya baru saja kembali dari Roma, Italia setelah lebih dari satu pekan berada di sana untuk memperoleh penghargaan atas film garapannya, JAMILA DAN SANG PRESIDEN pada Asiatica Filmmediale Festival (AFF).
"Saat saya pergi ke Roma, beberapa waktu lalu kasus perseteruan ini telah ada, ketika saya kembali ke tanah air saya pikir sudah tuntas, ternyata makin panjang," katanya.
Ratna menambahkan, saat berada di Roma, dan berada di antara orang-orang dari berbagai negara, dirinya mengaku khawatir kasus yang terjadi pada KPK-Polri bisa mencoreng citra bangsa di dunia internasional.
Selain itu, sebagai seniman yang aktif di bidang sosial, mengaku tidak ingin masyarakat menjadi resah dan kehilangan kepercayaan terhadap dua institusi tersebut. Pasalnya perseteruan tersebut melibatkan dua institusi yang diharapkan masyarakat bisa menjadi penegak hukum.
"Masyarakat berharap dua institusi tersebut bisa menegakkan hukum dan memberantas korupsi sehingga sangat memprihatinkan jika keduanya malah berseteru," katanya.
Untuk itu, dirinya berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bisa memanggil kedua institusi tersebut dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Dirinya tidak ingin kasus tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang diuntungkan oleh kondisi tersebut.
"Tentunya masyarakat berharap kasus tersebut bisa cepat tuntas, tidak ada ketegangan lagi antar kedua lembaga pilar hukum tersebut," katanya. (ant/dar)

"Saya sangat bangga atas penghargaan tersebut," kata Ratna Sarumpaet kepada ANTARA di Jakarta, Senin (16/11).
Ratna menambahkan, film JAMILA DAN SANG PRESIDEN mendapatkan penghargaan dari The Network for the Promotion of Asian Cinema (Netpac), sebuah organisasi perfilman yang beranggotakan sekitar 29 negara dan berkantor di Singapura.
"Ini merupakan penghargaan berkelas internasional dari sebuah organisasi perfilman ternama yang beranggotakan sekitar 29 negara," katanya.
Ia mengatakan, Netpac telah memberikan penghargaan pada lebih dari 70 film dari berbagai negara di Asia dan memperkenalkannya ke mata dunia.
Untuk Indonesia, film JAMILA DAN SANG PRESIDEN merupakan film Indonesia kedua yang mendapatkan penghargaan dari Netpac setelah BIRD MAN TALE karya Garin Nugroho yang diberikan di Berlin International Film Festival tahun 2003.
Selain itu, Ratna juga mengatakan bahwa film JAMILA DAN SANG PRESIDEN yang bercerita tentang kasus perdagangan anak di Indonesia memperoleh penghargaan karena nilai seni dan kritik sosialnya.
"Saya membuat film ini bukan untuk mendapatkan penghargaan tapi karena ingin mengangkat kasus yang selama ini jarang diangkat di film-film tanah air, yakni soal perdagangan anak," katanya.
Ia juga menambahkan, dengan adanya penghargaan berkelas internasional ia berharap pesan moral dan informasi yang ingin disampaikan lewat film garapannya bisa dilihat oleh lebih banyak orang di berbagi negara.
"Dengan adanya penghargaan ini, saya berharap pesan moral yang ingin saya sampaikan mengenai masih adanya kasus perdagangan anak di Indonesia bisa diketahui oleh dunia internasional dan dapat dicarikan solusinya oleh para pengambil kebijakan berkelas internasional," kata selebritis yang aktif di bidang seni dan sosial itu. (ant/bun)

