KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Aku melihat hanya kekurangmatangan planning saja untuk masa depan mereka. Bisa jadi karena faktor usia. Aku sudah prediksi mereka tidak akan lama. Karena dua-duanya dalam kondisi yang labil," ungkapnya.
Aldi dan Dewi memilih bercerai dalam usia perkawinan yang belum genap setahun. Sesuai pengakuan Aldi, pernikahannya dengan pemilik goyang gergaji itu hanya sekedar mengejar popularitas.
Menanggapi motivasi pernikahan bintang komedian TAWA SUTRA itu, Tika yang dihubungi melalui telepon secara diplomasi menganggap sebagai sesuatu yang bisa saja terjadi. Menurutnya, apa pun dapat terjadi di zaman sekarang ini.
"Kalau untuk hari ini sudah bisa dibilang masuk akal, tapi aku orang zaman dulu, jadi aku ambil jalan tengahnya aja," tegasnya. (kpl/hen/dar)

Tika yang dihubungi KapanLagi.com melalui telepon, Senin (5/10), menilai pernikahan demi sebuah popularitas sebagai sebuah tindakan yang wajar. Apalagi terjadi di zaman sekarang, yang penuh dengan modernisasi. Asalkan masing-masing mengetahui kontrak tujuan pernikahan mereka.
"Kalau itu dengan menaikkan popularitas dengan menikah, itu bisa saja terjadi. Cuma yang benar kalau yang satu mengetahui, tapi kalau hanya satu pihak saja yang mengerti itu sama dengan membohongi," ungkapnya.
Namun pernikahan itu menurut Tika sebagai pernikahan yang kurang terhormat secara sosial. Karena banyak hal yang ditinggalkan, sebagai syarat sebuah perkawinan. "Karena di sini ada institusi pernikahan dan institusi hati, dan itu (pernikahan, red) tidak terhormat," tegasnya.
Tindakan Aldi dan Dewi sama sekali tidak mempertimbangkan aspek-aspek sebuah pernikahan, yang sekaligus mencerminkan bahwa keduanya tidak matang dan kurang dewasa.
"Pernikahan itu merupakan sesuatu yang harus dipikirkan dan rasional. Buat saya ini sebuah refleksi ketidakmatangan mental mereka," tegasnya. (kpl/hen/dar)

"Kerja hormonal itu berubah. Perilaku seperti itu untuk sementara tidak apa-apa, asal harus ada berhentinya dengan penyaluran. Tiap orang memiliki saluran yang berbeda, misalnya nonton film atau naik gunung supaya bisa stabil lagi," katanya.
Dihubungi via telepon, Kamis (13/8) malam, Tika menambahkan metode penyaluran mutlak diperlukan pribadi dari apa yang dialami. Namun jika telah keluar ke publik, maka menjadi tidak terkontrol.
"Ini akibat dari akumulasi besar sehingga meledak. Makanya apapun yang keluar sebagai pelepasan dari himpitan," sambung Tika.
Disinggung apakah tingkah Chaca sebagai pengaruh dari peran yang selama ini ia mainkan saat berakting, Tika berpendapat bahwa persoalan tersebut harus dilihat dari persepsi secara lebih lebar.
"Seseorang yang bekerja tak ada hubungannya dengan profil kepribadian, sosial dan ekonomi. Bahkan seseorang bisa mensumirkan keadaan sebenarnya dengan status pekerjaan. Namun yang jadi masalah jika dia tetap hidup dalam peran imajinasi, sampai-sampai harus menjadi diri sendiri. Jadinya private self bagai diinjak-injak, disuruh pergi, sementara dia memainkan peran yang diinginkan masyarakat. Bila demikian maka terjadi ketidakseimbangan psiko dinamika kejiwaan. Idelnya ada kavling sebagai pribadi," urainya panjang. (kpl/dis/bun)