< >

BLOG SUJIWO TEJO


Sujiwo Tejo Gaet Seniman Muda di 'DONGENG CINTA KONTEMPORER II'

Kapanlagi.com - Dalam rangka pementasan DONGENG CINTA KONTEMPORER II yang bakal digelar pada 13-14 November, Sujiwo Tejo bakal melibatkan paduan suara mahasiswa dari Universitas Parahiyangan.

Seniman asal Jember ini ingin mengajak generasi muda agar lebih mencintai budaya bangsa. "Selayaknya anak muda selalu bisa tertarik dengan warisan budaya tanah air. Soalnya sekarang jarang sekali anak muda yang gak tau kalau wayang itu bisa dimodernkan, image-nya wayang itu masih kuno, lambat dan bahasanya ya seperti itu," jelasnya ketika ditemui dalam preskon DONGENG CINTA KONTEMPORER II di Omah Sendok, Blok S, Jaksel, Jumat (06/11).

"Kami selalu percaya kalau wayang itu bisa dikolaborasi dengan bidang yang lain, wayang juga bisa disajikan dengan bahasa Indonesia," tambah mantan wartawan ini.

Demi mengajak generasi muda mencintai budaya bangsa, Sujiwo menggaet seniman-seniman muda dalam pementasannya kali ini. Ia juga mengajak penyanyi dengan musik hibrida, Anda, yang telah menelurkan album IN MEDIO serta pianis muda, Marusya Nainggolan untuk berkolaborasi bersamanya.

"Kebanyakan seniman beranggapan kalau wayang itu gak boleh diapa-apain, bagi saya wayang pakem itu gak ada, wayang juga telah mengalami proses. Sekarang zamannya anak band atau paduan suara ya juga harus bisa berkolaborasi dengan mereka," pungkasnya ketika ditanya alasan mengapa berkolaborasi dengan generasi muda.    (kpl/ato/riz)


Lihat profil: Sujiwo Tejo
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Sabtu, 07-11-2009 |

Sujiwo Tejo Mendongeng Tentang Cinta Untuk Masyarakat

Kapanlagi.com - Sukses menyelenggarakan pementasan DONGENG CINTA KONTEMPORER I, Sujiwo Tejo kembali dengan berkolaborasi bersama 40 pemain yang terbagi dalam kelompok teater, paduan suara, pemain musik, penari, dan lain-lain. Selama 90 menit, mereka semua akan berbagi optimisme tentang kemurnian cinta kepada masyarakat Indonesia melalui pementasan DONGENG CINTA KONTEMPORER II bertajuk Kasmaran Tak Bertanda.

Pementasan ini sendiri akan digelar pada 13-14 November mendatang di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan wayang kontemporer yang merupakan gabungan dari seni wayang, seni tari, dan seni teater ini sendiri juga sebagai wujud dukungan terhadap keputusan UNESCO yang menetapkan wayang sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

"Saya menghadirkan DONGENG CINTA ini dengan memberikan muatan kontekstual dan menyuguhkan pertunjukan wayang dalam sensibilitas kontemporer. Ini sebagai salah satu strategi untuk membuat seni pertunjukan wayang menjadi lebih menarik dinikmati terutama generasi muda," ungkap Sujiwo Tejo dalam preskon DONGENG CINTA KONTEMPORER II di Omah Sendok, Blok S, Jaksel, Jumat (06/11) kemarin.

Melalui pementasan ini sendiri, Sujiwo ingin berbagi tentang optimisme kemurnian cinta dan hal-hal lain yang ada di dalamnya.

"Kasmaran atau cinta bukan saja tak bertanda, tapi bisa mengisyaratkan tanda sebaliknya, yaitu dendam. Saya akan mendongeng tentang cinta yang inklusif. Di sini akan tetap pakai wayang purwa, tapi belakangnya akan ada layar multimedia raksasa, ada bandnya dan paduan suara," tambah dalang terkenal ini.    (kpl/ato/npy)


Lihat profil: Sujiwo Tejo
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Sabtu, 07-11-2009 |

Sujiwo Tejo Bertekad Lestarikan Pertunjukan Wayang

Kapanlagi.com - Seniman Indonesia, Sujiwo Tejo, ternyata mengaku ingin melestarikan tradisi pewayangan melalui pementasan karya seni. Salah satunya berupa dongeng cinta kontemporer dan drama musikal wayang kontemporer.