Konsul Pensosbud KBRI Roma Musurifun Lajawa, Senin (9/11), mengatakan, JAMILA DAN SANG PRESIDEN mengalahkan film unggulan dari negara Asia lainnya, seperti China, Jepang, Korea, India, Iran, Thailand dan Vietnam.
Penghargaan The Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC) merupakan jaringan promosi internasional, organisasi nirlaba yang terdiri atas kritikus da pendidik.
Menurut Musurifun Lajawa, JAMILA DAN SANG PRESIDEN juga terpilih untuk mewakili Indonesia pada kompetisi Piala Oscar pada Februari 2010. Sebelum berlaga di Oscar, film itu akan mengikuti Festival Film Asia-Pacifik di Sydney, Australia, dalam waktu dekat.
Penghargaan NETPAC diserahkan yang kepada Ratna Sarumpaet itu merupakan piala bergengsi yang diberikan pada film-film terbaik Asia.
NETPAC merupakan organisasi yang mewakili para kritikus, produser, distributor, kurator, eksibitor, dan pendidik yang bergerak di dunia perfilman.
NETPAC bertujuan untuk memajukan perfilman di kawasan Asia dan dianggap oleh dunia sebagai otoritas yang berkompeten dalam perfilman Asia.
Dewan juri yang diketuai kritikus film sangat disegani di Jepang Tadao Sato menilai keunggulan JAMILA DAN SANG PRESIDEN bukan saja terletak pada aspek artistik dan keasliannya, tetapi juga pada ketajaman kritik sosialnya dalam memotret kemasyarakatan di Indonesia.
Ratna mengaku dirinya prihatin terhadap perdagangan manusia di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya.
Akar dari kejahatan perdagangan manusia yang dipotret dalam film JAMILA DAN SANG PRESIDEN adalah kemiskinan, yang juga sebagai dampak dari ketidakadilan ekonomi internasional.
Karena itu, film tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan kembali para pengambil keputusan di seluruh tingkatan untuk segera menyelesaikan kasus perdagangan manusia yang sangat mengkhawatirkan. (ant/dar)

Ketiga film dokumenter tersebut adalah HARIMAU YANG LAPAR (HYL), PERTARUHAN, dan HEAVEN FOR INSANITY, sedangkan film terpilih adalah JAMILA DAN SANG PRESIDEN, demikian Counsellor Pensosbud KBRI Roma, Musurifun Lajawa kepada koresponden ANTARA London, Sabtu (31/10).
Menurut Musurifun Lajawa, Asiaticafilmmediale adalah festival film tahunan yang diselenggarakan Asosiasi Kebudayaan Mnemosyne, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Italia dan Pemerintah Kota Roma.
Dikatakannya, festival bertujuan memperkenalkan karya-karya film Asia yang bermutu, namun tidak banyak dikenal di dunia internasional, termasuk Eropa. Saat ini tercatat sekitar 50 karya film dari 20 negara di Asia, di antaranya China, India, Indonesia, Jepang, dan Korea.
Selain pemutaran film, festival ini juga menyelenggarakan seminar dan diskusi untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat Italia terhadap perkembangan dunia perfilman (cinematography) dan kesusastraan Asia.
Para tokoh perfilman Indonesia yang hadir pada festival film bergengsi dengan tema Encounters with Asian Cinema ini, di antaranya, Ratna Sarumpaet, sutradara, dan Atiqah Hasiholan, pemeran utama JAMILA DAN SANG PRESIDEN; serta Rob Allyn, screenplay, dan Dewi Beck, co-producer HYL.
Sementara itu, co-produser HARIMAU YANG LAPAR, Dewi Beck mengatakan Indonesia memiliki sejarah perfilman yang panjang, tetapi masih menghadapi banyak tantangan terutama dari segi biaya dan pasar. "Namun demikian, industri perfilman Indonesia terbukti cukup tangguh dan mampu menghasilkan produk-produk bermutu," ujarnya.
Selain itu, tercermin dari masuknya film-film Indonesia, termasuk HYL dalam daftar kompetisi pada festival film di Roma yang akan dibuka besok. HYL berkisah tentang harapan untuk masa depan Indonesia dalam mengatasi masalah kemiskinan, pangan, gizi, dan pendidikan. Dengan demikian, dokumenter ini sangat tepat ditayangkan menjelang 3rd World Food Summit (KTT Pangan) yang akan berlangsung di Roma pada 16-18 November 2009.
Indonesia mengikuti festival Asiaticafilmmediale sejak tahun 2001, dengan menampilkan film TANJUNG PRIOK (2001), RINDU KAMI PADAMU (2005), dan film INDONESIA (2006). (ant/boo)

