KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Untuk memperkecil peluang membajak karya-karya mereka, Kaka dkk membuat suatu sistem penjualan yang berbeda. Biasanya jika kebanyakan musisi menjual CD dan memberikan bonus, Slank justru sebaliknya. Mereka mengadakan promo dengan cara menjual T-Shirt, dan setiap orang yang membeli T-Shirt berhak mendapatkan album baru Slank bertajuk ANTHEM FOR THE BROKEN HEARTED.
"Cara penjualan ini merupakan salah satu bentuk kita untuk melawan pembajakan," ungkap Kaka saat disambangi di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, Senin (24/8), sambil menambahkan jika pembeli juga bisa mendapatkan VCD Slank World Tour 2008.
Dijelaskan Kaka, untuk album ANTHEM FOR THE BROKEN HEARTED dirilis dalam bahasa Inggris. Album ini dibuat sekitar satu tahun yang lalu, tepatnya bulan Juli sampai Agustus 2008, yang bertempat di Los Angeles, Amerika. Ada dua versi CD yang diluncurkan yakni berwarna merah untuk diedarkan di Amerika, sedangkan warna biru untuk kawasan Indonesia.
"Tidak ada arti lain, hanya untuk membedakan saja. Nantinya di negara-negara lain kemungkinan juga akan memakai warna beda," terang Bimbim. (kpl/hen/boo)

"Kita telah banyak dapat penghargaan. Memang kita akui penghargaan kita banyak di luar musik, karena dari awal kita sudah komit ngambil 4 unsur selain cinta, lingkungan hidup, anak muda dan feodalisme," ungkap Bimbim yang memiliki nama lengkap Bimo Setiawan Almachzumi itu.
Ditemui KapanLagi.com di Perpustakaan Nasional, Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (11/8), Bimbim yang datang bersama Kaka, Ridho, Ivanka, serta Abdee kemudian menjelaskan bahwa musik dan karya mereka memang tak pernah jauh dari kritik sosial dan situasi politik Indonesia.
"Kita memang tak hanya bermain di musik saja. Buktinya kita rekaman selalu 8 jam, dan 5 jamnya ngobrol serius sisanya baru rekaman, tapi kita sekarang fokus di korupsi yang kita tuangkan dalam lagu-lagu," ujar Kaka menambahkan.
Sementara itu, Bimbim kemudian menuturkan, jika penghargaan bergengsi tersebut tak akan pernah memberikan beban untuk Slank.
"Kita sih nggak merasa beban ya, soalnya kita memang bekerja di bidangnya masing-masing," tandas drummer berusia 41 tahun itu. (kpl/mai/bar)

Ridho melakukan fotografi karena suka saja. "Gue ngumpulin ini buat portfolio gue aja, dan kebetulan gue demen aja sama foto-foto panggung. Dapat hal-hal baru dan hal-hal yang berbeda," terang Ridho yang ditemui di konser Pussycat Dolls.
Ridho membawa dua kamera lantaran ingin melakukan tes. "Gue pengen ngetes aja. Tadi gue pikir bakal dapat speed atau ruang yang lumayan luas untuk ngambil gambar jadi gue bisa leluasa dengan dua kamera, tapi ternyata enggak," terangnya.
Kegemaran fotografi ini dimulai sejak sembilan bulan lalu, saat secara tak sengaja dia membeli kamera. "Baru, baru sembilan bulan. Penyebabnya waktu telat ke Amerika. Karena gue gak tau mau ngapain, akhirnya gue beli kamera aja, eh seakarang jadi malah ketagihan," ungkap Ridho yang mengaku mempertimbangkan menjadikan ini sebagai profesi. (kpl/hen/erl)

"Untuk bikin lagu buat film SEPULUH, gue ngobrol dulu sama Hendry (Hendry Handy, sutradara). Gue juga lihat scene-scene. Yang menarik di film ini adalah kasih sayang seorang ibu yang sangat menyentuh banget. Dia rela berkorban, memberikan organ tubuhnya untuk dua orang anak, akhirnya jadilah lagu Tak Ada Gantinya," terang Ipang kala ditemui di Cafe 3 Degree, Jakpus, Selasa (27/01).
Pembuatan suatu lagu bagi Ipang memang harus dari perasaan. Ia selalu meluangkan waktu untuk melihat skrip dan ngobrol dengan sutradara. Dan biar dapat sinerginya, Ipang tak tanggung-tanggung membawa keluarganya jalan-jalan keluar kota. "Dan itu sangat berarti banget buat gue, karena gue bisa ngerasain kasih sayang anak gue," ujar musisi yang pernah menolak tawaran pembuatan dua soundtrack film karena tidak ketemu konfliknya.
Dari catatan musikalitasnya, Ipang pernah menjadi vokalis di sebuah band bernama Plastik. Namun gara-gara ketertarikannya pada film JAMES BOND, di mana ia belajar menguatkan karakter dengan lagu, Ipang pun jadi ketagihan bikin theme song.
"Kalau pas nge-jam di band dengan orang yang itu-itu saja. Tapi ketika gue bikin lagu untuk film itu surprise banget. Karena gue bekerja sama dengan musisi seperti Addie MS, Aksan Suman (Wong Aksan), Ridho Hafidz (Ridho Slank). Itu yang buat gue ada keasyikan tersendiri," pungkasnya. (kpl/hen/boo)

