< >

BLOG TUTIE KIRANA


Bintangi 'MAY', Tutie Kirana Puas

Kapanlagi.com - Mendapat kesempatan untuk tampil dalam film yang memuat kisah sejarah membuat aktris senior Tutie Kirana merasa sangat terhormat. Ia mengungkapkan keberuntungannya berperan sebagai Cik Bing dalam film MAY sebuah film cinta berlatar belakang peristiwa kerusuhan 13 Mei 1998.

"Saya merasa memerankan Cik Bing sebagai kehormatan, peran semacam ini yang saya cari sejak lama," katanya di Jakarta, Rabu (14/5).

Bintang cemerlang dalam perfilman Indonesia selama beberapa dekade ini mengaku sejak lama berharap mendapat tawaran bermain di film yang mengangkat kisah kemanusiaan secara mendalam.

"Cik Bing adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya (May, red) akibat peristiwa kerusuhan, sebuah hubungan antara anak dan ibu ini bukan hal yang mudah diekspresikan. Coba bayangkan kalau peristiwa Mei 1998 memisahkan hubungan ibu dan anak yang sangat dekat, tentu akan sedih sekali," kata aktris yang pernah bermain dalam sejumlah film karya sutradara besar Sjuman Djaya dan Wim Umboh ini.

MAY mengisahkan tentang romantisme cinta antara tokoh Antares - warga pribumi, dan May yang warga keturunan. Kisah-kasih mereka berakhir dalam suasana hancur-lebur, terpisah akibat peristiwa sosial yang juga memporak-porandakan kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Skenario film MAY ditulis Dirmawan Hatta, dibintangi aktris pendatang baru Jenny Chang (May), Yama Carlos (Antares), Tutie Kirana (Cik Bing), Lukman Sardi (Gandang), Ria Irawan (Haryuni), Niniek L Karim (Ibu Haryuni), dan Tio Pakusadewo (Harriandja).

Film ini disutradarai oleh Viva Westi dan diproduksi Flix Pictures yang sebelumnya menggarap film DEALOVA (2005). Syuting film ini berlangsung di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kuala Lumpur, Malaka, dan Genting Highland.

"Ini salah satu produksi yang saya senang sekali bermain di dalamnya, pokoknya puas," ujar Tutie(*/boo)


Lihat profil: Tutie Kirana, Lukman Sardi, Ria Irawan, Niniek L Karim, Tio Pakusadewo
Diposting oleh: Editor | Rabu, 14-05-2008 |

Viva Westi Angkat Tragedi 13 Mei 1998 Lewat 'MAY'

Kapanlagi.com - Tragedi kerusuhan 13 Mei 1998 di Jakarta yang menyisakan kesedihan dan lara di hati orang yang mengalaminya mengilhami sejumlah insan film yang mengangkatnya ke layar lebar dalam film MAY.

Sutradara MAY, Viva Westi, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (14/5), mengungkapkan film tersebut merupakan kisah cinta dengan latar belakang kesaksian atas peristiwa kelam Mei 1998.

"Meski latar belakang film ini peristiwa Mei 1998 tapi film ini adalah fiksi, sangat tidak berbau politik, berusaha tidak menyinggung siapa pun, dan sangat universal bercerita tentang cinta dan kemanusiaan," kata perempuan kelahiran Manokwari, 21 September 1972 itu.

Viva mengungkapkan tidak mudah membuat film dengan latar belakang peristiwa sejarah 1998 karena banyak isu yang rasis sehingga dapat menimbulkan reaksi berbeda.

"Ada ribuan cerita tentang kejadian pada Bulan Mei yang bisa dengan mudah kita baca di internet, tapi saya perlu garis bawahi dalam film ini tidak sepenuhnya diangkat dari kisah nyata, melainkan dari sebuah riset yang bisa dipertanggungjawabkan," kata Viva yang aktif sebagai penulis naskah film televisi dan sinetron sejak era tahun 2000.

