KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Perutnya mendadak mules dan kepalanya pusing, "Buat aku ini sangat terasa berat. Sebelum syuting sudah muntah duluan. Kelemahan aku memang begini, terintimidasi oleh pikiran jadinya membawa tekanan yang berat," ujar Judika kepada wartawan belum lama ini.
Pria keturunan Batak yang juga sahabat dekat Delon ini pun berusaha beradaptasi dengan pekerjaan barunya itu, menjadi presenter acara SEDAP MALAM (ANTV) yang tayang tiap Sabtu dan Minggu pukul 22.30 WIB.
Judika baru syuting dua episode, tapi pemain film TARIX JABRIX 2 dan SI JAGO MERAH ini sudah merasa nyaman menjadi acara TV. Apalagi tema yang dibahas menurutnya menarik seperti virginitas dan sex appeal.
"Masih banyak kesalahan, jadi aku dan Soimah partner aku ngomongnya rebutan. Di TV jadi terlihat berantakan, tapi kita tetap belajar dan sama-sama mencari chemistry," ujar Judika.
Pemilik nama lengkap Judika Sihotang ini mengatakan ketertarikan ANTV mengajaknya untuk menjadi host SEDAP MALAM karena melihat aksinya di film SI JAGO MERAH.
"Mereka pingin ada lucunya. Jadi di sini aku spontan. Aku juga nggak tahu kenapa mereka meminta aku menjadi pembawa acara ini, tiba-tiba manajemen menawarkan pekerjaan ini. Aku pikir ini kesempatan kenapa nggak dicoba," tutur pria kelahiran Sidikalang, Sumatera Utara, 31 Agustus 1978.
Judika tidak perduli jika dibilang aji mumpung karena mengambil semua tawaran mulai dari menyanyi, main film dan kini presenter.
"Mumpung ada yang nawarin kenapa nggak. Aku orangnya ekspresif ingin mencoba semuanya. Tadinya di film aku juga nggak yakin bisa, tapi ketika mendapat penghargaan dan banyak yang memuji aku jadi yakin kita bisa asal belajar," tuturnya.
Selain SEDAP MALAM, ANTV juga menayangkan program baru bertajuk MAKIN MALAM MAKIN MANTAP (4M). Ini merupakan program variety show yang tayang tiap Senin-Jumat pukul 22.00 WIB. 4M dibawakan oleh si kocak Tora Sudiro, Vincent Club Eighties, Ayu Dewi dan ada tokoh Suster Hepi yang diperankan oleh Dwi Putrantiwi. (kpl/mai/dar)

Desta yang dijumpai di Pantai Carnaval Ancol, Minggu (9/8) malam, mengaku memang ada gonjang-ganjing di band mereka. Tapi mereka tetap berusaha santai karena tidak ada masalah yang berarti. "Gonjang-ganjingnya itu karena kita semua sempat sibuk masing-masing," ujarnya.
"Sebentar lagi mudah-mudahan tahun ini kita melempar album, semenjak tiga tahun vakum dari 2006. Tapi rencananya sih kami mau ngeluarin single dulu, yah untuk prosedural saja," imbuhnya.
Desta juga mengungkapkan bahwa Club Eighties masih aktif nge-band, walau jarang konser. Dan sebagai penyaluran agar kualitas musiknya tetap terjaga, Desta pun bergabung dengan band lainnya.
"Gue pribadi masih pengen nge-band dan musik menjadi pilihan hidup gue. Makanya sebelum Club Eighties muncul lagi, gue bergabung dengan Tora Sudiro di The Cash," tuturnya.
Untuk album terbaru nanti, kata Desta, Club Eighties ciptakan suasana baru. Kalau album sebelumnya lebih komersil, di album yang bakal dirilis setelah Lebaran itu akan memunculkan nuansa 80-an yang lebih kental. Namun, kembali lagi ia harus berusaha mengumpulkan lagi kelima personel yang ada.
"Kita masih terlalu ribet untuk kumpulin anak-anak, dan sebenarnya ini lebih banyak Yton yang berkreasi dan gue cuma sebagai penggembira saja," pungkasnya. (kpl/ant/boo)