"Alhamdulillah pada awal tahun ini kita dapat job gede. Dan setiap tahun kita selalu planning hidup kita. Yang pasti kita itu selalu punya misi bahwa setiap produk yang ditawarkan pada kita harus ada misinya. Tanpa ada misi, walau tawarannya besar, tidak akan kita ambil. Sebenernya kita juga banyak tawaran dari kompetitor dan tawarannya itu empat kali lebih besar tapi aku tolak karena nggak ada misinya," terang Bimbim yang dijumpai di acara preskon Yamaha Konvoi Cinta Damai Bersama Slank di Hard Rock Cafe, Jakarta, Kamis (22/1).
Dalam berkarir Slank tidak melulu menjalankan bisnis, tapi juga menyeimbangkannya dengan kegiatan sosial. "Yang penting ini adalah pembelajaran bisnis yang ada sifat sosialnya. Dan kita juga tidak banyak ambil produk dalam satu tahun. Kita ambil tiga saja dalam satu tahun. Yang pasti kita tidak cuma cari uang, tapi kita cari misi," kilah Bimbim.
Walau sudah meraih sukses besar dan jadi pemusik legendaris di tanah air, grup musik yang digawangi Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar) ini masih memiliki mimpi yang belum sempat mereka raih. "Mimpi kita itu cuman satu, pengen buat album dan video klip di Amerika. Mungkin musim summer kita berangkat," tambah Bimbim. (kpl/wwn/erl)

"Dari dulu Israel terkutuk dan ga kapok-kapok menyerang Palestina. Kami prihatin dengan kondisi ini," kata Bimbim sang penabuh drum Slank di sela konser Marlboro Filter Rocks in Orkestra di lapangan Lanud Iswahjudi, Sabtu (10/1) malam.
Menurut dia, dalam pertempuran yang merugikan moril dan materiil itu, Slank menyayangkan yang menjadi korban justru mayoritas anak-anak tidak berdosa.
"Kita percaya, segala sesuatu bisa diselesaikan dengan bicara," katanya didukung para personel Slank lainnya Kaka (vokal), Ivan (bas), Ridho dan Abdee (gitar)
Slank dan Slanker yang hadir dalam konser berharap perang yang melibatkan Israel dan Palestina di Jalur Gaza cepat selesai karena tidak bisa menyelesaikan masalah dengan perang, sebaliknya itu memperparah masalah.
Selain menghadirkan Slank, konser di Madiun ini juga menampilkan grup Andra & The Backbone dan The Brandals. Sebelum di Madiun, konser berlangsung di Jember (13/12), Malang (27/1) dan Kediri (3/1) dengan total penonton 72 ribu orang. (kpl/dar)

Grup musik yang digawangi oleh Bimbim, Kaka, Abdee, Ridho dan Ivanka menghentak warga Madiun dengan lagu pembuka Gara-Gara Kamu dan dilanjutkan dengan lagu hits Slank lainnya.
Dengan suara yang lantang, vokalis Slank, Kaka,mengajak seluruh Slankers (sebutan penggemar Slank) bernyanyi bersama. Pada konser yang disponsori salah satu rokok itu.
Slank menampilkan musik yang berbeda yaitu dengan orkestra.
"Apa kabar Madiun.. Yo opo kabare?" sapa Kaka dan disambut dengan suara lantang ribuan Slankers Madiun dan sekitarnya.
Lagu demi lagu yang dinyanyikan oleh Slank selalu diikuti oleh seluruh penonton sehingga mengakibatkan situasi memanas, namun demikian situasi tersebut bisa dikendalikan dengan baik.
Guna meredam situasi yang memanas, pihak pemadam kebakaran yang telah disiagakan menyemprotkan air kepada penonton. Hingga lagu terakhir Slank berakhir, konser berjalan lancar tanpa ada kericuhan.
Selama konser, Bimbim dan kawan-kawan juga menyajikan lagu romantis atau percintaan,persahabatan hingga mengenai tema yang sarat dengan kritik sosial dan semuanya dikemas dengan apik.
"Antusias masyarakat Madiun dalam mengapresiasi musik saat ini cukup tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan konser Slank tahun 2005 lalu. Kami salut dengan warga Madiun, " kata Kaka dengan tegas.
Kaka mengaku, suksesnya konser di Madiun diharapkan bisa menular pada tiga konser Slank selanjutnya. (kpl/npy)