Film MAY skenarionya ditulis Dirmawan Hatta, dibintangi aktris Jenny Chang (May), Yama Carlos (Antares), Tutie Kirana (Cik Bing), Lukman Sardi (Gandang), Ria Irawan (Haryuni), Niniek L Karim (Ibu Haryuni), dan Tio Pakusadewo (Harriandja).

Jenny Chang adalah model asal Medan yang mengawali debutnya di layar lebar lewat Film MAY, sedangkan Yama Carlos adalah model yang telah beberapa kali main film, seperti ANGKER BATU (2007), LOVE AND WAR (2007), dan IN THE NAME OF LOVE (2008).

MAY diproduksi Flix Pictures yang sebelumnya menggarap film DEALOVA (2005). Syuting film ini berlangsung di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kuala Lumpur, Malaka, dan Genting Highland.

Viva menambahkan membuat film cinta berlatar belakang sejarah bagi dia cukup beresiko besar. Penonton film di Indonesia sebagian besar belum menyukai film bertema berat semacam ini, meski sesungguhnya kisah yang diangkat adalah tentang cinta dan kemanusiaan.

"Harus ada yang memulai untuk membuat film-film yang semakin bermutu, kalau tidak sekarang kapan lagi," katanya.

Film MAY mulai tayang di bioskop pada 5 Juni. Viva mengatakan filmnya ini telah lulus sensor, tanpa ada pemotongan gambar. (*/boo)


Lihat profil: Tutie Kirana, Lukman Sardi, Ria Irawan, Niniek L Karim, Tio Pakusadewo
Diposting oleh: Editor | Rabu, 14-05-2008 |

Christine Hakim Nostalgia Bareng Roy Marten

Kapanlagi.com - Nostalgia, itulah yang dirasakan aktris senior Christine Hakim dalam film garapan sutradara Rudi Soedjarwo, IN THE NAME OF LOVE. Berperan sebagai istri Roy Marten bersama beberapa aktor senior seperti Cok Simbara dan Tutie Kirana, Christine mengaku merasa sangat berbahagia setelah sekitar 5 tahun vakum dari dunia akting.

"Main di film ini lebih kayak kangen-kangenan, nostalgia tepatnya. Kita udah lama kan ga main bareng, jadinya di tempat syuting sering guyon, peluk-pelukan dan pukul-pukulan," ujar Christine.

"Namun bukan pukul beneran lho, lebih ke pukulan manja gitu," sambungnya saat prescreening film IN THE NAME OF LOVE di Plaza Senayan, Minggu (6/4).

Menurut aktris yang bisa dibilang legendaris ini, syuting yang tak kenal waktu pun menjadi begitu ringan karena setiap pemain selalu saling dukung dan tentunya humor-humor segar dari rekannya yang kerap muncul selama proses syuting.

"'Tolong panggil ambulance!', itulah canda yang sering kita ucapkan saat salah satu pemain merasa sangat capek dengan take yang kadang dilakukan sampai jam 2 pagi. Jadi semua saling menghibur dan mendukung," ungkapnya.

Sikap rendah hati selalu tercermin saat ia dipuji tentang kualitas perannya meski tak dapat dipungkiri, akting seorang Christine Hakim dalam setiap film memang selalu maksimal dan patut diacungi jempol.

"Dari awal masuk dunia ini saya hanya ingin belajar dan terus belajar, hingga hari ini. Lagian saya juga harus bersyukur bisa kerjasama dengan sutradara yang tahu apa yang harus ia lakukan dan patner main yang serius dan humble, jadi ikatan batin bisa tercipta dengan baik," ucapnya merendah. (kpl/ant/tri)


Lihat profil: Rudi Soedjarwo, Christine Hakim, Tutie Kirana, Roy Marten
Diposting oleh: Editor | Minggu, 06-04-2008 |

'IN THE NAME OF LOVE', Perwujudan Mimpi Rudi Soedjarwo

Kapanlagi.com - Rudi Soedjarwo akhirnya meraih mimpinya sendiri. Sutradara berbakat itu mewujudkan mimpi indah yang sudah bersemayam di dalam benak dan hatinya lewat karya film terbaru yang berjudul IN THE NAME OF LOVE.

