KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Saya memang cita-cita masuk Srimulat, dari dulu juga pengen jadi pelawak. Nah dari Srimulat saya belajar banyak, meski saya sampai saat ini belum gabung ke Srimulat, tapi dulu sama Srimulat saya bisa jalan-jalan ke luar kota. Seneng banget," papar Tukul, saat ditemui di acara Malam Empati Untuk Bapak Timbul, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (20/4).
Bagi Tukul, bisa bermain dalam satu frame bersama para personel Srimulat adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
"Semua punya kapasitas seperti Timbul, dari mas Tarsan, mas Polo, Mamiek, pokoknya mereka itu punya kelebihan masing-masing. Dan saya selalu mengambil ilmu dari mereka semua," lanjutnya.
Soal berapa sumbangan yang akan diberikannya pada malam penggalangan dana itu, Tukul tak mau merincinya. Menurutnya, sumbangan tak hanya selalu berupa materi.
"Saya ini orangnya pelit (sambil ketawa), karena saya harus kristalisasi keringat, sehingga bisa seperti sekarang ini. Orang bilang susah ngambil uang dari saya. Ya, karena kan nggak harus duit kalau nyumbang," ucapnya diplomatis.
Bagi Tukul, acara pada malam itu adalah sekaligus reuni, wujud empati dan mengenang Timbul. Baginya, sosok Timbul adalah orang yang cinta budaya tradisional. Sehingga ia menghimbau agar pemerintah bersedia membangun gedung-gedung kesenian, baik di kota maupun di daerah.
Lalu, setelah terkenal, apakah dirinya akan ikut-ikutan terjun dalam kancah politik seperti artis yang lain? "Saya mau kok jadi capres, tapi ya kalau saya minimal Gubernur minimal," candanya. (kpl/ant/bun)

"Semoga setelah didoakan oleh anak, cucu, dan teman-temannya, Mas Timbul bisa naik ke nirwana, seperti cerita yang kita bawakan. Di sini kita sediain tiket, tapi kebanyakan tamu undangan. Sebagian besar adalah penggemar Mas Timbul," kata Aris Mukadi, salah satu sutradara ketoprak tersebut.
Sebagian dari hasil penjualan tiket itu sendiri rencananya akan diberikan pada keluarga Timbul. Ironisnya, sebenarnya dana itu akan diberikan sebagai bantuan untuk biaya rumah sakit Timbul waktu itu, namun baru bisa kesampaian saat Timbul sudah meninggal.
"Dengan adanya tiket itu kita rencananya sebagian untuk bantu keluarga Mas Timbul dulu saat masih sakit. Kita pengen kumpulin dana, karena belum ada waktu yang tepat jadi nggak kesampaian. Nah, kesampaiannya baru hari ini," kata Eko.
"Dia pemain serba bisa, bisa disamakan dengan Benyamin. Dari protagonis, antagonis, semua bisa. Sulit mencari pemain seperti beliau karena di samping itu dia punya disiplin yang kuat," tambah Marwoto. (kpl/ant/npy)

Dalam kenangan Eko, Timbul adalah sosok yang teguh hati. "Ya mas Timbul itu orang tegas lah kalau sudah maunya begitu ya, begitu gak boleh. Seumpama Kalau dia menjadi sutradara kita tidak boleh bercanda kalau kita memang peran yang serius kita harus serius," ungkap Eko yang dijumpai saat melayat di rumah duka Jl Cendrawasih VIII No 13, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (27/03).
Semasa hidupnya, Timbul merupakan sosok yang bertekad mempertahankan kesenian daerah. Untuk itu rekan-rekannya merencanakan membuat pementasan malam dana bagi Timbul. "Misinya ingin bertahan di seni tradisional membangun ketoprak humor lagi lah. Bahkan tanggal 20 nanti kita sudah berencana sama teman-teman mau bikin malam dana. Dari teman-teman Srimulat sudah oke semuanya, nggak ada yang ketinggalan dari wayang orang Barata, Ketoprak Humor, sudah oke semua," ujar Eko.
Timbul juga dikenal sebagai sosok yang humoris dan doyan makan mangga. "Kalau lagi ngumpul dia mesti ngebanyol gitu, terus dia itu orang humor dan suka makan enak, dia itu suka makan mangga kalau musim mangga. Dia itu mesti pulang bawa mangga," tambahnya. (kpl/buj/erl)

"Banyak yang perlu dicontoh dari dia. Dia itu orang yang profesional dan tegas. Kalau ada temen-temen yang tak disiplin, pasti akan dia skors. Karena begitulah jiwa seorang pemimpin, harus bijaksana dan tegas. Kalau pemimpin gak bisa kayak gitu jangan berharap dia jadi pemimpin," katanya, usai mengikuti prosesi pemakaman Timbul di TPU Penggilingan, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (27/3).
Sementara, soal pemakaman yang dilakukan di Jakarta, Tarsan menjelaskan, "Alasannya keluarganya banyak yang dikubur di sini. Ada makam kakak dan ibunya di sini."
Lain dengan Tarsan, Indro mengomentari soal gaya lawakan Timbul Baginya, gaya melawak menjadi ciri khas dan tak akan bisa ditiru oleh pelawak lainnya.
"Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan warna komedi yang dimiliki oleh mas Timbul. Kalau presiden aja masih bisa digantikan, tapi warna lawakan dia gak bisa," katanya.
Selain itu, Indro Warkop juga memiliki kenangan lucu saat ia membesuk pelawak senior tanah air itu saat masih dirawat di rumah sakit.
"Ya, walaupun sakit, tapi masih lucu. Ada satu kejadian waktu aku nengok. Dia gak bisa ngomong, tangannya ke kening, kirain mo apa, mau minta apa kek, pusing kek. Eh, ternyata dia cuma ngomong gatel. Ya, kita sih tertawa, tapi tertawa sedih," pungkasnya. (kpl/ang/bun)

