< >

ARTIKEL WIDYAWATI


'PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN', Saat Perempuan Bicara Kebebasan

KapanLagi.com - Perempuan, makhluk istimewa dengan segala keindahannya, makhluk yang sering dianggap lemah namun menyimpan kekuatan besar. Wanita juga boleh dibilang selalu jadi 'makhluk kelas dua' jika dibandingkan dengan lawan jenisnya, laki–laki.

Kebebasannya sering dianggap tabu, keputusannya dianggap perlawanan, padahal sejatinya perempuan dan laki–laki adalah pelengkap antara satu sama lain.

Bukan hal yang baru pula kalau laki–laki malah menjadi penindas bagi perempuan, perempuan jadi warga negara kelas dua. Ditindas hak–haknya dan dilupakan suaranya.

Di sisi lain emansipasi perempuan terus digaungkan. Sayangnya, kesetaraan hak itu bukanlah sesuatu yang bersifat evolusi namun paralel.

Di suatu waktu ada perempuan yang menjadi presiden tapi pada waktu yang sama ada perempuan–perempuan yang ditekan, dipaksa menghentikan pendidikannya, mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau dijual oleh keluarganya sendiri.

Berbicara mengenai kebebasan kaum perempuan, selalu tidak terlepas dari norma–norma adat, tradisi bahkan agama.

Islam merupakan agama mayoritas negara ini sering kali dikaitkan dengan topik kebebasan pihak perempuan, dianggap berat sebelah karena lebih memihak atas kepentingan kaum lelaki.

Ayat–ayatnya menjadi alat untuk membungkam perempuan, sebuah fenomena pro dan kontra yang terus berlanjut hingga saat ini.

Membaca fenomena yang terjadi, Starvision mencoba menghadirkan film terbarunya berjudul PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN, dengan arahan sutradara berbakat Hanung Bramantyo.

Film yang diambil dari karya novel Abidah El. Khalieqy ini adalah film tentang salah satu dunia paralel perempuan. Berkisah tentang Anissa, seorang perempuan dari pesantren yang berjuang untuk mendapatkan hak-nya.

Hak untuk memilih hidup tanpa ada tekanan, termasuk juga tekanan yang mengatasnamakan agama.

Ini kisah tentang perempuan yang percaya kalau agamanya, Islam, yang akan membawa kebebasannya sebagai manusia bukan malah mengurungnya.

Dalam press conference yang berlangsung di Planet Hollywood (12/1), Hanung mengatakan bahwa ia sadar hal ini adalah sesuatu hal yang sensitif sifatnya dan mengundang kontroversi namun ia mengajak para penonton untuk menelaah lebih dalam, jauh dari wacana Islam serta pertentangannya.

Ia juga mengatakan bahwa semua disajikan berimbang, hingga tidak ada unsur menghakimi. Sementara dari sisi sang penulis, ketika ditanyakan seberapa besar penyajian film dengan isi novel yang ia tulis, Abidah mengatakan meski ada beberapa hal yang ingin diartikulasikan dalam film namun hal itu tidak terjadi.

Ia menganggap pihak sutradara begitu apik mengemas film ini menjadi lebih ringan penyajiannya namun tidak melepas inti dari isi cerita.

Film PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN adalah kisah untuk anda yang percaya tentang pentingnya kebebasan seorang manusia. Film yang berdurasi lebih dari dua jam ini, dibintangi Revalina S Temat, Oka Antara, dan juga didukung artis senior Widyawati.

