< >

BLOG SYAHARANI


Syaharani Suka Jazz Karena Fleksibel

Kapanlagi.com - Mungkin banyak orang yang berpikiran jika musik jazz hanya diminati orang-orang tertentu saja. Musik yang mengandalkan alunan untuk bersantai itu memang jarang didapati di tempat umum, kecuali cafe atau acara musik tertentu. Namun, semua itu ditanggapi berbeda oleh penyanyi jazz Syaharani.

Menurut wanita kelahiran 21 Juli 1971 itu, dirinya tertarik dengan musik jazz karena musik jazz bisa dikembangkan secara lebih luas dan bersifat fleksibel, sehingga tidak terkesan monoton.

"Bahkan, penampilan di panggung bisa sangat berbeda dengan waktu latihan atau hasil rekaman yang sudah menjadi album, sebab permainan di panggung penuh dengan improvisasi," katanya usai Jazzy Lounge with Syaharani and The Queenfireworks di Hotel Ciputra, Semarang, Kamis (19/11) malam.

Sementara itu, gitaris The Queenfireworks, Donny Suhendra menambahkan bahwa hal paling penting dalam bermain musik jazz adalah interaksi yang terjalin antar pemain saat di panggung dan interaksi dengan penonton.

"Penonton harus mampu menangkap pesan yang terkandung dalam lagu yang dinyanyikan, sebab percuma saja kalau penonton tidak mampu menangkapnya," kata Donny yang juga gitaris Krakatau Band itu.   (ant/boo)


Lihat profil: Syaharani
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Jumat, 20-11-2009 |

Syaharani and The Queenfireworks Andalkan Keunikan Jazz

Kapanlagi.com - Beragamnya aliran jazz membuat Syaharani punya pemikiran baru. Ia menilai musik jazz bagaikan lukisan yang terdiri dari berbagai macam sudut pandang, antara lain naturalis dan abstrak.

"Seperti halnya musik jazz, ada modern jazz, pop jazz, atau live jazz," katanya usai Jazzy Lounge with Syaharani and The Queenfireworks di Hotel Ciputra Semarang, Kamis (19/11) malam.

Dalam penampilannya tersebut, Syaharani yang baru satu kali menelurkan album bersama The Queenfireworks itu mencoba membuai penonton dengan merdunya alunan lagu yang dilantunkannya.

Ia mencoba memanaskan suasana dengan lagu pertama berjudul Delight of Love diiringi petikan gitar Donny Suhendra, betotan bass Kristian Dharma, dan gebukan drum Sirhan Muhammad. Tak ketinggalan, Trias Fajar yang memegang keyboard juga mencoba membuat suasana lebih hidup dengan permainan musiknya tanpa menghilangkan kesan santai yang ingin ditonjolkan.

Syaharani mengatakan, dalam penampilannya kali ini memang ingin menghadirkan kesan santai, sesuai dengan konsep album kedua Syaharani and The Queenfireworks yang akan segera diluncurkan. "Saya telah mengeluarkan sebanyak empat album, tiga album pertama adalah solo, sementara album keempat bersama The Queenfireworks dan masing-masing memiliki konsep berbeda," katanya.

Dalam album solo kedua Syaharani yang bertajuk MAGMA, konsep yang disajikan adalah nuansa kontemplatif, sedangkan dalam album bersama The Queenfirework ingin mencoba menghadirkan kesan ceria. "Pemusik akan jenuh ketika harus membuat album dengan warna dan nuansa yang sama, misalnya pemusik jazz yang sering menyanyikan bossanova, sekali-kali ganti pop jazz," katanya.

Ia mengaku, dalam Syaharani and The Queenfireworks semua personel memang dibebaskan bermain sesuai gaya dan warna musik yang dimiliki masing-masing dan perpaduan musik berjalan secara alami. "Itulah uniknya musik jazz, semua ide yang dimiliki oleh masing-masing personel langsung dipadukan lewat improvisasi di atas panggung, namun perpaduan itu tetap harus berjalan harmonis," katanya.

