< >

ARTIKEL RIANTI CARTWRIGHT


Artis Dalam Incaran HIV/AIDS

KapanLagi.com - Kehidupan artis yang sarat dengan dunia gemerlap di Ibukota Jakarta, pergaulan luas dan bebas, ketidaksiapan menghadapi ketenaran atau kejatuhan dalam karirnya, seringkali dikaitkan dengan narkoba dan ancaman HIV/AIDS.

Tompi, penyanyi jazz yang juga berprofesi sebagai dokter, mengungkapkan, kalangan artis adalah bagian dari masyarakat yang cukup rentan terjangkit HIV/AIDS meski hingga saat ini belum pernah terungkap secara gamblang adanya artis yang mengidap HIV/AIDS.

"Rentan ini dalam arti mereka terpapar dengan hal-hal yang menulari yakni lewat seks bebas, obat-obatan terlarang lewat jarum suntik," katanya di Jakarta.

Tompi mengatakan kendati tidak semua artis akrab dengan narkoba lewat jarum suntik ataupun seks bebas, namun lingkungan memungkinkan adanya pengaruh itu merasuk dalam kehidupan mereka.

"Tidak semua artis mengonsumsi narkoba kan, tidak semua melakukan seks bebas. Tapi memang kita sama-sama tahu bahwa ada beberapa di antara kami ini yang masih terlibat dengan hal-hal tersebut," ujarnya.

Menurut pelantun lagu Selalu Denganmu ini, kehidupan yang akrab dengan jarum suntik dan seks bebas di kalangan artis biasanya berawal dari konsumsi alkohol. Kebiasaan dugem dan minum-minuman keras sampai mabuk sambil nongkrong di bar biasanya yang mendorong mereka terjerumus ke dunia obat-obatan dan seks bebas.

"Ketika mereka mabuk dan akhirnya tidak sadar, setelah itu tidak tahu lagi melakukan apa saja. Di situ mulai penggunaan drugs biasanya jadi tidak bisa terhindarkan," katanya.

Penyanyi dan komedian Ronald Suryapradja mengungkapkan, kehidupan artis, baik penyanyi, musisi, bintang film, atau artis sinetron memang tidak bisa dipungkiri seringkali dikaitkan dengan gaya hidup bebas, alkohol, dan minuman keras. Namun hal itu bergantung pula pada masing-masing individu dalam menyikapinya.

"Stereotipe artis memang biasanya tidak pernah jauh dari tiga hal itu, tapi sebenarnya kalau kita tinggal di keluarga yang harmonis, lingkungan yang hidup sehat, dan dekat dengan Tuhan maka sebenarnya kita bisa menjauhkan diri dari bahaya HIV/AIDS," katanya.

Peran keluarga dan orang-orang terdekat, menurut Ronald sangat penting dalam membentuk jiwa dan karakter seseorang termasuk kalangan artis. Dari pengalamannya pribadi, kedekatan dengan orang tua mendorong dia untuk menjauhi hal-hal yang negatif.

"Orang tua gue tidak pernah mencontohkan hal-hal semacam itu. Mereka juga tidak pernah melarangku melakukan ini dan itu, tapi karena aku belajar dan melihat keseharian mereka yang positif maka secara tidak langsung aku menirunya juga," ujar pria asal Bandung, Jawa Barat, itu.

Penyanyi jazz asal Solo, Iga Mawarni, yang juga memiliki pergaulan luas di kalangan penyanyi, musisi,dan seniman, mengatakan, tidak mudah menjauhkan narkoba dari kalangan artis ataupun seniman. Hal ini karena masih ada sebagian di antara mereka yang mengonsumsi narkoba untuk kepentingan mencari inspirasi atau membangkitkan emosi yang tinggi untuk menciptakan karya, baik musik maupun yang lainnya.

"Ada beberapa orang yang kurang percaya diri lantas berpikiran bahwa kreativitas dan imajinasinya akan muncul dengan dahsyat ketika mengonsumsi narkoba, terutama dengan jarum suntik ya. Mereka inilah yang sangat rentan terhadap penularan HIV/AIDS," katanya.

Ia mengungkapkan anggapan itu akhirnya menjadi kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, yakni terus-menerus mengonsumsi narkoba demi membangkitkan imajinasi dan adrenalin untuk menciptakan sebuah karya yang hebat, serta mengesampingkan logika murni dalam berkarya.

"Apalagi misalnya kalau sedang dikejar deadline produksi album baru padahal belum ada ide untuk membuat lagu, biasanya seniman itu yang larinya ke narkoba," kata ibu satu anak itu.

