KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Saya ingin sesegera mungkin bekerja menunaikan tugas saya sesuai janji dalam kampanye kemarin," kata mantan Puteri Indonesia itu setelah upacara pengucapan sumpah anggota DPR, DPD, dan MPR di Gedung Nusantara Senayan, Jakarta, Kamis (1/10).
Venna mengatakan, dalam waktu dekat segera membentuk Venna Melinda Center yang merupakan rumah aspirasi bagi para konstituen dan masyarakat yang memilihnya.
Pelakon sinetron yang pernah mendapat bayaran termahal di Indonesia itu mengatakan ingin segera kembali ke Dapil tempatnya terpilih yakni Dapil Jatim 6. "Di situ saya akan merealisasikan pembentukan rumah aspirasi di mana saya bisa lebih mendekatkan diri dengan konstituen saya," katanya.
Venna juga telah mempersiapkan sejumlah program di antaranya membuka kursus bahasa asing bagi masyarakat dan membuka ruang konsultasi publik.
Bagi Venna, terpilih menjadi anggota DPR merupakan suatu kebanggaan, karena dipilih oleh puluhan ribu masyarakat. "Ini pengalaman baru bagi saya dan saya akan mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya," katanya.
Soal citra anggota DPR dari kalangan artis yang dipandang sebelah mata, justru dianggapnya sebagai sebuah tantangan. (kpl/dar)

Terlihat kemarin, Selasa (29/9), beberapa artis serius mendengarkan arahan yang diberikan pembicara saat itu, seperti Jamal Mirdad, Primus Yustisio, Dedi Gumelar, Ruhut Sitompul, Rachel Maryam, Venna Melinda, Helmi Yahya, Eko Patrio dan Nurul Arifin. Tak ketinggalan pakar telematika Roy Suryo.
Namun di antara keseriusan terlihat tingkah yang mirip dengan anggota DPR sebelumnya. Misalnya, Roy Suryo yang menguap tanpa sempat menutup mulut. Lalu Dedi 'Miing' Gumelar yang manggut-manggut mendengarkan arahan dengan sesekali tangan memegang kening. Sedangkan Venna mencatat pernyataan yang dianggap perlu. Sementara Nurul Arifin sibuk melayani telepon yang masuk sambil tertunduk-tunduk.
Dari semua selebritas yang akan dilantik pada 1 Oktober nanti, hanya Nurul Arifin yang menolak diwawancara dengan alasan belum menjadi anggota resmi dan ia takut salah bicara bukan pada porsinya. (kpl/dis/erl)

"Bahwa yang bernama Ivan Fadilla telah melaporkan ke Kepolisian. Ia melaporkan karyawan yang bernama Tatang, atas dugaan perampokan," ungkap Simbolon kepada KapanLagi.com yang ditemui di kantornya, Jumat (31/7) siang.
Dituturkan Simbolon, Ivan selaku pemilik perusahaan bernama PT Kualitas Intan Pariwara menyuruh anak buahnya yang bernama Tatang untuk mengambil uang gaji sebesar Rp131 juta. Setelah diambil dari Bank Nagari Kebayoran Lama, Tatang mengaku jika uang tersebut hilang sebesar Rp41 juta. Tatang menyebutkan dirinya dirampok.
"Jadi saat dia membawa uang dengan sepeda motor, ada yang bilang, 'Mas, bannya kempes'. Terus dia dirampok," kata Simbolon.
Namun atas kejadian tersebut, Ivan sendiri merasa ada yang mencurigakan. Dari Rp131 juta itu terdiri dari dua amplop, tapi anehnya yang hilang hanya Rp41 juta. Oleh karena itulah Ivan memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke pihak Kepolisian pada Jumat (31/7) dini hari, tepatnya pukul 01.00 WIB.
Menurut Kapolsek, untuk sementara kasus ini masih ditangani dan polisi akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga terhadap Tatang. Karyawan yang telah 10 tahun mengabdi itu tengah diperiksa secara intensif. (kpl/mai/boo)

