< >

ARTIKEL TUTIE KIRANA


'KALAU CINTA JANGAN CENGENG', Rasa Bersalah Berbuah Cinta

KapanLagi.com - Pemain: Marshanda, Ringgo Agus Rahman, Sigi Wimala, Dwi Sasono, Vincent Club Eighties, T. Rifnu Wikana, Tutie Kirana, Pierre Gruno

Boy (Ringgo Agus Rahman) adalah seorang aktor terkenal. Sebagai seorang aktor, Boy merasa bahwa dirinya adalah segalanya dan tak terlalu perduli dengan orang-orang di sekitarnya. Suatu ketika, Boy mengalami kecelakaan mobil yang menewaskan dua orang.

Pengalaman buruk ini mengubah Boy menjadi orang yang benar-benar berbeda. Setelah kejadian mengenaskan itu, Boy menjadi Duta Anti Narkoba, dan sering mengunjungi Panti Rehabilitasi Anti Narkoba sebagai penebus dari rasa bersalah yang selalu mendera batinnya.

Suatu kali, Boy memberi ceramah di suatu Panti Rehabilitasi dan melihat salah satu dari pemakai di sana yang mengingatkannya akan kejadian kecelakaan lima tahun lalu. Ternyata junkie itu adalah Yani (Marshanda), anak dari pasangan yang Boy tabrak dulu yang sempat Boy selamatkan. Boy merasa bersalah mengingat kejadian itu dan mencoba menebus kesalahannya dengan membantu Yani menjauh dari Narkoba.

Sayangnya usaha itu jadi tak mudah karena Yani memiliki sahabat dekat seorang bandar bernama Felix (Vincent Club Eighties). Yani sempat kabur dari Panti Rehabilitasi dan mulai menggunakan Narkoba lagi bersama Felix. Merasa bertanggung jawab, Boy kemudian mencari dan membawa Yani tinggal di rumahnya. Keputusan ini membuat pacar Boy, Luna (Sigi Wimala), marah besar.

Seiring waktu, Yani yang tadinya tidak mau tinggal di rumah Boy mulai merasa nyaman, begitu juga dengan Boy. Di saat hubungan mereka semakin dekat, Ahmad (Dwi Sasono), bekas Manager Boy yang menggantikan hukuman Boy dipenjara datang meneror dan memberitahu Yani bahwa Boy lah yang membunuh orang tua Yani. Yani mengamuk dan pergi dari rumah Boy. Akankah Yani mau memaafkan Boy dan mencoba hidupnya yang baru bersama Boy? (kpl/roc)


Lihat profil: Marshanda, Ringgo Agus Rahman, Sigi Wimala, Dwi Sasono, Tutie Kirana, Vincent Club Eighties
Diposting oleh: Editor | Rabu, 18-02-2009 |

'MAY', Kisah Cinta Tragis Berlatar Belakang Historis

KapanLagi.com - Pemain: Jenny Chang, Yama Carlos, Jajang C Noer, Lukman Sardi, Niniek L Karim, Tutie Kirana, Ria Irawan

Tragedi kerusuhan 13 Mei 1998 di Jakarta yang menyisakan kesedihan dan lara di hati orang yang mengalaminya mengilhami sejumlah insan film yang mengangkatnya ke layar lebar dalam film MAY. Film produksi Flix Pictures yang sebelumnya menggarap DEALOVA (2005) ini berkisah tentang cinta dengan latar belakang kesaksian atas peristiwa kelam Mei 1998.

Dengan alur maju mundur, sang sutradara Viva Westi menggambarkan kisah cinta May dan Antares. May (Jenny Chang) adalah putri Cik Bing (Tutie Kirana) penjual mi ayam di kawasan Glodok, Jakarta Utara. Sedangkan Antares (Yama Carlos) adalah laki-laki pribumi berprofesi sutradara dokumenter. Perbedaan warna kulit tak menghalangi kisah cinta mereka.

Nasib sial dialami May tepat di hari berdarah itu. Pada hari naas itu, May pergi untuk mengikuti casting, seharusnya Antares mengantarnya. Antares yang pernah berjanji akan selalu ada untuk May, tak bisa dihubungi saat itu. Antares sedang sibuk syuting film dokumenter, adegan wawancara aktivis. Dia tidak bisa menjemput meski May sudah sangat ketakutan dan menangis di tengah kerusuhan yang semakin mengerikan.

May hanya menangis saat ditemukan oleh seorang jurnalis asing, Raymond (Andre Peter). May bertelanjang dada dan sedang meringkuk di sebuah sudut gelap bangunan tua. Ia menurut saja ketika dibawa Raymond ke Malaysia dan menjadi penyanyi kafe di sana.

Nasib sang bunda pun tak kalah mengenaskan. Cik Bing terpaksa melepas rumah mereka demi selembar tiket menuju Malaysia. Gandang (Lukman Sardi) hanya seorang buruh cuci di hotel. Dialah yang menjual tiket ke Malaysia kepada Cik Bing, melalui temannya.

Sepuluh tahun berlalu, mereka menjalani hidup masing-masing. Antares telah menjadi salah satu pengikut Harriandja yang menjadi tim sukses para politikus, sampai ke Malaysia.

Gandang telah menjadi pengusaha laundry yang sukses di Yogyakarta. Namun rasa bersalah membawa Gandang mencari Cik Bing, membawa Cik Bing kembali ke Indonesia dan mengembalikan rumahnya, meskipun tanpa May.

Gandang bertemu dengan Cik Bing di kedai kopi tiam di Malaka. Sedangkan Antares bertemu dengan May di sebuah pub di Kuala Lumpur. Sementara itu, Raymond juga muncul bersama Tristan, bocah berumur sembilan tahun yang dulu lahir dari rahim May.

Alur cerita film yang ditulis oleh Dirmawan Hatta ini yang tidak seperti umumnya film Indonesia, mengajak penonton melompat-lompat antara masa kini dan sepuluh tahun lalu, membuat film berdurasi 105 menit ini "penuh misteri".

Suasana kerusuhan digambarkan dengan sangat baik, tak terlalu gamblang sehingga hasilnya tak kontroversial. Fokusnya pun bukan kekerasan atau penghancuran, namun efek psikologis yang dialami korban kerusuhan.

Meski ada beberapa hal yang mengganjal, seperti larinya Cik Bing ke Malaysia, padahal umumnya etnis Tionghoa saat itu mengungsi ke Singapura, namun film yang mengambil syuting di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kuala Lumpur, Malaka, dan genting Highland ini sangat menyentuh. Dan meski sang penulis dan sutradara bersikukuh film ini murni fiksi, tapi tak menutup kemungkinan ada banyak May dan Cik Bing di luar sana. (kpl/lin)


Lihat profil: Jajang C Noer, Lukman Sardi, Niniek L Karim, Tutie Kirana, Ria Irawan
Diposting oleh: Editor | Senin, 09-06-2008 |

«12»