Dalam pengamatannya, artis-artis mudalah yang paling rentan terjerumus ke narkoba dan seks bebas. Banyaknya bermunculan grup band baru, persaingan di bidang musik yang sangat ketat, dan ketidakmampuan untuk menerima ketenaran yang tiba-tiba bisa saja menyeret seseorang terjerumus ke dunia obat-obatan terlarang.

"Bicara persaingan band-band baru, mereka masih ABG (anak baru gede) yang masih memburu popularitas, belum berpikir positioning, biasanya adalah kalangan rentan apalagi bila kondisi keluarga dan lingkungan sekitarnya tidak mendukung terciptanya emosi yang stabil dan pemahaman yang lengkap tentang narkoba dan seks bebas," katanya prihatin.

Pengetahuan

Sebagai kelompok yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS, Ronald menilai sangat penting bagi artis untuk membekali pengetahuan seputar virus mematikan itu.

Menurut dia, dengan kesadaran sendiri seharusnya para artis sudah membekali diri dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS karena kehidupan mereka yang tak jauh dari ancaman terjangkit virus tersebut.

"Sebenarnya tidak hanya artis ya, semua orang seharusnya well informed tentang apa itu HIV/AIDS karena penting untuk menjaga diri sendiri dari resiko tertular," tambahnya.

Mantan VJ MTV Rianti Cartwright mengungkapkan pengetahuan tentang HIV/AIDS sangat penting bagi dia sebagai seorang entertainer. Dengan pemahaman yang benar maka seseorang bisa lebih berhati-hari dalam bersikap dan pergaulan sehari-hari.

Rianti mengatakan, dengan adanya pengetahuan yang cukup, ia bisa mengetahui bagaimana memperlakukan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Ia mencontohkan pada dirinya sendiri ketika masih menjadi pembawa acara stasiun televisi MTV pernah mewawancarai ODHA.

Karena ia tahu penularan HIV/AIDS hanya bisa dilakukan melalui melalui cairan tubuh, akhirnya dia tidak gentar saat berhadapan dengan mereka. "Saya tidak takut berjabat tangan dan pelukan dengan penderita AIDS. Karena memang saya tahu tidak akan tertular semudah itu," katanya.

Hal senada juga diungkapkan aktor muda Christian Sugiono. Ketika mengetahui bahwa teman akrabnya semasa di Jerman menderita AIDS, dia tidak serta merta kaget. "Saya sudah tahu cara penularannya. Makanya tidak terlalu memikirkan hal tersebut," ungkapnya.

Pengetahuan seputar HIV/AIDS itu, menurut Tompi, juga harus dibarengi dengan kesadaran diri untuk memeriksakan diri ke dokter. Ia mengatakan, meskipun seseorang merasa memiliki gaya hidup yang sehat dan positif belum tentu terhindar dari kemungkinan tertular HIV/AIDS.

"Siapa tahu tertular virusnya dari pisau cukur yang dipakai bergantian, atau dari jarum tato yang dipakai beberapa orang," katanya.

Berdasarkan pengalamannya sebagai dokter yang menangani kasus HIV/AIDS, ada beberapa orang yang tidak bersedia diperiksa karena merasa kehidupannya sangat positif.

"Orang-orang yang rentan terhadap resiko tertular HIV/AIDS, baik itu artis ataupun bukan artis, harus menumbuhkan kesadaran diri sendiri bahwa memeriksakan diri ke dokter itu juga sangat penting untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan," demikian penjelasan Tompi. (kpl/cax)


Lihat profil: Tompi, Ronal Surapradja, Iga Mawarni, Rianti Cartwright, Christian Sugiono
Diposting oleh: Editor | Kamis, 11-12-2008 |

'AYAT-AYAT CINTA', Cinta Berbalut Keimanan

KapanLagi.com - Pemain: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria

Film ini diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy atau biasa disapa Kang Abik, novelis lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Novel tersebut berkisah tentang cinta dan telah banyak menginspirasi banyak remaja muslim. Bukan sekedar kisah cinta biasa tapi mengenai upaya menghadapi berbagai problema cinta secara Islami. Setelah mengalami penundaan tayang yang sebelumnya direncanakan pada Idul Adha 2007, akhirnya AYAT-AYAT CINTA (AAC) tayang mulai 28 Februari 2008.

Film yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, dan Melanie Putria ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Tokoh utamanya, Fahri bin Abdillah diamanahkan pada Fedi Nuril. Pemilihan Fedi sebagai tokoh utama melalui proses tarik-ulur karena sosok Fedi yang tidak 'sesuci' Fahri mengundang kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC.

Fahri diceritakan sebagai pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Hidup Fahri dikejar oleh target karena keluarganya telah mengorbankan segalanya, termasuk sawah warisan kakeknya, agar dia bisa sekolah di Mesir. Fahri berusaha memenuhi target yang digambarkan dalam peta hidupnya, berjuang melawan panas-debu Mesir dan keterbatasan dana. Fahri bertekad menyelesaikan masternya dalam dua tahun, program doktor dalam empat tahun, dan empat tahun kemudian menjadi guru besar.

