KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Dengan latihan dan persiapan singkat mudah-mudah berjalan baik. Soalnya baru hari ini kita latihan bersama-sama," harapnya kepada KapanLagi.com.
Dengan wajah dipenuhi make up sesuai dengan sajak yang dibawakan, Tamara mengaku sebagai bagian interpretasi diri sehingga apa pun akan dilakukan demi kelancaran pentas.
"Kebetulan karyanya panitia yang pilihkan, jadi kita ikuti saja. Sebenarnya banyak karya dia yang saya sukai," sambungnya lagi.
Disinggung mengenai ketertarikan atas karya Rendra, mantan istri Teuku Rafli Pasya ini mengatakan bahwa sosok Rendra dapat dijadikan panutan terutama dalam berkesenian.
"Wow, saya gemetaran begitu dengar nama dia. Dia guru saya. Dia ajarkan banyak hal seperti kebebasan berkarya. Ya, walau karyanya cukup sulit saya berusaha bisa untuk menghayati. Makanya vokal kembali saya latih," pungkasnya lalu menuju ruang rias. (kpl/dis/npy)

Ditemui saat latihan di GOR Bulungan Blok M, Jakarta, Selasa (27/10), Ray Sahetapy terlihat tetap semangat meskipun hari menjelang tengah malam.
"Sebenarnya ada beberapa artis yang tidak mau ikut karena takut, karena anggapan mereka puisi itu agak sulit untuk mengekspresikannya daripada dialog langsung. Bicarakan batin itu memang agak berat tapi harus dicoba," katanya.
Selain artis, beberapa tokoh nasional juga akan berpartisipasi. "Pak Sudomo seharusnya ikut tapi mungkin dia langsung di gedung kesenian karena mengungkapkan sikapnya untuk tidak menahan Rendra. Kayak Wulan Guritno seharusnya datang tapi dia ada syuting. Tapi tidak apa, wajar kalau putus-putus. Nanti juga ada gladi resiknya," terangnya.
Meskipun tidak mampu menghadirkan seluruh artis yang berpartisipasi, Ray optimis acaranya akan berjalan lancar. "Biasanya para artis kalau di atas pentas energiknya lebih. Saya kira nggak perlu diragukan mudah-mudahan latihan ini bisa mengekspresikan dirinya di depan masyarakat bahkan di depan Tuhan," katanya.
Rendra merupakan inspirasi bagi seniman, karena itulah mereka semangat bergabung. "Karena kita suka membaca ayat daripada Nabi, apalagi ini puisi yang orang juga bisa rasakan. Saya kira puisi banyak melatih orang untuk jadi lebih sensitif," tuturnya.
Lewat pagelaran ini, Ray ingin meneruskan semangat Rendra. "Saya kira Rendra itu sensitif terhadap ketidakadilan, terhadap ketidakbecusan para aparat ketika mengolah negara. Sensitif melihat ke sembarang kita menggunakan gagasan asing. Rendra berani mengungkapkan ini," tegasnya. (kpl/gum/npy)

"Waktu kecil kakak saya suka menyanyikannya jadi saya suka dengar lagu itu. Zaman itu musik jarang, jadi kalau ada satu lagu dibawakan orang sungguh-sungguh ya nempel, nggak cuma di kuping tapi di hati kita dan itu susah untuk ditinggalkan," terang Ray.
"Makanya, musik itu sangat cepat untuk mengingatkan kita pada masa lalu bahkan mengasah imajinasi kita. Satu detik kita bisa sampai di ruang angkasa kalau mendengar suara itu. Musik itu buat saya penting," lanjutnya saat ditemui di latihan Indonesia Membaca Rendra di GOR Bulungan Blok M, Jakarta, Selasa (27/10).
Selain itu, kenangan lagu dari beberapa penyanyi tersohor di masa lampau juga masih melekat. Lantas siapa saja penyanyi idolanya? "Ya banyaklah dari Gombloh, Farid Harja, dan suatu saat kita bisalah mengangkat gagasan-gagasan seniman kita," terangnya.
Meskipun begitu, Ray tetap menghargai karya band sekarang. "Selama kita berkarya dengan hati nurani kita dengan sungguh-sungguh tanpa pamrih saya kira lagu pasti bagus jadinya karena leluhur kita sudah membuktikan lagu mereka sampai saat ini dipuja-puji oleh negara lain berarti ketulusan dan keikhlasan mereka berkarya itu tembus," tuturnya.
Untuk band, siapa yang diidolakan? "Panbers.. oke," jawabnya singkat. (kpl/gum/npy)

Dalam kesempatan kali ini Iwa K membawakan sajak seniman besar Indonesia ini bersama dua rekannya yang lain. "Biasanya kan Rendra yang membaca Indonesia, sekarang gantian Indonesia yang membaca Rendra. Di sini saya membacakan sajak Rendra yang berjudul Anugerah Gusti Allah. Saya membacakan sajak itu bertiga bareng Denada dan Ray Sahetapy. Saya memang suka sekali dengan sajak Rendra yang satu itu, sajak itu pernah dibawakan Rendra di ITB tahun 1978. Makanya ketika saya disuruh memilih, saya pilih sajak yang itu," terang Iwa K yang ditemui di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (27/10).
Iwa pun mengaku merasa agak terbebani membawakan sajak ini. "Sajak itu bercerita tentang sesuatu yang menyentil. Kritikan tentang segala sesuatu yang dilakukan manusia, mereka biasanya melakukan sesuatu karena ada pamrihnya. Memang ada beban. Maksudnya ini kan kesempatan yang bagus buat saya bisa membawakan karya almarhum mas Willy. Dia orang hebat Saya deg-degan, jadi saya bawakan dengan rap," tambah suami pedangdut Selfi KDI ini. (kpl/gum/erl)