Pihak penyelenggara dari BW Communications, Ida Bayuni, di Jakarta, Kamis (5/11) mengatakan, pementasan karya seni tersebut akan berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Jumat, 6 November 2009 pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Ida menjelaskan, Sujiwo Tejo bersama beberapa seniman pendukung termasuk paduan suara dari Universitas Parahyangan berkolaborasi untuk menghadirkan wayang eksperimental dan sudah mengakomodasi kebudayaan modern.

"Para penonton akan mendapatkan suguhan pementasan seni yang lengkap dalam dongeng cinta kontemporer dan drama musikal wayang kontemporer ini," ujar Ida.

Ia juga menambahkan, pementasan karya seni tersebut merupakan aktualisasi dari keinginan Sujiwo Tejo untuk berpartisipasi dalam usaha melestarikan dan mengembangkan tradisi pewayangan di Indonesia.

"Sujiwo ingin melestarikan wayang tradisional di tengah membanjirnya kebudayaan modern, agar kesenian asli Indonesia tidak terlupakan," terangnya.

Sementara itu, pertunjukan wayang pada saat ini memang sedang menghadapi kesulitan untuk bisa menarik banyak penonton.

"Karena itu, Sujiwo Tejo, ingin menghadirkan pertunjukan yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Indonesia yang ingin turut mengapresiasi, dan mencintai serta menikmati seni budaya asli Indonesia," pungkas Ida.  (ant/bar)


Lihat profil: Sujiwo Tejo
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 05-11-2009 |

Sujiwo Tejo Jadi Sutradara

Kapanlagi.com - Sujiwo Tejo, penulis, dalang, aktor, musisi dan penyanyi untuk pertama kalinya menjadi sutradara film, dengan menggarap kisah BAHWA CINTA ITU ADA.

"Ini memang pertama kali bagi saya," kata seniman yang pernah bekerja sebagai wartawan sebuah harian nasional itu dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (3/11).

Ia juga mengatakan bahwa film adalah produk seni, sehingga keterlibatannya sebagai sutradara bukan hal luar biasa.

Diproduksi Ganesha Creative Industry Group, film BAHWA CINTA ITU ADA dengan subjudul '3G, Gading Gading Ganesha' tersebut diangkat dari cerita novel berjudul sama, menghadirkan Rizky Hanggono dan Eva Asmarani sebagai pemeran utama.

Film ini mengisahkan perjalanan hidup enam mahasiswa teknik tahun 1980-an, yang bertemu kembali pada 1990-an dalam satu proyek merintis pertambangan batubara dalam di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sebagai sebuah film yang banyak mengangkat kekayaan seni budaya dan pariwisata, BAHWA CINTA ITU ADA tidak melupakan unsur cerita asmara, dengan menyuguhkan hubungan di antara seorang wanita dan lima pria yang sama memiliki perasaan khusus terhadapnya.

"Aku diperebutkan lima orang pria," kata Eva, yang memerankan sosok Ria, si mahasiswa cantik.

Selain Eva Asmarani dan Rizky Hanggono, film berdurasi 100 menit ini juga didukung Dennis Adishwara, Alex Abbad, Restu Sinaga, dan sejumlah bintang senior termasuk Niniek L. Karim, Nurul Arifin, dan Slamet Raharjo.

Menurut jadwal, BAHWA CINTA ITU ADA akan beredar di seluruh bioskop nasional pada awal 2010.  (ant/bun)


Lihat profil: Sujiwo Tejo, Rizky Hanggono, Dennis Adishwara, Alex Abbad, Restu Sinaga, Nurul Arifin
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 04-11-2009 |

Dennis Adishwara Enggan Disebut Komedian

Kapanlagi.com - Dennis Adishwara berusaha keras mempelajari bahasa Sunda. Hal itu dilakukannya demi peran yang ia lakoni dalam film BAHWA CINTA ITU ADA. Walau susah payah, karena ia logat Jawanya masih kental, ia akhirnya berhasil juga.