Selain Delight of Love, lagu-lagu lain yang dinyanyikan Syaharani and The Queenfireworks di antaranya berjudul Mungkin, Love, Anytime, Tersiksa Lagi, Kiranya, dan Loving You. Para penonton yang rata-rata berusia di atas 30 tahun terlihat cukup puas dengan penampilan Syaharani and The Queenfireworks yang dalam kesempatan itu membawakan sekitar 14 lagu.   (ant/boo)


Lihat profil: Syaharani
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Jumat, 20-11-2009 |

'Jazz Basuki Mawa Beya' di Mata Jaduk Ferianto

Kapanlagi.com - Even Ngayogjazz Bantul 2009 bakal digelar pada 21 November mendatang. Sebuah tema kreatif diangkat sebagai ruh berkesenian di kota yang kaya budaya itu. Jaduk Ferianto, selaku Event Director, mengemas tema 'Jazz Basuki Mawa Beya' dalam even tahunan yang dilaksanakan untuk kali ketiga itu.

"Kali ini Ngayogjazz Bantul 2009 mengusung tema Jazz Basuki Mawa Beya," katanya.

Menurutnya, tema tersebut merupakan plesetan dari peribahasa Jawa 'Jer Basuki Mawa Beya' yang artinya bahwa setiap upaya memerlukan biaya. Termasuk dalam hal bermusik, memerlukan pengorbanan dan dana.

"Dalam dinamika budaya termasuk dalam berkesenian, tidak ada yang gratis dan pasti memerlukan biaya, baik materi maupun non materi," katanya.

Jaduk mengatakan biaya tersebut bisa berupa kesediaan menerima tradisi baru dan nilai baru, maupun meluangkan waktu untuk mencoba menikmati atau apa saja yang sifatnya kompromi dengan motivasi menambah kualitas manusia pelakunya.

Jaduk mengatakan Ngayogjazz Bantul 2009 pada dasarnya merupakan sajian berbagai produk kreatif bermusik, baik berupa permainan instrumen musik yang sifatnya individu maupun kelompok.

Di tengah pementasan Ngayogjazz juga tersaji produk kreatif berupa barang kerajinan hasil karya para perajin. Dirinya berharap Ngayogjazz Bantul 2009 bisa memberikan tambahan keberagaman produk kreatif di Bantul.

"Segala unsur kreatif dalam kegiatan tersebut diharapkan pula bisa memberi inspirasi bagi kreativitas masyarakat maupun industri kreatif di lingkungan yang lebih luas," katanya.

Dalam Ngayogjazz 2009 akan tampil sejumlah pemusik jazz, baik lokal maupun nasional, di antaranya Dewa Bujana dan Tohpati, Syaharani dan kelompok Queen Fireworks, Harri Stojka dari Austria, Dwiki Dharmawan, Bassgroove 100 dari Malaysia, I Wayan Sadra, dan Sonoseni Ensamble.

Kemudian Komunitas Jazz Kemayoran Jakarta, Purwanto, Kua Etnika, Komunitas Jazz Jogjakarta, serta kesenian tradisional. Selain itu, juga ada Reriungan Komunitas Jazz se-Indonesia, peluncuran CD kompilasi Jazz Jogja, Klinik Musik dari Dwiki Dharmawan, Albert Yap dari Malaysia, Harri Stojka dari Austria, serta Festival Foto Ngayogjazz.  (ant/dar)


Lihat profil: Jaduk Ferianto, Dwiki Dharmawan, Dewa Budjana, Syaharani, Tohpati
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 19-11-2009 |

'Ngayogjazz' Kembali Digelar di Bantul

Kapanlagi.com - Pementasan musik jazz, Ngayogjazz kembali digelar di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 21 November mendatang. Pementasan tahunan untuk kali ketiga ini akan berlangsung di Pasar Seni Gabusan.

"Pergelaran ini untuk semakin mengakrabkan musik jazz dengan masyarakat Bantul," demikian ungkap Event Director Ngayogjazz 2009, Jaduk Ferianto di Bantul, Rabu (18/11).