"Pada tahun '97-an aku baru datang ke Jakarta, aku bingung cari kerja. Tapi pas aku minta sama mas Timbul, aku dikasih kerjaan sama dia. Mas Timbul adalah salah satu orang yang mengajak aku terjun ke komedi," kata Tessy saat melayat ke rumah duka, Jl Cendrawasih VIII No 13, Slipi, Jakarta Barat.
Menurut Tessy, ia dan Tukul (Arwana) masih sempat membesuk Timbul di rumah sakit, bahkan sempat juga bercanda dengan pelawak senior tanah air itu.
"Terakhir membesuk ke rumah sakit kondisinya sudah begitu. Makan susah, cuma 7 sendok saja. Aku datang dengan Mas Tukul sampai akhirnya dia bangun dan ketawa. Kita senang dan bahagia, tapi yang seketika itu kita dibuat sedih, mas Timbul ngomong ke istri membisiki dan istrinya ngomong ke kita kalau mas Timbul meminta maaf sebesar-besarnya kepada mas Tessy dan mas Tukul," ujarnya terharu.
Bagi Tessy, Timbul telah berjasa besar dalam memberikan sumbangsih pada perkembangan dunia komedi tanah air pada umumnya, dan di tubuh Srimulat pada khususnya. Selain itu, masih ada beberapa keinginan Timbul yang masih belum terlaksana.
"Mas Timbul ingin mengembalikan ketoprak humor seperti masa-masa jayanya dulu dan itu belum tercapai. Ya, mungkin satu persatu pemain Srimulat atau ketoprak humor pergi. akan timbul regenerasi baru yang lain," pungkasnya. (kpl/buj/bun)

"Terakhir saya liat dia sudah agak sehat, dia sempat melarang aku untuk menangis dan kayaknya kondisinya sudah mau pulang. Dan ternyata hari Minggu sudah pulang. Hari Selasa dia susah buka mata dan sekarang beliau sudah tidak ada," kata Nunung, saat diwawancarai di rumah duka, Jl Cendrawasih VIII No 13, Slipi, Jakarta Barat.
Bagaimana sosok Timbul di mata Nunung?
"Dia teman kerja yang luar biasa. Dia sering menasehati aku, 'Nduk (panggilan untuk anak perempuan di Jawa), kamu anak cewek hati-hati, terlebih kamu adalah tulang punggung keluarga. Pekerjaan kayak kita gak kenal pensiun, jadi kamu harus pandai-pandai menabung'. Itu pesan terakhir dia saat di rumah sakit," kenang Nunung.
Nunung mengaku banyak memiliki kenangan indah bersama dengan pria yang memiliki nama asli Suhadi itu.
"Banyak kenangan yang indah bersama dia, hingga aku sampai gak bisa ingat karena semuanya indah. Tapi yang aku ingat hanya saat di rumah sakit, Mas Timbul memegang tangan aku erat-erat," ujarnya.
"Rencananya kita akan bikin penggalangan dana untuk Mas Timbul tanggal 20 April mendatang di GKJ (Gedung Kesenian Jakarta), walau beliau telah berpulang kita tetap akan melangsungkan malam penggalangan dana tersebut. Bentuknya seperti ketoprak humor," lanjut Nunung.
Lalu, apa firasat yang dirasakan Nunung sebelum meninggalnya Timbul?
"Biasanya setiap aku habis manggung, aku langsung pulang ke Solo. Tapi hari ini aku malas banget dan akhirnya sekitar pukul 01.30-an aku dapat kabar kalau beliau sudah tidak ada," pungkasnya. (kpl/buj/bun)

"Sempat kaget, karena baru kemarin terakhir besuk, masih bisa ngobrol banyak. Kondisinya Pak Timbul sudah membaik," tutur Indro yang dijumpai di rumah duka di Jl Cendrawasih VIII No.13, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (26/3) malam.
Timbul sendiri di mata Indro adalah sosok yang sederhana dan sangat komitmen dengan profesi yang didalaminya. Itulah alasan bintang Warkop terakhir yang masih hidup ini begitu mengagumi Timbul.
"Pak Timbul juga sesepuh sekaligus senior saja. Saya banyak belajar dari Pak Timbul dan Mas Tarsan. Dulu waktu Srimulat sedang jaya-jayanya, saya sering gabung," kata pelawak bertubuh tambun ini.
Dituturkan pemilik nama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro ini, dulunya Timbul sempat aktif di Munas Pertama, Persatuan Seniman Komedi Indonesia. Semua dilakukannya karena benar-benar mencintai dunia komedi. "Beliau kepingin artis komedi lebih bisa modern," terang Indro. (kpl/buj/boo)