"Di film ini aku menjadi Bunbun, orang Sunda yang punya logat medok banget, Sunda zaman dulu. Jadi aku harus belajar bahasa Sunda, sedangkan aku susah banget belajar bahasa Sunda karena logat Jawaku masih kentara. Akhirnya aku didatangi guru khusus sama mas (Sujiwo) Tejo untuk melatih dan cengkok Sundanya. Bahasa aku di-upgrade lagi," paparnya di Planet Hollywood, saat syukuran usai syuting Film BAHWA CINTA ITU ADA, Selasa (3/11).

Tentang film tersebut, Dennis menjelaskan bahwa genrenya adalah drama yang dibumbui dengan komedi. "Film ini ada komediannya, walaupun aku sendiri gak mau kepentok dengan komedi. Tantangannya di film ini aku harus membuat penonton menangis dan langsung ketawa, jadi gak bisa satu take saja," paparnya.

Lebih lanjut pria kelahiran Malang, Jawa Timur, itu berkisah tentang bagaimana caranya agar bisa menjiwai aktingnya.

"Di HP aku ada folder khusus dengan istriku yang lagi lucu-lucuan. Jadi apa yang kita lewati bersama ada kejadian lucu kita abadikan, termasuk ada foto anjingku yang pakai celana itu lucu banget. Dan juga di HP itu ada folder yang membuat sedih, dengan melihat HP aku bisa sedih, semangat dan juga ketawa ngakak," ujarnya.

Dan walau mampu berakting lucu, namun Dennis enggan disebut aktris spesialis komedian. Apalagi hingga imej itu melekat pada dirinya.

"Aku gak mau, makanya aku mencoba mengasah kebisaan aku untuk akting yang lain dengan cara aku tidak hanya menunggu job, tapi mencoba membuat film pendek sendiri yang bisa bebas untuk berekspresi dan menentukan karakter sendiri," pungkasnya.   (kpl/wwn/bun)


Lihat profil: Dennis Adishwara, Sujiwo Tejo
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 04-11-2009 |

'HARIMAU YANG LAPAR,' Pelecut Semangat Anak Bangsa

Kapanlagi.com - Film bergenre dokumenter berjudul HUNGRY IS THE TIGER (HARIMAU YANG LAPAR) terpilih untuk diputar di Asiatica Film Mediale, festival film bergengsi yang dilangsungkan di Roma, Italia.

Produser Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta, Selasa (27/10) mengatakan, film itu produksi berkualitas internasional hasil kerja sama tim gabungan dari Indonesia dan dari luar negeri.

"Ini adalah prestasi yang membanggakan bagi industri kreatif Indonesia sekaligus pelecut semangat anak bangsa untuk terus mempersembahkan karya-karya Indonesia terbaik ke dunia internasional," kata Hashim Djojohadikusumo yang memproduseri film dokumenter tersebut melalui PT Media Desa Indonesia, perilis film drama perjuangan MERAH PUTIH.

Film dokumenter yang melibatkan Christine Hakim sebagai narator dan Sujiwo Tejo sebagai dalang di dalamnya itu bercerita tentang krisis pangan dunia, kelaparan, dan kekurangan gizi dengan latar belakang wilayah Gujarat dan Rajasthan di India serta sejumlah daerah di Jawa, Bali dan Sumba, Indonesia.

Film tersebut akan dipertunjukkan pada 1 dan 2 November pada perhelatan festival film Asiatica Film Mediale di Roma, Italia. Sementara itu, di Indonesia sendiri, premiere film ini rencananya akan digelar pada 7 Januari mendatang di Jakarta.  