"Aku belum ada pacar, belum kepikiran banget buat pacaran," kata Putri Titian saat ditemui di Studio Penta, Kebon Jeruk, Jaksel, Jumat (24/07) kemarin.
Sebenarnya kriteria Putri tak terlalu sulit. Dia hanya ingin cowok yang sama cerianya seperti dirinya. Bahkan, jika mungkin, dia ingin berpacaran dengan kloningan dirinya sendiri.
"Aku kepengennya sih kalau bisa kayak aku gini, yang ceria. Kloningan kayak aku gini deh. Pokoknya yang harus banyak persamaan," tukasnya.
"Ya, tipe cowoknya kayak Ringgo Agus Rahman atau Vincent Club Eighties," lanjut Putri sumringah. (kpl/mai/npy)

"Saya tertarik karena ini hal yang baru, di mana sekarang lagi banyak hal-hal yang berbau politik (masa kampanye), di mana marak jargon-jargon politik. Menurut saya, film adalah pasar bebas banget. Terbukti dengan film ini ada investor dari Malaysia yang masuk. Saingan kita itu langsung head-to-head dengan film-film Hollywood. Dan industri film Indonesia sudah memang naik," kata Rako di Cafe Sing, FX Plaza, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (14/7).
Soal pilihan pemain yang jatuh ke tangan Tora Sudiro, sebenarnya dibalik itu semua ia ingin membuat trademark. Seperti Srimulat yang pemainnya itu-itu aja, tapi itu telah menjadi sebuah trademark. Di sini ia ingin membuat seperti itu.
Jadi ketika orang ingin mencari film komedi, Rako berharap orang mencari referensi orang-orang seperti Tora atau Vincent Rompies.
Lalu, bagaimana dengan pemain Malaysia?
"Mereka itu pemain nomor satu di KL (Kuala Lumpur). Salah satu dari mereka pernah main di film yang pernah box office di Malaysia. Tapi kendala kita, ketika mereka datang, ternyata birokrasi antara Malaysia dan kita benar-benar beda. Manajemennya beda. Ini jadi satu pembelajaran buat saya. Batasan-batasan bahasa juga, mereka yang Inggris ala Melayu juga menjadi pelajaran buat saya," papar Rako.
Skrip film ini tulisan aslinya dalam bahasa India, lalu di-translate ke Bahasa Indonesia secara harafiah. Di situ pihaknya mengalami kebingungan. Apakah ada satu bagian di mana apakah ini lucu atau tidak.
Film KRAZY, CRAZY, KREZY ini dibintangi oleh Tora Sudiro (Sony), Vincent Rompies (Tino), Piere Andre (Farid), Sigi Wimala (Kartika), Sissy Priscillia (Ratna) dan Julia Zegler (sebagai Melati).
"Batasan bahasa dalam film ini terjadi, itulah keunikan film ini. Dari sisi kita mungkin nggak masuk, tapi nanti kan film ini juga diputar di Malaysia dan juga di negara-negara lain, seperti Singapura atau Brunei. Jadi saya harus cari jalan tengahnya," tegasnya. (kpl/gum/bun)

Kalau pada film terdahulu Tora berpasangan dengan Indra Birowo, sahabat dan juga rekan mainnya di EXTRAVAGANZA, namun kini Tora dipasangkan dengan Vincent Rompies alias Vincent Club Eighties.
"Dulu kan biasanya sama Indra Birowo, sekarang sama Vincent. Kebetulan sekarang jamannya lagi plot dua-dua, seperti Desta sama Ringgo, Vincent sama saya," kata Tora di sela acara peluncuran film tersebut di Cafe Sing, FX Plaza, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (14/7).
"Kalau menurut saya, film saya ini beda. Karena kita sudah lama banget nggak pernah syuting pake film, biasanya pake digital. Akhirnya saya ketemu lagi sama medium itu. Selain itu banyak kejadian aneh selama syuting, syuting sebelah-sebelahan sama syutingnya Slank. Saya lebih senang syuting sama Slank sih," imbuhnya.
Lalu, sebenarnya peran apa sih yang paling diinginkannya? Mengingat Tora sangat dekat dengan dunia komedi, namun sangat bertolak belakang dengan penampilannya yang 'sangar'.
"Kalau ditanya pengen peran apa, agak susah buat saya untuk menjawabnya. Balik lagi, gue di EXTRAVAGANZA gue main jadi apa aja. Jadi pohon gue pernah, Robert De Niro belum tentu pernah jadi pohon. Jadi kalkulator gue pernah, Al Pacino nggak pernah main jadi kalkulator. Jadi gue bingung kalau ditanya ke gue, gue mau peran apa. Tapi gue pengen banget main film serius yang lebih profesional, tentunya harga naik dikit dah," tandasnya. (kpl/gum/bun)

