< >

ARTIKEL SLANK


Bom Kuningan di Mata Selebritis (1)

KapanLagi.com - Jumat, 17 Juni 2009 lalu menjadi sejarah memilukan bagi Ibukota Jakarta. Sebuah ledakan bom yang terjadi di dua hotel besar, JW Marriott dan Ritz Carlton yang ada di kawasan Mega Kuningan mengusik ketenangan. Ledakkan low explosive yang terjadi sekitar pukul 07.45 WIB di Restoran Airlangga, Hotel Ritz Carlton, disusul ledakan kedua pukul 07.47 WIB di Restoran Syailendra Hotel JW Marriott, menciptakan dampak luas bagi suasana kestabilan Indonesia.

Hujatan datang dari banyak kalangan yang ditujukan kepada para pelaku bom bunuh diri, berikut jaringannya. Karena akibat tindakan arogan itu dampak yang ditimbulkan cukup luas, baik secara kemanusiaan, hingga sektor bisnis yang secara langsung merasakan akibatnya.

Sembilan jiwa menjadi korban termasuk para pelaku, dan puluhan orang mengalami luka akibat mur yang sengaja dipasang di dalam bom, juga luka-luka akibat pecahan kaca. Sedangkan secara ekonomi, meski belum ada survey terkait kerugian secara materi, namun dapat dipastikan efek lanjutan dari peristiwa ini merugikan dunia bisnis Tanah Air.

Nada kutukan datang dari Puteri Indonesia Nadine Chandrawinata yang menyebut ledakan itu sebagai tindakan terkutuk dan biadab. Meski tidak mengetahui secara pasti motif pelaku, namun apapun yang dilakukan merupakan tindakan yang patut dikecam. Apalagi hingga mempertaruhkan nyawa manusia sebagai martir.

Lebih keras lagi kalimat kutukan dari artis Vicky Nitinegoro yang menyebut pelaku tidak punya otak dan sakit. Meledakkan negeri sendiri adalah sebuah kebodohan yang sulit diterima oleh nalar, manusia yang tidak menginginkan ketenangan dan perdamaian. Gading Marten dan Eza Yayang pun menyebut sebagai tindakan orang yang sakit jiwa.

Rasa sakit pun dipoles secara kreatif oleh grup musik Slank, melalui vokalisnya Kaka. Saat tampil di ajang Anugerah Muzik 2009 yang disiarkan di tiga Negara, Indonesia, Singapura dan Malaysia di JCC, Senayan, pria gondrong ini membuka celana jeans dan menunjukkan tulisan Bombers Kiss My di celana kolornya. Bagi Slank, ini sebuah bentuk 'apresiasi' yang layak diterima oleh para pelaku kriminal, walau sebenarnya jauh dari kata cukup, dibanding kerusakan yang diakibatkannya.

Dari sisi refleksi artis Vina Panduwinata menganggap ini sebuah 'kecolongan', karena setelah sekian lama Indonesia tenang dari tingkah arogansi para teroris. Padahal Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton sendiri saat itu tengah dipersiapkan sebagai lokasi menginap para pemain klub sepak bola dunia, Manchester United (MU) yang akan bertanding dengan klub nasional.

Meski menganggap sebuah keteledoran, namun pelantun Burung Camar itu tidak bermaksud menyalahkan siapa pun. Karena pihak keamanan hotel dan kepolisian telah bekerja keras mengamankan Jakarta, dalam rangkaian pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang juga sempat dicurigai sebagai pemicu pengeboman ini. Mama Ina, demikian biasa dipanggil, melihat aksi teroris ini merupakan rangkaian tindakan yang profesional dan terstruktur.

Dampak langsung dari peristiwa ini dirasakan oleh produser Nia Dinata yang saat itu tengah menyiapkan event KidsFfest Indonesia 2009. Akibat tragedi tersebut partner kerjanya, Eramus Huis yaitu sebuah lembaga kebudayaan Belanda menarik dukungan dari festival yang diikuti oleh 25 film anak-anak internasional itu.