Fahri juga memiliki target untuk menikah dengan perempuan yang shalehah untuk menyempurnakan agamanya saat dia menyelesaikan tesis magister. Dan waktunya semakin dekat. Sayang Fahri yang hidup 'lurus' sulit dekat dengan wanita, meski ada beberapa wanita yang ada di sekitar kisah hidupnya.

Ada Maria Girgis (Carissa Putri), tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Islam dan senang membaca Al Quran, bahkan hafal surat Maryam. Tak hanya Islam, Maria juga mengagumi Fahri yang kemudian berubah menjadi cinta. Sayang rasa cinta itu hanya tertumpah di buku hariannya.

Ada pula rekan senegara Fahri, Nurul (Melanie Putria) anak tunggal seorang kyai Jawa Timur yang juga menuntut ilmu di Al Azhar. Nurul yang pintar dan cantik, juga ketua Wihdah, sebenarnya mencintai Fahri, namun tak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan atau memberi sinyal cintanya. Demikian pula dengan Fahri yang menaruh hati pada Nurul tapi merasa minder karena dirinya hanya anak petani miskin.

Kemudian ada Noura (Zaskia Adya Mecca), tetangga depan flat Fahri, perempuan cantik yang selalu disiksa oleh ayahnya, Bahadur. Fahri yang berempati dengan Noura akhirnya menolong Noura lepas dari siksaan ayahnya dengan bantuan Maria dan Nurul. Noura yang awalnya digambarkan sebagai perempuan baik-baik, akhirnya menjadi tokoh antagonis di film ini, setelah Noura menuduh Fahri memperkosanya. Tuduhan itu membawa Fahri mengalami 'petualangan' dengan aparat penegak hukum di Mesir, termasuk penjaranya.

Satu lagi, gadis yang paling istimewa. Fahri mengenalnya di metro. Saat itu Fahri membela Islam atas tuduhan tuduhan kolot dan kaku. Aisha (Rianti Cartwright), gadis Turki-Jerman berdarah Palestina, pun jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.

Pada siapa Fahri akan melabuhkan hatinya? Dapatkah dia menjalani segala rasa cinta dan problema yang mengiringinya dengan tetap berpegang teguh pada Islam yang diyakininya?

Sejak awal rencana pembuatan film ini para penggemar fanatik novel AAC tidak yakin Hanung dapat membuat film ini sebagus novelnya. Bahkan Kang Abik tak berharap banyak atas hasil akhir film adaptasi dari novelnya, karena imajinasi tulisan jauh lebih luas daripada imajinasi visual. Banyak juga yang beranggapan Zaskia tidak cocok berperan sebagai Noura, tapi lebih sesuai sebagai Nurul.

Yang namanya film adaptasi pasti tak luput dari pembandingan dengan novel yang diadaptasi. Bagi penggemar Fahri siap-siap kecewa, karena Fahri di film tak sesempurna Fahri di novel. Fahri di film tidak menguasai beberapa keahlian seperti halnya di novel. Karena itulah, Fahri di film terlihat jauh lebih manusiawi dibandingkan novelnya.

Sayangnya, banyak detail di novel yang dilewatkan oleh Hanung, sehingga terasa ada yang kurang saat menontonnya. Hanung juga lebih banyak memberi porsi pada perilaku 'poligami' Fahri. Padahal novel Kang Abik berkisah lebih (jauh lebih dalam) dari hanya persoalan 'poligami'.

Satu lagi yang paling mengganjal adalah kemampuan orang-orang Mesir dalam memahami dan berbicara bahasa Indonesia. Film yang bersetting di Mesir ini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Saat menontonnya tak ayal ingatan jatuh ke film James Bond tahun 1970-an yang mana orang-orang Uni Soviet sangat fasih berbahasa Inggris.

Meski demikian, sekali lagi, Hanung menunjukkan kualitas tangan dinginnya dalam membesut film untuk kalangan anak muda. Meski ada beberapa yang berbeda dengan novelnya, namun penceritaan Hanung sangat cimaik, khas anak muda, serta mudah diikuti bagi yang belum pernah baca novelnya. Beberapa penambahan, seperti adegan pemukulan Fahri di Metro, kisah tabrak lari Maria, justru menambah greget dan menambal 'lubang' dari novel Kang Abik.

Secara umum film chicklit 'akhwat' ini mampu memberi pandangan berbeda tentang arti cinta yang dibalut dengan keimanan. (kpl/lin)


Lihat profil: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca, Hanung Bramantyo
Diposting oleh: Editor | Kamis, 28-02-2008 |

«12»