Para undangan, menurut siaran pers Kedubes AS, di Jakarta, Rabu (20/5), terdiri dari para tokoh Indonesia yang pernah belajar di AS, para pemuka di bidang pendidikan dan pemerintahan, serta sejumlah artis.
AMERIKAKU? yang diproduksi oleh Kedutaan Besar AS dan disutradarai Mirwan Suwarso bercerita tentang empat pelajar sekolah menengah dari sejumlah wilayah di Indonesia yang tinggal dan belajar di AS. Film dokumenter ini bercerita tentang liku-liku anak Indonesia yang kuliah di Amerika. Film ini nantinya juga akan disiarkan secara berseri di sebuah stasiun televisi nasional.
"Ketika Menlu Clinton berkunjung ke Jakarta Februari lalu, ia banyak berbicara tentang betapa bernilainya kegiatan pertukaran dan saling mengenal antara warga Amerika dan Indonesia pada tingkat personal," kata Dubes AS Cameron R. Hume di hadapan para undangan.
"Ia juga menyatakan harapannya bahwa kita akan dapat melakukan lebih banyak interaksi antara kedua negara kita, dan menyebutkan bahwa pertukaran antar-warga adalah cara terbaik untuk menyingkirkan berbagai hambatan dalam hubungan antar-bangsa," kata Dubes.
Setiap tahunnya, Kedutaan Besar AS mengirim sekitar 100 siswa SMA Indonesia untuk belajar di AS melalui Program YES (Youth Exchange and Study).
Dalam program yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Yayasan Bina Antar Budaya - sebuah yayasan pembelajaran antar budaya Indonesia - para peserta tinggal bersama dengan keluarga Amerika, belajar di sekolah menengah atas.
Terlibat dalam berbagai kegiatan untuk mengenal masyarakat dan nilai-nilai Amerika, memperoleh ketrampilan kepemimpinan, serta membantu menjelaskan tentang negara dan kebudayaan mereka kepada warga Amerika.
Dengan gaya kedatangan di atas red carpet, pembawa acara Uly Hardinansyah dan Melissa Karim menyapa para undangan VIP seperti Nirina Zubir, Venna Melinda, Tantowi Yahya, Gilang Ramadhan, Anjasmara, Jeremy Thomas, dan Ferry Salim.
Para tamu juga berfoto bersama tokoh mirip Presiden Barack Obama sebagai tanda kenang-kenangan. Acara resepsi preview film ini juga dimeriahkan oleh penampilan band Cokelat.
Para siswa Indonesia yang tampil di AMERIKAKU? adalah Nindie Silvy dan Mista Sugesty dari Banda Aceh, Annisa Devi dari Jepara, dan Waskito Jati dari Yogyakarta. (kpl/dar)

"Saya sudah nggak sabar nunggu Pilpres nanti, bukan karena partai saya menang, tapi karena pengin demokrasi berjalan lebih baik di Indonesia," demikian ungkap Venna saat hadir dalam premiere film AMERIKAKU di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Selasa (19/5).
Dipastikan ibu dua anak ini tetap menjatuhkan pilihan pada SBY yang sudah lima tahun menjabat. Menurutnya, di bawah kepemimpinan SBY, Indonesia meraih banyak prestasi dan semua itu perlu dilanjutkan lima tahun ke depan.
"Bukan karena partai sudah memutuskan SBY sebagai Capres. Selama ini kita lihat pemerintahan SBY berjalan dengan baik. Tinggal menambahi yang kurang saja. Takutnya kalau presidennya ganti beda keputusan lagi," tegasnya. (kpl/ang/dar)

Venna yang kini menunggu dilantik sebagai anggota DPR RI itu masih hitung-hitung soal biaya, jika anaknya menempuh pendidikan di Amerika. Apalagi sang anak masih SMU, menurutnya jauh lebih tepat jika saat kuliah nanti.
"Anak-anakku ada yang sudah minta sekolah ke Amrik, tapi aku belum izinin sih. Karena selain jauh biayanya mahal juga. Jadi mungkin nanti setelah lulus SMA, pas kuliah barulah kita pikir-pikir untuk sekolahkan di sana. Karena dia memang maunya sekolah di sana," tegas ibu dua anak ini.
Menurutnya, sekolah di Indonesia juga sudah memiliki kualitas yang bagus, sehingga tidak perlu gengsi jika harus menempuh pendidikan di dalam negeri. Karena pemerintah saat ini, menurutnya juga memiliki perhatian serius pada pendidikan nasional.
"Sekolah di dalam negeri juga bagus, karena pemerintah peduli sekali tentang pendidikan," pungkasnya. (kpl/ang/dar)

Selain itu, terdapat pula nama pemain sinetron Primus Yustisio di bawah bendera Partai Amanat Nasional (PAN) dan Rachel Maryam (Partai Gerindra).
Menanggapi itu, pengamat politik Bima Arya, di Jakarta, Sabtu, mengatakan, keberadaan artis dalam parlemen pada Pemilu 2009 sungguh di luar dugaan dibanding Pemilu 2004. "Sekitar 10% kursi di parlemen nanti diisi oleh para artis. Ini sangat luar biasa," ujarnya.
Masalahnya, lanjut dia, para artis harus bisa membagi waktunya sebagai artis dan wakil rakyat. "Artis itu kan waktunya gak banyak, sedangkan sebagai wakil rakyat, mereka harus banyak belajar, terutama menyangkut kemampuan komunikasi politik, tidak saja kepada konstituennya, tetapi juga sesama anggota parlemen, sesama elit tetapi juga dalam berkomunikasi dengan pemerintah," ujar Bima.
Sedangkan pengamat politik Yudi Latif mengatakan, parlemen masih akan didominasi wajah-wajah lama. "Jadi, meski banyak artis yang lolos tetapi parlemen akan didominasi wajah-wajah lama, serta figur-figur yang memiliki hubungan dengan incumbent atau sosok elit seperti Edhie Baskoro (putra Susilo Bambang Yudhoyono), dan Puan Maharani (putri Megawati Soekarnoputri)," tuturnya. (kpl/dar)