"Saya ingin mempersembahkan suatu ide. Bagaimana dengan teknologi yang sederhana, soal susu sapi itu bukan ilmu roket, tapi ilmu yang sudah lama dan sangat tradisional. Dan melalui film ini, nanti tanggal 7 bisa nonton film ini lengkap, di situ kelihatan bahwa lewat susu bukan hanya bisa meningkatkan gizi kepada anak-anak yang miskin di perkotaan dan pedesaan, tapi juga memberdayakan kaum ibu karena ini yang pernah diberdayakan di India," tambah Hashim.

"Ibu-ibu menjadi pemilik modal, modal berupa sapi, harta dan aset bagi para petani. Melalui itu kaum ibu bisa menghidupi anak-anaknya dengan susu dan bisa menjadi pedagang. Jadi, aspek gizi dan pemberdayaan kaum ibu/wanita di pedesaan untuk menjadi orang-orang yang lebih bagus dan meningkat," pungkasnya.   (kpl/gum/npy)


Lihat profil: Christine Hakim, Sujiwo Tejo
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 28-10-2009 |

Dokumenter 'HUNGRY IS THE TIGER' Diputar di Italia

Kapanlagi.com - Film dokumenter berjudul HUNGRY IS THE TIGER (Harimau yang lapar, red) terpilih untuk diputar di Asiatica Film Mediale, sebuah festival film bergengsi yang berlangsung di Roma, Italia.

Produser Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta, Selasa (27/10) mengatakan, film itu produksi berkualitas internasional hasil kerja sama tim gabungan dari Indonesia dan luar negeri.

"Ini adalah prestasi yang membanggakan bagi industri kreatif Indonesia sekaligus pelecut semangat anak bangsa untuk terus mempersembahkan karya-karya Indonesia terbaik ke dunia Internasional," kata Hashim Djojohadikusumo yang memproduseri film dokumenter tersebut melalui PT Media Desa Indonesia, perilis film drama perjuangan MERAH PUTIH itu.

Film dokumenter yang melibatkan Christine Hakim dan Sujiwo Tejo di dalamnya itu bercerita tentang krisis pangan dunia, kelaparan, dan kekurangan gizi dengan latar belakang wilayah Gujarat dan Rajasthan di India serta sejumlah daerah di Jawa, Bali dan Sumba, Indonesia.

Sinematografi karya Yadi Sugandi menggambarkan Asia Selatan yang hancur oleh serangkaian krisis keuangan, jatuhnya harga komoditi dan kekurangan pangan.

Film tersebut juga menggambarkan betapa negara Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam namun sebagian penduduknya masih miskin dan sulit mendapatkan bahan makanan pokok.

"Dalam film ini kami bukan hanya menggambarkan soal krisis pangan dunia, kekurangan gizi, serta kelaparan namun menawarkan solusi atas permasalahan tersebut," kata kakak kandung Prabowo Subianto itu.

Ia menyebutkan, solusi yang ditawarkan dalam film itu adalah bagaimana mengembangkan peternakan sapi yang dianggap bisa menjadi jalan keluar untuk mengatasi kekurangan gizi karena bisa menghasilkan susu sekaligus untuk mengembangkan perekonomian masyarakat petani.

Film tersebut akan dipertunjukkan pada 1 dan 2 November pada perhelatan festival film Asiatica Film Mediale di Roma, Italia.

Festival tersebut mempersembahkan film-film asia terbaik serta menyelenggarakan beberapa seminar dan kelompok diskusi yang membahas berbagai masalah ekonomi, politik dan keuangan di Asia dan bagian dunia lainnya.

Pemutaran HUNGRY IS THE TIGER ini juga merupakan pembuka bagi World Food Summit yang diselenggarakan oleh PBB pada 16 hingga 18 November di kota yang sama sebagai wadah dari berbagai organisasi yang membahas mengenai krisis kelaparan dunia.   (kpl/dar)


Lihat profil: Christine Hakim, Sujiwo Tejo, Yadi Sugandi
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 28-10-2009 |

«123»

LIHAT ARSIP BERITA SUJIWO TEJO TAHUN 2008
LIHAT ARSIP BERITA SUJIWO TEJO TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA SUJIWO TEJO TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA SUJIWO TEJO TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA SUJIWO TEJO TAHUN 2004