"Film ini akan berkompetisi dengan lima film lainnya dari berbagai negara," kata Ratna Sarumpaet di Jakarta, Kamis (29/10).
Ratna menjelaskan, dalam festival film tersebut JAMILA DAN SANG PRESIDEN akan berkompetisi dengan Film QOPI dari Azerbaijan, DARBEREYE ELLY dari Iran, GAGMA NAPIRI dari Kazakistan, GALAMOROUS YOUTH dari China, dan PADAROK STALINU dari Rusia.
Ratna juga menambahkan, pada saat ini Perhimpunan Pengusaha Film dan Televisi Indonesia telah memilih JAMILA DAN SANG PRESIDEN mewakili Indonesia ke Oscar untuk kategori Foreign Language. Di mana akan berkompetisi dengan 64 film dari 64 negara lain.
Sutradara yang juga aktivis sosial itu berharap film garapannya itu bisa menang dalam kompetisi di Asiatica Filmmediale Festival di Roma Italia.
"Pasalnya, apabila JAMILA DAN SANG PRESIDEN menang di Italia dapat memuluskan film tersebut menuju piala Oscar," katanya.
JAMILA DAN SANG PRESIDEN sendiri dibintangi oleh Christine Hakim, Atiqah Hasiholan, Fauzi Baadila dan Surya Saputra. Film yang berbicara tentang kemiskinan, perdagangan orang dan kejahatan seksual terhadap perempuan di bawah umur tersebut diangkat dari drama berjudul PELACUR DAN SANG PRESIDEN.
"Film tersebut terinspirasi dari kehidupan nyata yang terjadi di Indonesia," katanya. "Banyak pesan moral yang ingin disampaikan melalui film ini dan saya harap itu jadi pertimbangan juri di Asiatica Filmmediale Festival atau piala Oscar nantinya," pungkasnya. (kpl/dar)

"Aku sebenarnya capek. Jangan mentang-mentang perempuan, kok dipersulit cari keadilan aja. Saya sudah minta bantuan mbak Ratna (Sarumpaet). Tapi dia nggak bisa datang hari ini karena ada urusan lain. Dia sekarang menunggu informasi, sekarang hukuman jadi lebih berat," tutur Okie selepas melakukan pemeriksaan di Polresta Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/10).
Okie pun mengaku walaupun merasa dipersulit, dia tidak akan putus asa. "Saya tidak putus asa untuk keadilan. Mentang-mentang perempuan, gue lemah. Gue mah dipersulit tadi, jadi gue butuh bantuan mbak Ratna Sarumpaet untuk back up sesama perempuan," tambahnya tegas. (kpl/buj/npy)

"Di sini saya juga ikut casting, Alhamdulillah saya bersyukur. Kalau dibandingkan dengan FTV memang cerita di film ini lebih berat untuk diperankan. Mungkin persiapan saya juga kurang ekstra, karena pembuatan film itu hanya satu bulan," tuturnya.
Ditemui KapanLagi.com di Pers Screening RUMA MAIDA di Blitzmegaplex Grand Indonesia, Rabu (21/10), Atiqah lantas mengaku jika ia belum merasa puas dengan kualitas aktingnya sebelum benar-benar mendapat komentar dari penonton.
"Saya merasa puas biasanya kalau udah dapat feedback dari yang udah nonton, kalau mereka suka dan happy itu baru saya puas. Percuma kan kalau saya puas dengan akting saya ternyata orang lain nggak suka," ujarnya.
Selanjutnya, Atiqah juga sempat menceritakan adegan yang paling berkesan buat dirinya saat membintangi film arahan Teddy Soeriaatmadja itu.
"Saat nyari bunker, itu kan harus senatural mungkin. Dan scene-nya juga panjang banget. Apalagi di situ kan sebelumnya harus menceritakan kisah-kisah di Al Kitab, sementara saya bukan penganut Kristen," terangnya.
Lantas adakah kesamaan dirinya dalam kehidupan sehari-hari dengan karakter yang diperankannya? "Ya mungkin ada kesamaan, saya orangnya peduli sama sosial. Tapi ya nggak secuek itu, sampai mukanya berminyak gitu," pungkasnya. (kpl/ant/bar)