Menurutnya, masyarakat Bantul yang memiliki akar kesenian dan kebudayaan Jawa yang dinamis, sangat terbuka dan bisa menerima jenis musik apa pun, termasuk tradisi-tradisi baru yang mengikuti perjalanan zaman.

Sehingga, katanya, tidak berlebihan apabila Ngayogjazz menjadi salah satu alternatif ruang berinteraksi khususnya dalam berkesenian dan menikmati karya seni termasuk seni musik jazz.

"Ini terbukti dan bisa terlihat pada beberapa kolaborasi kesenian tradisional Bantul dengan musik jazz, dan bahkan kolaborasi itu kini menjadi tradisi bermusik yang dipertemukan melalui Ngayogjazz," katanya.

Jaduk mengatakan Ngayogjazz adalah sebuah tradisi bermusik yang digagas sejak 2006, dan pertama kali digelar pada 2007.

Dalam Ngayogjazz 2009 akan tampil sejumlah pemusik jazz, baik lokal maupun nasional, di antaranya Dewa Bujana dan Tohpati, Syaharani dan kelompok Queen Fireworks, Harri Stojka dari Austria, Dwiki Dharmawan, Bassgroove 100 dari Malaysia, I Wayan Sadra, dan Sonoseni Ensamble.

Kemudian Komunitas Jazz Kemayoran Jakarta, Purwanto, Kua Etnika, Komunitas Jazz Jogjakarta, serta kesenian tradisional.  (ant/dar)


Lihat profil: Jaduk Ferianto, Dewa Budjana, Tohpati, Syaharani, Dwiki Dharmawan
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 19-11-2009 |

JGTC, Bentuk Apresiasi Terhadap Musisi Jazz Tanah air

Kapanlagi.com - Penghargaan dan apresiasi terhadap musisi senior tanah air memang bisa dilakukan dengan banyak hal. Seperti yang lumrah digelar tiap tahun oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Depok, yakni The 32nd Jazz Goes to Campus (JGTC).

"Acara ini sebagai bentuk apresiasi dan kontribusi terhadap musisi yang sudah membawa dan mengembangkan musik jazz di Indonesia," demikian terang Nacitta Kanyandara, selaku Project Officer JGTC 32nd.

Ditemui KapanLagi.com dalam preskon yang digelar di Hema Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Kuningan, Jakarta Selatan, (7/11), Nacitta lantas mengungkap konsep gelaran akbar kampusnya tahun ini.

Seperti yang telah dijadwalkan, dalam acara tersebut bakal digelar 3 panggung live yang akan diisi oleh musisi-musisi jazz ternama di Indonesia. Antara lain Balawan quarter feat. Didiet violin, Barry Likumahua dan Ireng Maulana, Olivia Ong (Singapura), Tokyo Blue (malaysia), Yovie Widianto Fusion Jazz, Andre Hehanusa, Maliq and D Essentials, Syaharani dan sederet nama tenar lainnya.  (kpl/adt/bar)


Lihat profil: Syaharani, Maliq and D Essentials, Ireng Maulana, Yovie Widianto, Barry Likumahua
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Minggu, 08-11-2009 |

UI Depok Bersiap Gelar The 32nd Jazz Goes to Campus

Kapanlagi.com - Perkembangan musik tanah air memang cukup menggembirakan, ditambah lagi dengan banyaknya konser kelas dunia yang semakin sering digelar. Demikian juga dengan gelaran The 32nd Jazz Goes to Campus, yang akan dihelat di Fakultas Ekonomi UI 29 November mendatang, yang ternyata juga akan melibatkan musisi handal dari dalam dan luar negeri dengan tema Sense of Rejuvenation.

"Tema ini menangkap esensi pembaharuan, kalo sebelumnya itu kan pass oriented, untuk kali ini temanya lebih ke refresh musik jazz aja," ujar Project Officer JGTC 32nd, Nacitta Kanyandara.