Film bernuansa Islami ini akan serentak tayang di semua sinema 21 pada 15 Januari 2009. (kpl/ana/meg)


Lihat profil: Hanung Bramantyo, Revalina S Temat, Oka Antara, Widyawati
Diposting oleh: Editor | Kamis, 15-01-2009 |

'LOVE', Satu Kota, Lima Kisah Cinta

KapanLagi.com - Pemain: Sophan Sophiaan, Widyawati, Fauzi Baadilah, Acha Septriasa, Luna Maya, Irwansyah, Laudya Chintya Bella, Wulan Guritno

Film produksi pertama 13 Entertainment yang dipimpin Manoj Samtani ini mengambil tema cinta selalu bisa menyatukan segalanya. Tagline film ini pun telah menggambarkannya, "Lima kisah, satu kota, tak ada yang sempurna kecuali cinta". Film ini memiliki lima kisah cinta berbeda. Namun tak seperti PEREMPUAN PUNYA CERITA yang kisahnya saling terpisah, kisah-kisah cinta dalam film ini masih saling berhubungan.

Lima kisah dalam film ini melibatkan lima pasangan yaitu Nugroho (Sophan Sophiaan) dan Lestari (Widyawati), Rama (Fauzi Baadilah) dan Iin (Acha Septriasa), Tere (Luna Maya) dan Awin (Darius), Restu (Irwansyah) dan Dinda (Laudya Cynthia Bella), serta Gilang (Surya Saputra) dan Miranda (Wulan Guritno). Takdir mempertemukan mereka di tengah belantara kota Jakarta.

Nugroho yang menderita alzheimer mampu menyentuh hati Lestari. Meski mereka bertemu dalam keadaan yang tidak muda lagi, Lestari dengan penuh kasih sayang menerima keadaan Nugroho.

Kisah lain yang juga tak kalah menyentuh adalah kisah seorang pekerja percetakan, Rama yang bertemu Iin, mojang Sukabumi yang datang ke Jakarta untuk mencari kekasihnya. Mereka bertemu saat Iin hendak membuat selebaran. Masa lalu yang serupa mempersatukan mereka, membuat mereka berani mengejar hari esok.

Kisah ketiga bercerita mengenai indahnya cinta beserta masalah yang mengiringinya lewat kisah Tere dan Awin. Tere, seorang penulis yang sukses dan terkenal bertemu dengan Awin, penjaga toko buku yang sebenarnya memiliki bakat terpendam sebagai penulis. Benih cinta pun muncul di antara keduanya. Ketika kemudian ketakutan Awin untuk mencintai muncul, Tere sebaliknya membuka mata Awin bahwa cinta tak semestinya dibatasi.

Kisah berikutnya adalah pasangan termuda dalam film ini. Dua mahasiswa Restu dan Dinda yang menjalani hidup dengan santai dan riang, jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayang jalinan asmara mereka terpisahkan oleh maut. Meski demikian, cinta mereka tetap kekal.

Kisah pungkasan adalah pasangan muda yang memasuki usia pernikahan delapan tahun, dengan buah hati mereka Icha. Icha yang menderita autisme membutuhkan kedua orangtuanya untuk melewati hidup yang tak mudah. Sementara Gilang dan Miranda sendiri harus menerima kenyataan bahwa pernikahan mereka pun punya masalah. Pada akhirnya ketika Gilang merelakan Miranda pergi, dia menemukan cinta sejati di suatu hari yang tak terduga.

Sejak film ini mulai digarap pada akhir 2007, banyak yang mengomentari film ini mencontek film produksi Hollywood LOVE ACTUALLY (2005) yang mengisahkan beberapa pasangan dengan pahit manis kisah cinta mereka, dan dibintangi Hugh Grant, Emma Thompson, Colin Firth, Keira Knightley, dan Rowan Atkinson. Namun anggapan ini dibantah oleh penulis naskah film LOVE, Titin Watimena. Titin yang bekerja sama dengan sutradara asal Malaysia Khabir Bhatia ini menegaskan bahwa kisah ini terinspirasi dari hasil pengamatan sehari-hari di lingkungan sekitarnya yang sangat beragam. (kpl/lin)


Lihat profil: Sophan Sophiaan, Widyawati, Fauzi Baadilah, Acha Septriasa, Luna Maya, Irwansyah
Diposting oleh: Editor | Rabu, 13-02-2008 |

«1»