"Seru sih soalnya. Dulu banget main sama Tora, tapi dia dulu nggak setolol ini. Terus ketemu lagi sama Tora dan Vincent, jadi berantakan semua," ujarnya bersemangat saat ditemui di launching film KRAZY, CRAZY, KREZY di Restoran Sing!, FX Sudirman, Jaksel, Selasa (14/07) kemarin.
"Tapi seru ketika ketemu Pierre sama Julia, ini yang beda karena ada perbedaan bahasa dan karakter bercandanya. Mereka kan dari Malaysia, ketika kita melucu, pasti yang ada diam karena nggak nyambung," tambah Sissy.
Dituturkannya pula jika dirinya sampai tidak merasakan rasa capek akibat syuting di siang hari yang terik. Pasalnya, tingkah laku semua pendukung film benar-benar lucu dan konyol.
"Selama syuting semuanya itu lucu. Jadi nggak berasa padahal harusnya capek karena panas. Lalu ada adegan lari-larian. Udah gitu nggak ganti baju waktu pertama kali take syuting. Tapi saya menikmati sekali. Memang agak sulit dijabarkan, liat aja kelakuan Tora. Belum lagi lucunya logat para pemain Malaysia ini," kisahnya.
Namun begitu, bukan berarti Sissy lupa untuk menjaga staminanya selama syuting film. "Minum vitamin pastinya, lebih ke nggak makan dan minum macem-macem juga, kayak minum es," pungkasnya. (kpl/gum/npy)

"Agar generasi sekarang tahu karya sastra zaman dulu. Saya jadi ikon Salah Pilih," tegasnya.
Buku Salah Pilih sendiri menurut Lukman merupakan karya fenomenal dengan cerita yang masih bisa dinikmati oleh generasi saat sekarang. Meski bahasanya masih menggunakan bahasa melayu, namun karya itu bisa dipahami setiap kalimat demi kalimatnya.
"Setelah saya baca ternyata buku itu menarik. Ceritanya masih bisa dinikmati. Namun karena bahasanya Melayu, karenanya memang harus dipahami kalimatnya," ungkapnya.
Lukman mengaku sebagai pecinta buku, termasuk novel dan buku-buku cerita menarik lainnya, termasuk biografi tokoh sekali pun. "Saya juga biasanya membaca biografi. Karena itu kisah nyata. Dan dari biografi pun kita bisa banyak belajar," tegasnya.
Sementara itu, buku Salah Pilih memiliki beberapa hal yang sama dengannya, yaitu sisi romantisme. "Dari segi bukunya lebih menonjolkan sisi romantisme kali ya. Dan gue bisa dibilang pria romantis. Karena bisa dilihat gue itu suka nulis puisi," pungkasnya.
Tidak hanya Lukman yang menjadi icon Salah Pilih, artis Cornelia Agatha juga dipercaya sebagai ikon buku Layar Terkembang, Maudy Kusnadi ikon buku Salah Asuhan, Yuni Shara ikon buku Azab dan Sengsara, Andrei Aksana ikon buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Tio Pakusadewo ikon buku Atheis, Vincent Club Eighties ikon buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, dan Happy Salma sebagai ikon buku Sitti Nurbaya. (kpl/ant/dar)