Ditemui KapanLagi.com dalam preskon yang digelar di Hema Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Kuningan, Jakarta Selatan, (7/11), Nacitta lantas menuturkan jika pihaknya akan menampilkan sebuah konsep kolaborasi antara musisi senior dan junior.

"Kita pengen lihat seperti apa sih musik jazz ke depan, jadi nanti akan banyak musisi muda yang kita kolaborasi dengan para senior," tuturnya.

Sementara itu, dalam acara tersebut bakal digelar 3 panggung live yang akan diisi oleh musisi-musisi jazz ternama di Indonesia. Antara lain Balawan quarter feat. Didiet violin, Barry Likumahua dan Ireng Maulana, Olivia Ong (Singapura), Tokyo Blue (malaysia), Yovie Widianto Fusion Jazz, Andre Hehanusa, Maliq and D Essentials, Syaharani dan sederet nama tenar lainnya. (kpl/adt/bar)


Lihat profil: Yovie Widianto, Andre Hehanussa, Maliq and D Essentials, Syaharani, Barry Likumahua, Ireng Maulana
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Minggu, 08-11-2009 |

Farah Di, Pendatang Baru Yang Patut Diperhitungkan

Kapanlagi.com - Dunia musik tanah air bakal punya satu lagi penyanyi berbakat. Adalah Farah Di, penyanyi pendatang baru yang bakal segera merilis album pop jazzy bertajuk MERAH BIRU dengan single unggulan Pesisir Pantai. Farah Di diyakini bisa jadi saingan berat di dunia permusikan.

"Kami kembali memperkenalkan penyanyi pendatang baru yang akan segera merilis album pop jazzy bertajuk MERAH BIRU," kata Manajer Promosi dan Pemasaran Inti Entertainment, Wahyudi Yusron, di Jakarta, Kamis (10/9).

Yusron, saat memberikan keterangan soal penyanyi pendatang baru itu menjelaskan, gadis kelahiran Van Nuys, California, tersebut akan memberi harapan baru bagi jenis musik yang jumlah penyanyinya bisa dihitung dengan jari.

Menurut dia, pesona Farah Di saat tampil bersama penyanyi senior Syaharani dalam Jakarta International Java Jazz Festival pada 8 Maret 2009 telah membuat deretan musisi papan atas mendukung album perdananya.

"Album bertajuk MERAH BIRU didukung oleh banyak musisi seperti Ireng Maulana, Cendy Lutungan, Hendri Lamiri, Hari Wisnu, dan lain sebagainya," kata Yusron.

Ia juga menambahkan bahwa kekuatan vokal, intonasi, dan suara jernih yang dimiliki penyanyi pendatang baru itu bakal mampu memberi nafas, nyawa, dan rasa pada setiap jenis lagu jazz yang dinyanyikannya.

Bahkan, pada lagu Pesisir Pantai yang menjadi single unggulan, kata Yusron, Farah Di mampu menyapa lembut pendengarnya dengan nuansa bossas yang dipadukan dengan sentuhan beach-style percussions. Ada lagi banyak lagu menarik dalam album MERAH BIRU di antaranya Mari Berdansa, Tol, Merah Biru, Ikan, Lari Pagi, Diorama, Say No To Drugs, dan Berkemah.

Sebelum menelurkan album perdananya, lanjut Yusron, Farah Di telah mengikuti sejumlah pentas-pentas jazz bergengsi di antaranya tampil sebagai bintang tamu pada Indonesia Big Band Concert by Tohpati Big Band, bintang tamu pada Ireng Maulana Band Concert dan pada JakJazz serta Java Jazz Festival.   (kpl/boo)


Lihat profil: Syaharani, Hendri Lamiri, Ireng Maulana
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Jumat, 11-09-2009 |

«12»

LIHAT ARSIP BERITA SYAHARANI TAHUN 2008
LIHAT ARSIP BERITA SYAHARANI TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA SYAHARANI TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA SYAHARANI TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA SYAHARANI TAHUN 2004