KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Bayangan ruang kerja dengan fasilitas pendukungnya sirna begitu ia masuk ke ruang berukuran 4 x 6. Padahal selama kampanye Wanda telah bertekad bekerja keras demi kepentingan rakyat. Namun kenyataan berbeda.
"Beda ya saat di dalam dan luar. Soalnya begitu di dalam (gedung DPRD, red) saya bayangkan masuk ke ruang yang memadai. Ternyata tidak. Ruangan hanya 4x6 dan harus diisi 5 orang. Bahkan staf saja nggak ada meja. Telepon cuma satu dan dipakai ramai-ramai. Belum lagi ketiadaan computer serta internet. Gimana mau bekerja maksimal bila peralatan penunjang tak ada?" keluhnya usai membagikan gaji pertama kepada anak yatim di Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Jumat (18/9).
Walau keadaan minim tak serta merta semangatnya kendor. Namun Wanda tetap berusaha mengusulkan penambahan atau mengoreksi anggaran untuk pembaruan ruangan seluruh anggota dewan.
"Bukannya mau protes, tapi kerjanya nggak akan maksimal. Makanya saya akan ambil sikap mengajukan anggaran serta mengoreksi ke dewan guna membenahi ruangan yang ditempati semua anggota DPRD yang berjumlah 94 orang," pungkas ketua Fraksi Amanah Nasional ini. (kpl/dis/bun)

"Sampai pusing saya dibuatnya. Belum dengan rapat-rapat yang menguras tenaga. Ternyata satu masalah tak bisa selesai hari itu juga. Perlu berkali-kali untuk dirapatkan. Ini tugas berat yang mesti dilaksanakan," jelasnya kepada KapanLagi.com.
Selain menyelesaikan persoalan yang belum rampung, dirinya juga akan meninjau ulang peraturan yang dirasa terlalu mengada-ada dan kurang mendapat pengawasan ketika diimplementasikan di lapangan.
"Mungkin akan mengawasi perda yang sudah ada tapi kurang memperoleh perhatian. Misalnya larangan merokok atau larang sedekah di jalan. Ini menjadi pertanyaan kalau nggak boleh sedekah kenapa masih ada anak jalanan. Belum lagi dugaan adanya damai yang bisa membuat penerima sedekah di jalanan kembali lagi. Ini menjadi PR berat buat saya," kata perempuan yang satu-satunya menjadi ketua fraksi di DPRD DKI Jakarta ini. (kpl/dis/bun)

Wanda sendiri telah dilantik pada 25 Agustus lalu dan berada di Komisi E yang membidani soal kesehatan dan pendidikan. Pembagian gaji ini diakui sebagai langkah awal menjadi wakil rakyat sekaligus memenuhi nazar saat kampanye lalu.
"Saya ingin berbuat konsisten sesuai dengan apa yang dilaksanakan. Ini juga menjadi pembelajaran bahwa apa yang pernah terucap selama kampanye lalu bakal direalisasikan 100 persen," ujarnya di Yayasan Al Ittihadiyah, Cipete Selatan, Jakarta Selatan.
Wanda pun berharap dirinya selalu didoakan agar dalam melaksanakan tugas lima tahun ke depan tak mengalami rintangan kendati tugas yang diemban berat.
"Bayangkan anggaran untuk pendidikan senilai 24 milyar rupiah. Bagaimana cara mengurusnya? Mestinya jika dana sebesar itu langsung terserap maka tak ada lagi anak jalanan. Makanya saya mau kawal dan awasi agar bisa terserap sebagaimana mestinya," ucap Wanda dan langsung ditepuki tangan oleh semua yang hadir di ruang itu. (kpl/dis/bun)

"Bukan tanpa alasan saya menolak itu. Sebab sudah jadi rahasia umum negara Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia. Bagaimana mungkin di negara ini filmnya dibintangi bintang porno? Lantas di mana moralitas kita sebagai bangsa? Secara tak langsung potret negara terbawa dan tercoreng walau dia tak main film porno," katanya kepada KapanLagi.com, Jumat (18/9).
Baca Juga:
Dijumpai di salah satu yayasan di kawasan Cipete Selatan, Jakarta bagian selatan, Wanda mengatakan sebaiknya masyarakat memberikan sanksi moral jika Miyabi tetap menjalani syuting untuk film bertema komedi tersebut.
"Kalau pun dia jadi syuting, saya minta kenakan sanksi moralitas saja. Jangan ditonton filmnya," tegasnya.
Yuk ngobrol tentang Miyabi gagal ke Indonesia di: Facebook KapanLagi.com dan Forum KapanLagi.com!
(kpl/dis/npy)

