KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kita santai aja, karena gak semua film sesuai dengan karakter kita, kita secepatnya dapat film baru lagi," terang Fachri saat ditemui di peluncuran DVD film PINTU TERLARANG di Gramedia, Grand Indonesia, Jumat (13/11) kemarin.
"Sejauh ini belum ada rencana apa-apa," jelas Marsha. Ditambahkan oleh Fachri yang bakal merayakan ultahnya 15 November tanpa perayaan ini, "Kalau ada tawaran bagus, semuanya welcome, pasti kita ambil."
Apakah mereka ingin mengikuti jejak Widyawati dan almarhum Sophan Sophiaan yang selalu tampil bersama di layar lebar? "Gak mikir sampai ke sana, lagipula beda zaman," pungkas anak dari penyanyi gaek, Ahmad Albar ini. (kpl/buj/riz)

Keduanya, baik Afgan maupun Ogan, ternyata punya persamaan, selain masing–masing dekat dengan Arumi dalam masa yang berbeda, ternyata mereka punya profesi yang sama, yaitu artis penyanyi.
Bedanya, sampai saat ini, Afgan tercatat sebagai solois mapan dalam deretan penyanyi papan atas. Sementara Ogan adalah penyanyi pendatang baru di industri musik Indonesia yang baru merilis sebuah album debut bertajuk HIDUP HANYA SEKALI dengan hits single Cinta Sejati.
Untuk hit single Cinta Sejati, video klipnya dibintangi Arumi. Dan sudah kelar digarap. "Aku suka Arumi saat pertama kali lihat. Dan ternyata enak buat diajak ngobrol. Dan kami berdua suka ngobrolin soal Cinta Sejati, yang inspirasinya dari tante Widyawati, dan kebetulan lagi kami berdua mengagumi sosok beliau," ujar Ogan beralasan.
"Untuk saat ini masih dalam masa promo di radio dengan fokusnya Jawa Barat," terangnya saat disambangi di Dapur Sunda, Pancoran, Minggu (1/11). Dengan konsep musik yang cenderung ngeband, Ogan berusaha menyuguhkan warna yang beda dengan solois pria lainnya.
"Ini salah satu yang membuat saya yakin, musik saya akan diterima masyarakat," tandas cowok kelahiran Tasikmalaya 12 Februari 1988 ini. (kpl/wwn/erl)

Istri aktor almarhum Sophan Sophiaan ini datang ke lokasi gempa bumi atas nama Perhimpunan Pemberantas Tubercolosa Indonesia (PPTI) bersama Ny Raisis Arifin Panigoro, yang juga pengurus Yayasan Kemanusiaan Jenggala.
Sebelum masuk barak, untuk menyerahkan bantuan, aktris dalam film ROMI DAN YULI tersebut, sudah disambut jabatan tangan ibu-ibu hingga anak-anak. Tak ayal lagi begitu masuk barak tepuk tangan pun begitu riuh.
Di dalam barak bambu beratapkan seng yang berukuran sekitar 10 x 20 meter, tersebut Yayasan Kemanusiaan jenggala dengan PPTI menyerahkan bantuan secara simbolis untuk korban gempa.
Dalam sambutan singkatnya, baik Widyawati maupun Ny Raisis Arifin Panigoro, yang juga pengurus PPTI, menyatakan bantuan tersebut merupakan bantuan bersama antara kedua lembaga ini.
Mereka berharap bantuan yang diangkut satu truk dan dua mobil box ini, bisa meringankan beban para korban gempa bumi yang berkekuatan 7,3 Skala Richter itu.
Selain ratusan dus susu bayi, kata Raisis Arifin Panigoro, bantuan juga berisi makanan dan pakaian, mulai dari pakaian bayi, anak-anak hingga kebaya, sarung dan baju koko.
"Saya berharap meski dalam keadaan seperti ini, ibu-ibu tetap dapat merasakan kegembiraan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, karena itu kami juga membawa sarung, kebaya dan baju koko, untuk berlebaran nanti," ujar Raisis Arifin Panigoro. (kpl/bar)

"Penghargaan bagi saya ini merupakan dukungan yang membuat saya tegar dalam menjalani hidup sepeninggal suami tercinta. Saya akui jika memperoleh penghargaan membuat saya sedih dan bangga," katanya di Jakarta baru-baru ini.
Dilanjutkan bahwa penghargaan yang didapat belakangan ini sebagai akibat dari kerja keras serta peran Sophan Sophian saat mereka masih suami istri.
"Saya nggak bisa berdiri di sini tanpa jasa suami. Tapi dengan dia juga, saya seperti sekarang ini. Dan yang membuat saya berat dan terharu mendapat beragam penghargaan setelah beliau tidak ada," sambungnya.
Lantas apakah penghargaan tersebut dirasa terlambat? Widyawati tersenyum. "Tidak merasa terlambat atau kecepatan. Sebab buat saya penghargaan apapun adalah penghargaan. Namun yang penting perhatian itu yang luar biasa," terangnya diplomatis. (kpl/dis/riz)

"Sejauh ini tidak yah, meskipun band kita lagu-lagunya keras, orang tua masih bisa menerima. Palingan ibu-ibu yang komplain. Dari SMP gue sudah mengenal musik. Dulu mainnya bass, cuma berhubung yang main gitar sekolah di luar negeri, jadi gue ngegantiin dia," kata Roma di Pantai Carnaval, Ancol, Jakarta, Sabtu (8/8).
Roma menambahkan, dari kecil dirinya sudah diajarkan bermain musik. Lalu, dari mana bakat yang diperolehnya itu? Mengingat kedua orang tuanya, Alm. Sophan Sophiaan dan Widyawati adalah aktor kawakan.
"Kayaknya sih dua-duanya. Nyokap itu dulu penyanyi dan bokap suka nge-band juga. Tapi kalau bakat berakting gue tidak bisa banget, kayaknya jauh dari dunia gue. Pernah sih main film yang ama Iwan Fals, tapi gue tetep nggak bisa di akting," tandasnya.
Walau menyandang nama besar orang tuanya, namun Roma mengaku tak mau dianggap memanfaatkannya. "Bukanlah, itu tidak ada hubungannya, bukan karena orang tua Roma. Kita tidak mau memanfaatkan hal tersebut," pungkas pria brewokan itu. (kpl/ant/bun)

"Kita terbentuk sekitar tahun 2003 – 2004, kebetulan kita sama-sama anak Trisakti. Sebenarnya dulu nama band kita bukan Killed By Butterfly, tetapi Seeking Isabelle. Trus kita ganti nama," kata Roma, putera Alm. Sophan Sophiaan dan Widyawati.
Untuk alirannya, ternyata mereka memilih jalur rock/metal. Wow, sesuai dengan nama grup yang mereka pilih bukan?
"Dasarnya tetap rock/hip metal. Kalau ditanya kenapa namanya Killed By Butterfly, karena kita sudah kepikiran dengan nama seperti itu dan tidak ada arti khusus. Kebetulan karena kita Indie label jadi pendengarnya hanyalah komunitas kita sendiri," tambah Roma.
Untuk rencana pindah ke Major Label, Roma mengaku tak keberatan jika lagu-lagu mereka tak diubah.
"Kalau kita ditawarin untuk masuk major label tidak masalah, asalkan lagu-lagu kita jangan ada yang diubah. Dan kita mau bergabung di Indie label karena kita mencari kesenangan saja dan juga kita sudah punya massa yang banyak. Kalau kita mau manggung kadang kita harus patungan dan kita yang bayar. