KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Seperti diketahui, hasil pernikahan dirinya dengan Sandrina Malakiano telah melahirkan Kesya Alea Malakiano. Namun di tengah perjalanan, rumah tangga hancur dan Kesya memilih tinggal bersama Sandrina.
Untuk itu Rico tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini walau tak mau menyebut dengan siapa Kesya pada hari pertama Lebaran. "Ada mekanisme hari pertama di mana atau kedua di mana. Kan teknisnya ada, yang penting silaturahmi jalan," ujarnya pendek.
Dilanjutkan guna mengantisipasi agar liburan ke lokasi wisata berjalan baik maka Rico mengatur jadwal kerja yang padat dengan mengambil cuti di hari kerja.
"Lihat dulu tempat wisatanya. Kalau Ancol penuh, ini penuh di hari lebaran maka mendingan dibalik harinya. Saya cuti di hari biasa dibanding pas hari lebarannya. Biasanya kan padat. Kalau pun mau ke luar negeri tiket habis. Kenapa sih nggak di sini saja? Biasanya saya korbankan hari kantor kalau liburan lebaran supaya bisa jalan dengan anak. Mendingan Selasa atau Rabu, jadi bener-benar bisa nikmati wahana di tempat liburan itu," tuturnya. (kpl/dis/bun)

Kelengangan tersebut dinikmati masyarakat yang tak pulang kampung. Salah satunya Rico Ceper. Penyiar salah satu stasiun radio itu tahun ini tidak mudik lantaran semua keluarga sudah menetap di Jakarta.
"Kayaknya di sini saja Lebaran. Ibu orang Padang tapi sudah lama di sini. Pun dengan kakek nenek. Sementara bapak sudah meninggal dua tahun lalu dan ini kali kedua lebaran tanpa beliau yang meninggal karena jantung. Kemungkinan Lebaran kesatu kedua di Jakarta, menikmati kelengangan jalan. Kebetulan saya sulung dan adik tiga semuanya cewek. Jadi saya jadi kayak imam di keluarga," ujarnya belum lama berselang di Jakarta.
Sayangnya, ketika disinggung anaknya, Kesya Alea Malakiano, Rico enggan menerangkan secara rinci akan di mana anak semata wayang tersebut berlebaran.
"Ya itu ada cara kita. Ini kan privasi nggak boleh tahu. Sori kalau bicara keluarga saya nggak mau ngomong. Biar pun jatuhnya syiar, kalau saya nggak mau bicara so what. Apalagi jika yang dibicarakan jelek. Baik kalau nggak mau ya sudah," katanya singkat. (kpl/dis/bun)

"Kalau berbuka sih gampang. Dari sebulan puasa saja 22 hari saya buka di luar, ya di acara-acara yang saya bawakan," ujarnya saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Thamrin, belum lama ini.
Diakuinya, selain soal makanan kerepotan lainnya adalah tak ada orang yang membantu. Pasalnya empat bulan lalu Rico memberhentikan pembantunya lantaran berkelakuan kurang baik. "Kalau sahur kerepotan. Sebab baru empat bulan saya menyetop pembantu karena ada tindakan yang tidak baik, tak hanya di rumah tapi juga tetangga," katanya tanpa mau membicarakan masalah apa yang sebenarnya.
"Kalau diomongin nggak baik, kan sedang ibadah ya. Padahal dia sudah ikut lima tahun. Alhasil saya sendirian tanpa pembantu dan kelejotan. Dari sebulan sebelum puasa saya sudah mencari pembantu tapi tidak ada. Sahurnya kadang ibu datang bawa makanan, kebetulan jaraknya hanya lima kilometer, kadang adik yang bawa atau saya yang keluar cari makan. Atau saya beli makanan jam 9 dibungkus dulu terus nanti dihangatkan," sambungnya.
Untuk itu, kini laki-laki penggemar sepak bola ini masih terus mencari pengganti pembantu yang sudah bekerja selama lima tahun tersebut.
"Sampai sekarang masih cari pembantu dan titip ke teman yang pulang kampung. Kalau pun ada yang sekarang itu pembantu tetangga dan tiap tiga hari sekali ke rumah untuk beres-beres. Ya, pokoknya single fighter lah," pungkasnya lalu tertawa. (kpl/dis/boo)

Rico pun langsung masuk kamar dan menutup gorden lantaran tak ingin sinar mentari mengganggu. Kala itu jam menunjukan angka 4. Tak berapa lama, ia terbangun dan langsung minum air yang telah tersedia di kamar. Dipikir Rico cuaca sudah gelap. Namun setelah gorden terbuka dan melihat jam, ternyata angka berada di 5 lewat 30. Alhasil Rico kaget.
"Kalau minum tetap ngaku puasa sudah biasa waktu kecil. Tapi tahun lalu saya kelupaan. Waktu itu saya tidur jam empat. Karena silau, gorden ditutup dan biasanya kalau bangun tidur saya langsung minum air putih yang sudah disediakan," kenang Rico.
"Ketika terbangun kok gelap sekali, lantaran di luar cuaca gelap. Weker juga tumben nggak bunyi. Tanpa pikir lagi saya langsung menenggak air di gelas hingga setengahnya. Saya pikir sudah jam 8 atau jam 9, eh ternyata baru jam setengah enam. Itu saya tahu setelah menyalakan lampu. Mungkin saya kecapaian karena subuhnya saya ikut Sahur on The Road," urainya kepada KapanLagi.com di sebuah kafe di bilangan Thamrin, belum lama ini. (kpl/dis/boo)

"Mestinya tayangan berdampak pada masyarakat sepak bola, gila dan demam bola kian jadi. Banyak contoh diambil. Di sana stadion dan rumputnya sangat dekat sekali. Kebetulan gue dari 2003 sempat membawakan acara di Italia, gue lihat secara langsung kedewasaan penonton dengan tak melempar benda ke lapangan, itu bisa dicontoh, termasuk berantem antar penonton. Harusnya mendewasakan persepakbolaan nasional. Walau tayangan ini di TV berbayar semoga bisa berpengaruh tak hanya pada pecinta tapi juga persepakbolaan nasional. Yang bagus ikuti," katanya belum lama berselang.
Pembawa acara yang juga penyiar radio Mustang ini khawatir bila dalam waktu beberapa tahun belum ada perkembangan maka persepakbolaan tanah air bakal ketinggalan dari negara Asean lain.
"Iya, bahkan untuk ke final Tiger saja terengah-engah. Sea Games dulu lawan kita Thailand tapi sekarang lawan Singapura susahnya minta ampun, saya nggak tahu dua atau tiga tahun lagi kita bakal dilindas Laos, Brunei? Bukannya mengada-ada, polanya kenceng Singapura, Thailand tambah-tambah. Kayaknya super banget, padahal negara Asean juga," ucap mantan suami Sandrina Malakiano itu. (kpl/dis/npy)

Hal ini bukan tanpa alasan. Begitu pengakuan mantan suami Sandrina Malakiano tersebut saat ditemui usai menjadi salah satu nara sumber di media gathering Indovision di Manchester United Cafe, Selasa (1/9).
"BB (BlackBerry biasa disebut, red) terpaksa saya gunakan karena urgent. Untuk membalas soal pekerjaan. Misalnya ada produser TV yang sudah kirim rundown dan bisa langsung saya balas. Jadi bukan ikut-ikutan atau untuk gaya," ujarnya kepada KapanLagi.com.
Ditambahkan bahwa saat ini tak sedikit BB dipergunakan hanya sebagai gaya semata tanpa tahu apa manfaat yang dapat diperoleh. Ia juga menyayangkan anak kecil yang sudah diberikan BB.
"Ya kalau anak kelas 1 buat apa pakai BB? Mungkin kalau orang tuanya berhubungan dengan lifestyle nggak masalah. Ada baiknya memberikan sesuatu pada anak sesuai dengan kebutuhan," katanya lalu geleng-geleng. (kpl/dis/boo)

"Ya selain kecewa karena gue udah punya tiket dua, ya meskipun itu hadiah tapi sebenarnya yang bikin gue sedih itu tragedi bomnya, karena ini yang kedua kali," ungkap Gading saat ditemui acara Grand Opening Futsal Camp di RE Martadinata, Ciputat, Tangerang, Sabtu (18/7).
Bahkan Rico telah menguras koceknya demi menonton laga MU melawan Timnas All Star harus gigit jari kali ini. "Gue udah beli tiketnya 30. Itu dari yang harganya Rp150 ribu, Rp250 ribu sampai Rp1,5 juta (4 tiket)," jelasnya.
Rico menambahkan kekecewaan ini bukan hanya milik pecinta MU saja, namun seluruh pecinta sepak bola di Indonesia. "Gue yakin yang kecewa bukan cuma pecinta MU aja. Tapi semua pecinta sepak bola di tanah air ini karena gagalnya MU untuk datang ke sini. Karena sepengetahuan gue terakhir MU datang itu sekitar tahun 70-an. Itu kita-kita pada belum lahir."
Terkait tentang tiket yang sudah terlanjur dibelinya, mantan suami Sandrina Malakiano ini berniat menyimpannya sebagian untuk kenang-kenangan. "Kalau simpan semuanya nggak mungkin. Yang paling satu lah, kan pihak promotor juga memberikan kesempatan untuk mengembalikan tiket untuk diganti. Jadi satu paling gue sisain. Besok-besok gue nggak mau lagi kalo dititipin tiket pake duit sendiri. Takutnya kejadian kayak yang sekarang," pungkasnya. (kpl/hen/riz)