KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
KapanLagi.com - Pemain: Sacha Baron Cohen, Alice Evans
Di tahun 2006 lalu Sacha Baron Cohen membuat geger seluruh dunia dengan mengusung salah satu alter egonya ke dalam film layar lebar lewat BORAT: CULTURAL LEARNINGS OF AMERICA FOR MAKE BENEFIT GLORIOUS NATION OF KAZAKHSTAN. Kini, dua tahun berselang, komedian asal Inggris ini kembali mengusung satu alter egonya yang bernama Bruno ke layar lebar.
Bruno (Sacha Baron Cohen) digambarkan sebagai seorang gay asal Austria yang bekerja sebagai presenter acara fashion show yang kontroversial. Sering kali ia 'menjebak' orang-orang yang ia wawancarai hingga membuat pernyataan yang kontroversial atau bahkan malah mempermalukan orang tersebut di muka umum.
Dalam acara DA ALI G SHOW, Bruno juga tak jarang 'memaksa' orang yang ia wawancarai untuk membuat pernyataan yang kontradiktif dengan apa yang mereka ucapkan sebelumnya. Kini, tokoh fiktif yang menggegerkan ini diusung ke format layar lebar dengan setting di Amerika Serikat. (kpl/roc)

KapanLagi.com - Pemain: Akshay Kumar, Deepika Padukone, Mithun Chakraborty, Ranvir Shorey
Sidhu (Akshay Kumar) adalah seorang pemuda yang tinggal di area Chandni Chowk di Delhi. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pembantu juru masak di sebuah restoran di sana. Suatu hari, dua orang yang datang dari negeri China datang membawa kabar yang akan mengubah hidup Sidhu selama ini.
Dua orang ini yakin bahwa Sidhu adalah reinkarnasi dari pendekar sakti dari jaman dulu yang ditakdirkan untuk menumpas kejahatan. Dua orang ini datang jauh-jauh dari China karena mereka mencari orang yang tepat untuk membantu mereka. Kebetulan di tempat tinggal mereka ada seorang pendekar sakti bernama Hojo (Gordon Liu) yang menindas warga di sana.
Dengan bantuan Chopstick (Ravnir Shorey), dua orang ini akhirnya berhasil meyakinkan Sidhu dan mengajaknya berangkat ke China untuk menumpas kejahatan. Berhasilkah Sidhu memenuhi ramalan dua orang ini dan menjadi pahlawan pemberantas kejahatan?
Setelah Hong Kong, kini giliran India yang jadi sasaran film Hollywood. Meski ini bukan pertama kalinya dunia barat menggarap film ber-setting, namun jaraknya yang tak terlalu jauh dari SLUMDOG MILLIONAIRE membuat film ini seolah mengisyaratkan bahwa Hollywood kini mulai melirik Bollywood. Sementara buat Warner Bros. Pictures, ini adalah film Bollywood kedua yang mereka garap. Konon, Warner Bros. mengedarkan film ini di lebih dari 120 teater di Amerika dan menjadi film Bollywood pertama yang diedarkan seluas itu.
Bagi pasar Amerika, film ini punya tantangan tersendiri lantaran pasar yang berbeda total. Pasar Amerika mungkin terbiasa menilai film dari kedekatannya dengan logika atau kenyataan. Kualitas film Hollywood ditentukan pada ketaatannya pada logika umum atau setidaknya logika yang dibuat oleh film itu sendiri. Hal yang sama tak bisa diterapkan pada film-film Asia atau lebih tepatnya film Bollywood.
Bagi penonton di Indonesia sendiri, film semacam ini mungkin tak terlalu asing karena pada dasarnya film Indonesia pun dibuat pada pijakan yang sama dengan film Bollywood atau film Hong Kong. Dan ini membuat film ini jadi lebih tepat untuk konsumen di Indonesia. Malahan untuk konsumen film Indonesia, CHANDNI CHOWK TO CHINA ini jadi terasa 'berbeda' lantaran memadukan tiga unsur dalam satu kemasan: Bollywood, Hong Kong sekaligus Hollywood.
Secara umum, film ini bisa dibagi menjadi dua bagian yang saling bertolak belakang. Bagian pertama menampilkan karakter Sidhu yang konyol dengan sentuhan lagu dan tarian ala film-film Bollywood. Di sini, karakter Sidhu mungkin bisa disebut perpaduan antara Adam Sandler dengan Sacha Baron Cohen. Pada bagian kedua, nuansa film berubah menjadi lebih suram dengan karakter Sidhu yang mulai berlatih Kung Fu dan berusaha mati-matian mengalahkan Hojo.
Dan untuk bagian kedua ini, para penggemar film-film mandarin akan dimanjakan dengan koreografi tarung yang cukup menarik. Jelas saja menarik lantaran penataan tarung film ini dipercayakan pada Huen Chiu-Ku yang juga ikut andil dalam pembuatan film-film sukses macam CROUCHING TIGER, HIDDEN DRAGON dan THE MATRIX.
Terlepas dari bagus atau tidaknya, film ini jadi semacam pembuktian bahwa dunia timur pun cukup layak bermain di dunia film internasional. Bisa jadi, langkah selanjutnya adalah film Indonesia yang berlaga di pentas internasional. Kita tunggu saja. (kpl/roc)