KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
KapanLagi.com - Pemain: Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro
Oleh: Fatchur Rochim
Sam Witwicky (Shia LaBeouf) mungkin tak mengira bakal terjebak dalam peperangan antara Autobots dan Decepticon. Namun ia tak bisa mengelak karena takdir membawanya menjadi sahabat para Autobots yang kehilangan planet mereka akibat keserakahan para Decepticon. Setelah kematian Megatron, Sam tak mengira bahwa peperangan masih akan berlanjut.
Starscream (Charlie Adler) yang berhasil mencapai Cybertron kemudian mengambil alih tampuk kepemimpinan dan memutuskan untuk kembali ke bumi untuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas. Tubuh Megatron (Hugo Weaving) yang semula dikira sudah mati ternyata dapat dibangkitkan lagi dan kini Autobots yang memutuskan tinggal di bumi menghadapi masalah baru.
Megatron dan Starscream menginginkan para Autobots dan seluruh penghuni musnah dan mereka tak main-main soal yang satu ini. Sepasukan Decepticon dikirim ke bumi untuk tugas penghancuran ini. Mampukah Autobots membela diri sekaligus melindungi Sam dan seluruh penghuni bumi yang kini bergantung pada mereka?
Tak seperti pada bagian pertama yang dirilis tahun 2007, Hasbro sebagai pemilik nama Transformers memutuskan untuk lebih ikut campur dalam soal desain robot Transformers. Dana sebesar US$200 juta pun dikucurkan untuk memastikan bahwa film ini akan lebih bagus dari bagian pertamanya. Hasilnya, Michael Bay sanggup menggunakan pesawat F-16 dan tank sungguhan dalam proses syuting film ini.
Tim lama pun kembali direkrut agar sekuel ini lebih bisa membawa roh dari film pertama. Steve Jablonsky tetap memegang posisi komposer sementara Linkin Park juga ikut menyumbangkan satu lagu untuk film ini. Para pemeran lama pun tetap dipertahankan, mengingat film ini benar-benar adalah kelanjutan dari film pertama.
Secara keseluruhan, sajian visual film ini memang memuaskan. Tak heran juga jika mengingat dana yang telah dikeluarkan untuk memproduksi film ini. Jumlah robot jelas jauh lebih banyak dengan tampilan yang benar-benar terlihat hidup. Itu semua jelas tak lepas dari campur tangan Scott Farrar, sang visual effects supervisor, yang juga menggarap film pertamanya.
Meski para robot itu adalah hasil permainan animasi komputer, namun di tangan Ben Seresin, hasil syuting dan animasi itu berhasil disatukan tanpa ada cacat yang terlihat. Fokus Michael Bay, sang sutradara, kali ini sepertinya adalah membuat tontonan yang benar-benar memanjakan mata dan itu terlihat dari semakin banyaknya aksi laga yang di sisi lain juga mengurangi kuantitas pamer akting para pendukungnya.
Secara umum, Shia LaBeouf dan Megan Fox cukup mampu membawakan peran mereka walaupun hasilnya tak akan membuahkan piala Oscar buat mereka. Kebanyakan kritikus film pun membantai habis-habisan film ini karena dianggap tak sebanding dengan film pertamanya dulu. Namun terlepas dari semua kritik itu, pihak studio sepertinya masih optimis dapat mengeruk banyak keuntungan, terbukti dengan rencana sekuel yang sudah mereka umumkan bahkan sebelum pembuatan film ini selesai.
(kpl/roc)
![]() | ![]() | ![]() |

KapanLagi.com - Pemain: Shia LaBeouf, Michelle Monaghan, Rosario Dawson, Billy Bob Thornton
Setelah lama pergi dari rumah, Jerry Shaw (Shia LaBeouf) akhirnya pulang juga setelah mendengar kabar bahwa saudara kembarnya meninggal dunia. Sesampainya di rumah, Jerry menyadari bahwa ada yang tidak wajar dengan kematian saudara kembarnya itu.
Jerry yang mencoba mencari tahu sebab kematian misterius ini kemudian bertemu dengan Rachel Holloman (Michelle Monaghan) yang waktu itu sedang mencari anaknya yang hilang. Dalam penyelidikan itu, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka sedang dijebak.
Ada pihak yang berusaha menjebak mereka untuk menjadi bagian dari kelompok yang sedang merencanakan pembunuhan terhadap seorang tokoh politik.
Salah satu unsur yang membuat sebuah film menjadi bagus adalah adanya sebuah keterikatan dengan logika, baik logika umum maupun logika yang dibangun dalam film itu sendiri. Dengan ada unsur itu, setidaknya film itu bisa diterima akal dan tidak membuat penonton menjadi merasa dianggap bodoh oleh sang sutradara.
Celakanya, itulah yang tak dimiliki film ini. Banyak adegan dan alur cerita yang membuat penonton jadi merasa dianggap bodoh. Unsur 'kebetulan' memang masih bisa diterima, namun bila itu sudah terlalu sering, maka yang terasa adalah ketidaksesuaian dengan logika. Hal yang sama sering kali kita dapatkan pada film-film serial televisi jaman dulu.
Dalam film ini kedua tokoh pemeran utamanya, sama sekali tak memiliki latar belakang militer atau sejenisnya yang membuat mereka mampu melakukan apa yang mereka lakukan dalam adegan tersebut. Ini membuat jalan cerita jadi terasa janggal. Keduanya adalah orang awam, namun di sisi lain, mereka mampu melewati semua rintangan yang mereka hadapi dengan mudah layaknya seorang profesional. Di satu sisi ini membuat sang sutradara lebih 'bebas' mengumbar aksi laga, namun di sisi lain ini membuat 'ketegangan' jadi berkurang lantaran ada jaminan bahwa sang tokoh pasti dapat 'lolos' dari ujian.
Bisa disimpulkan bahwa menu utama film ini adalah aksi laga, mobil meledak, acara saling tembak, berusaha meloloskan diri dari kejaran musuh dan lain sebagainya. Namun untuk dibandingkan dengan film laga sejenis, film ini juga tak bisa disebut istimewa. Beberapa film dengan genre sama seperti trilogi BOURNE mungkin masih lebih bagus. Ini cukup disayangkan karena Shia LaBeouf dan Michelle Monaghan sebenarnya punya potensi akting yang bagus dan itu semua tak bisa mereka tampilkan di sini. Kita bahkan hampir tak diberi kesempatan untuk menilai kemampuan akting mereka, karena banyaknya aksi laga. Bagi yang sempat terpesona dengan akting Shia LaBeouf dan Michelle Monaghan dalam film-film sebelumnya, Anda tak akan mendapatkan kepuasan yang sama dengan menonton film ini.
Satu yang bisa menjadi nilai lebih film ini mungkin adalah 'pesan' yang ingin disampaikan. Pesan bagaimana teknologi canggih bisa mengambil alih 'kehidupan' manusia. Tak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari 'mata' pemerintah. Pesan yang sama mungkin sempat disampaikan film THE NET yang dibintangi Sandra Bullock. Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, film ini cukup bisa dijadikan alternatif hiburan yang tak terlalu membebani pikiran. (kpl/roc)