Begitu pun dengan promotor Adrie Subono yang saat kejadian sedang berada di Amerika Serikat untuk sebuah negosiasi dengan artis internasional, yang akan tampil di Indonesia. Promotor show kelas internasional itu mengaku khawatir dengan diterapkannya kembali travel warming bagi Indonesia oleh negara-negara besar, yang tentu berdampak mempersulit negoisasinya.

Lebih jauh lagi, kekecewaan datang dari para pecinta sepak bola yang sudah sekian waktu menunggu pertandingan Tim MU dan tim nasional. Penyanyi solo Afgan Syah Reza yang telah mengantongi tiket, dengan kecewa harus gagal menyaksikan pertandingan yang baru pertama terjadi itu. Padahal jauh hari pria berkaca mata ini telah membatalkan sejumlah jadwal konsernya. Sebagai obat kekecewaan dirinya memilih menyimpan tiket yang terlanjur dibelinya sebagai kenangan, meski panitia mengganti pembelian.

Kemarahan juga spontan muncul di muka Rico Ceper, Eza Yayang dan Gading Marten yang mengaku kecewa berat dengan pembatalan tim kebanggaannya itu. Tiga pria pecinta sepak bola itu mewakili kekecewaan ribuan penggemar bola, di tengah suasana industri olah raga yang terus menggeliat. Bahkan Gading pun, harus menerima pembatalan kontrak sepihak dari sebuah produk yang menggunakan dirinya, begitu pun Donna Agnesia dan Rico yang batal menjadi MC Pre-Gathering Manchester United.

Serangkaian pendapat selebritis di atas bisa menjadi potret kekecewaan masyarakat yang sesungguhnya secara jumlah jauh dari mewakili. Lebih banyak lagi lapisan masyarakat lain, hanya bisa nyinyir menyaksikan darah tercecer melalui siaran televisi, sambil menarik nafas sesak. Tentu doa mereka, berharap pelakunya segera tertangkap serta diproses secara hukum.

Selama proses mengungkap dalang dan jaringan pelaku bom, spirit untuk selalu waspada dan tetap bangkit, juga menjadi himbauan para selebritis. Tak seharusnya trauma ketakutan terus disimpan, hingga menjadi momok setiap aktivitas. Bahkan Giring Nidji dengan lantang mengatakan bahwa tidak takut menghadapi teror. Laiknya godaan setan, jika kita takut maka setan akan tertawa. (kpl/dar)


Lihat profil: Nadine Chandrawinata, Vicky Nitinegoro, Arie Untung, Afgan Syah Reza, Vina Panduwinata, Slank
Diposting oleh: Editor | Sabtu, 25-07-2009 |

'GENERASI BIRU' Menuju Pulau Kedamaian

KapanLagi.com - Kiprah Slank di panggung musik tanah air memang bukan main-main. 25 tahun malang-melintang di percaturan dunia musik menjadikan grup musik dari Gang Potlot ini patut disebut legendaris musik. Untuk itulah Garin Nugroho mengangkat Slank ke dalam sebuah film musikal bertajuk GENERASI BIRU. Dikisahkan bagaimana Slank bertemu dengan karakter yang pernah mengalami kekerasan di dunia politik, narkoba dan cinta.

Bimbim, Kaka, Ivanka, Ridho dan Abdee mendapatkan kisah masing-masing di sini. Bimbim dikisahkan bertemu dengan seorang anak yang mengalami trauma akibat orang tuanya yang diculik. Kaka mengalami kisah cinta dengan bertemu Nadine. Sedang Ivanka dan Ridho bertemu dengan manusia binatang, yang di masa lalunya pernah disiksa layaknya binatang. Abdee bertemu seorang ibu yang mengalami masa lalu pahit dengan anak-anaknya yang diculik semasa reformasi.

Pada kisah Slank mencoba melawan semua bentuk kekerasan yang membawa trauma itu. Lalu mereka menuju sebuah pulau biru, tempat di mana kehidupan yang damai berada. (kpl/erl)


Lihat profil: Garin Nugroho, Slank, Bimbim Slank, Kaka Slank, Ivanka Slank, Ridho Slank
Diposting oleh: Editor | Jumat, 20-02-2009 |

«1»