"Ini mimpi lama saya. Sejak beberapa tahun lalu saya berharap bisa bekerja sama dengan aktor dan aktris besar yang ikut mendukung film ini," kata peraih Piala Citra Sutradara Terbaik lewat ADA APA DENGAN CINTA ini dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (12/3).

Ia lalu menyebut nama Roy Marten, Christine Hakim, dan Tutie Kirana, yang diakuinya merupakan bintang-bintang yang punya reputasi luar biasa di dunia perfilman nasional.

Diproduksi PT Valian Circle Production, film layar lebar yang dijadwalkan beredar secara nasional mulai 10 April 2008 itu memang didukung oleh nama-nama besar. Selain Roy, Christine, dan Tutie, musik ilustrasi dan scoring-nya digarap Addie MS, pemimpin Twilight Orchestra.

Lebih dari itu, kata Rudi, ia juga sangat senang dapat menghadirkan bintang-bintang muda tapi juga sangat populer dewasa ini, termasuk Acha Septriasa yang membawakan lagu tema Cinta Bertahan karya Pongky Jikustik, yang musiknya digarap Addie MS. Rudi juga mendapatkan yang diinginkannya untuk menampilkan kelompok musik rock, Getah, yang memberinya lagu Segitiga Bermimpi dengan lirik berkisah tentang kejahatan terhadap anak-anak.

Cinta Atau Kehormatan

IN THE NAME OF LOVE mengangkat tema sentral pertentangan antara cinta dan kehormatan. "Film ini mengisahkan lika-liku hubungan asmara sepasang kekasih dari dua keluarga besar, di mana cinta dan kehormatan adalah pilihan yang harus diambil salah satunya saja," katanya.

Ketika disinggung tentang kemungkinan cerita film terbarunya itu terinspirasi kisah ROJALI DAN JULEHA (1980-an), ia mengatakan dirinya tidak tahu apakah ada kesamaan di antara keduanya. "Masalah cinta seperti ini masih saja ada sampai sekarang. Tetapi film ini tidak hanya membahas persoalan cinta semata, tetapi juga harga diri," jelas Rudi.

Bagi Rudi, cinta bisa berakhir harmonis tetapi juga bisa menjadi tragedi. "Kalau harus memilih, bagi saya cinta adalah segala-galanya. Di sinilah letak perjuangan untuk mewujudkan cinta sejati," pungkasnya.

Ia juga mengatakan, dari semua film bertema cinta yang pernah dibuatnya, termasuk ADA APA DENGAN CINTA dan MENGEJAR MATAHARI, film IN THE NAME OF LOVE adalah yang paling unik dan menuntut dirinya bekerja lebih keras.

Berbicara tentang judul yang menggunakan bahasa Inggris, sang sutradara mengatakan bahwa kata-kata yang digunakan mudah diartikan, yakni love berarti cinta, name berarti nama, sehingga artinya adalah atas nama cinta. "Saya kira semua orang mengerti maksudnya."

Menanggapi komentar tampilnya Roy Marten dalam film tersebut, padahal sekarang sang aktor sedang menghadapi perkara hukum di Surabaya, ia menjawab, "Film ini dibuat dua minggu sebelum bang Roy ditangkap." (*/boo)


Lihat profil: Rudi Soedjarwo, Roy Marten, Christine Hakim, Tutie Kirana, Addie MS, Pongky Jikustik
Diposting oleh: Editor | Rabu, 12-03-2008 |

«1»

LIHAT ARSIP BERITA TUTIE KIRANA TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA TUTIE KIRANA TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA TUTIE KIRANA TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA TUTIE KIRANA TAHUN 2004