"Ya ini merupakan hasil kerja keras dan perjuangan hidup, ini merupakan investasi politik bagi saya. Saya hidup berpolitik sudah sejak tahun 1998 dan ini merupakan buah hasil dari perjalanan politik saya," kata Wanda.
Wanda berharap nantinya ia bisa duduk di Komisi E, yang mengurusi bidang pendidikan dan kesehatan. Karena selama ini dirinya telah menekuni aktivitas sosial. Lalu, apa yang menjadi agenda utamanya?
"Saya akan bikin perda tentang perlindungan anak, terutama anak jalanan, karena selama ini banyak anak jalanan yang ditangkap tanpa alasan yang jelas. Dan saya juga akan memperjuangkan APBD 20% fokus untuk sekolah, karena selama ini hanya sebatas omongan kalau sekolah itu gratis," tegasnya.
Soal alasan Wanda lebih memilih mencalonkan diri di tingkat DPRD dan bukannya pusat adalah sebagai pembelajaran untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
"Saya merasa belum punya pengalaman yang cukup untuk duduk di tingkat yang lebih tinggi. Saya masih ingin belajar dulu di sini, karena menurut saya butuh waktu yang cukup panjang untuk ke jenjang yang lebih tinggi," pungkasnya. (kpl/hen/bun)

"yang jelas saya akan mendorong Pemda dan teman-teman di DPRD untuk membuat kebijakan, agar perusahaan apapun harus dilengkapi dengan asuransi untuk karyawannya. Dan akan memberikan sanksi pada perusahaan yang tidak memberikan jaminan sosial," tegasnya.
Ditemui KapanLagi.com dalam acara Power Breakfast: 'Hari Tua - Siapa Takut?!' yang digelar di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (26/6), Wanda yang pernah meraih penghargaan Artis Peduli Hukum dan HAM dari Menkumham di bulan April 2008 itu menjadi pembicara mewakili golongan Caleg Terpilih.
Selain itu hadir Direksi PT Jamsostek, Ahmad Ansori, Dosen UI dan Aktivis Politik, Didik J. Rachdini, serta Debra Yatim sebagai moderator. Dalam talkshow tersebut dibahas masalah-masalah seputar persiapan hari tua, dan anak-anak muda sekarang yang memiliki gaya hidup konsumtif dan tidak memikirkan masa tua, serta mengenai jaminan kesehatan dan asuransi jiwa di masa tua. (kpl/hen/bar)

"Persoalannya hanya bagaimana kita mempersiapkan secara keseluruhan, baik secara fisik maupun ekonomi, tanpa harus membebani orang lain, bukti konkretnya dengan jaminan sosial," ujar Wanda.
Ditemui KapanLagi.com dalam acara Power Breakfast: 'Hari Tua - Siapa Takut?!' yang digelar di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (26/6), ibu tiga anak tersebut juga menyoroti perilaku generasi muda yang menurutnya kurang memikirkan masa depan.
"Ya memang sejauh ini kita jarang melihat anak muda memikirkan hal tersebut. Bahkan kadang-kadang gaji pertama mereka habis untuk membeli HP, traktir teman-teman, termasuk saya juga waktu masanya, tanpa memikirkan ke depannya seperti apa. Ya kenapa sih memikirkan hari tua pada saat itu? Nggak ada. Padahal itu penting," paparnya.
Bertindak sebagai pembicara selain Direksi PT Jamsostek, Ahmad Ansori, Dosen UI dan Aktivis Politik, Didik J. Rachdini, Wanda memaparkan arti perencanaan hari tua.
"Buat saya itu sangat penting, sampai-sampai beberapa bulan yang lalu saya ikut asuransi kesehatan dan jiwa," pungkasnya, dalam talkshow yang membahas mengenai jaminan kesehatan dan asuransi jiwa di masa tua tersebut. (kpl/hen/bar)