"Saya antusias banget untuk mendaftar Ganyang Malaysia, karena sudah lama Malaysia telah menghina dan melecehkan bangsa ini. Mereka itu telah mengirim dua pengebom, Noordin sama Azhari, terus Ambalat, pekerja dianiaya, terus sekarang melecehkan kita dengan mengaku-aku kebudayaan kita," kata Ray saat ditemui di eks kantor PDIP, Jl. Diponegoro 8 Menteng, Jakarta Pusat.
Ditegaskan mantan suami Dewi Yull ini, Malaysia seharusnya jangan bermain-main sebagai bangsa. Dan sebagai warga negara yang baik, Ray siap membela tanah air ini. "Sebagai seorang aktor ataupun pekerja seni, saya merasa harus berperang melawan Malaysia melalui seni dan kebudayaan, bagaimana kita harus mempertahankannya, karena kebudayaan kita udah sering diambil oleh Malaysia," tegasnya.
"Kita sebagai bangsa harus jelas mempertahankan jati diri kita. Saya selalu berpikir untuk negara ini tiap hari, karena saya kalau mati nggak mungkin dikubur di tanah lain kecuali di Indonesia," sambungnya dengan penuh semangat.
Ia juga menuturkan sebagai wujud nyata bisa dilakukan dengan hal kecil seperti ini, atau dengan memboikot produk yang berasal atau mencerminkan Malaysia. Ia berharap dengan adanya hal ini akan bisa memicu masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak bangsa. "Masak kalau masalah Arab atau Israel aja kita ngotot tapi untuk nasionalisme kita nggak? Mungkin juga peran para pemuka agama antar negara bisa berdialog untuk membahas masalah ini, dari terorisme maupun yang lain, karena bisa jadi ada kemungkinan ada agenda besar dari negara lain," urainya.
Ray menilai, peran pemerintah mengatasi masalah ini masih belum maksimal. Tapi ia juga memaklumi karena pemerintah juga masih lelah karena baru menyelenggarakan Pemilu Legislatif dan Pilpres. Ia juga menegaskan jika untuk urusan TKI, bangsa Indonesia tidak perlu takut.
"Kita ini bangsa yang kaya. Mungkin selama ini penanganannya aja yang salah, tapi kita masih punya lahan kosong yang banyak, kekayaan alam yang melimpah, jadi saya tekankan ya, jangan takut!" pungkasnya. (kpl/ant/boo)

"Ketika Malaysia melakukan kejahatan terhadap perempuan-perempuan Indonesia, itu sudah merupakan suatu kesalahan besar," ujar aktor yang seangkatan dengan Deddy Mizwar dan Didi Petet itu.
"Tapi coba kita lihat, apakah ulama-ulama di sini berteriak untuk itu? Apakah DPR juga berteriak untuk itu? Masa cuma keluarga-keluarga mereka aja yang menangis," sambungnya kemudian.
Ditemui di gedung Nusantara 3 gedung MPR, Senayan Jakarta, Rabu (2/9) Ray yang terlibat dalam dialog kebudayaan bersama MPR RI itu memang lebih menyoroti peran wakil rakyat, yang dinilainya lalai dalam mengemban aspirasi rakyat dan melindungi kebudayaan nasional.
"Kita sebenarnya kan punya wakil yang dipilih rakyat. Itu tugas mereka, kalau saya lihat itu kesalahan mereka yang terlalu mengabaikan masalah budaya," tegasnya tanpa basa-basi. (kpl/mai/bar)

"Saya masih nggak ngerti saya cuma diundang saya disuruh tanda tangan saya masih belum tahu. Saya belum tanda tangan kalau belum baca isinya," ungkap Bella di sela acara yang berlangsung di Tea Addict Cafe, Jl. Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (26/7).
Sebagai sebuah gerakan budaya, Bella menilai acara ini cukup bagus, meski dirinya menolak jika dikaitkan dengan politik. Gadis berusia 35 tahun ini, mendukung sepenuhnya pendapat Sujiwo Tejo yang saat itu hadir di acara tersebut.
"Seperti tadi mas Sujiwo Tejo bilang kalau ini dibawa ke politis saya nggak mau. Tapi kalau dulu di acara televisi masih ada acara yang menyangkut budaya saya mendukung, tapi kalau sampai dipolitisir saya nggak," ungkap Bella menegaskan.
Acara Mufakat Kebudayaan merupakan acara silaturahmi atas keprihatinan kondisi budaya nasional yang semakin tersisihkan. Acara ini banyak dihadiri para budayawan dan selebritis, termasuk Iwan Fals, Sujiwo Tejo, Marcella Zalianty, Yenny Rachman, Eros Djarot, Sys NS,Mat Solar, Happy Salma, Ray Sahetapy dan lain sebagainya.
"Saya diundang kaget, saya tidak tanda tangan karena saya tidak mengerti. Saya nggak mau terseret karena kebodohan karena nggak mengerti, karena saya benar-benar merawat profesi saya," terang Bella.
Di sisi lain Bella ingin teguh berpendapat, dan ingin melihat masalah secara rasional dengan tidak menyalahkan siapa pun. "Dan saya bukan barisan generasi yang harus ngamuk karena entertainment begini dan TV yang mementingkan rating biar bagaimana pun gue produk TV juga," pungkasnya. (kpl/buj/dar)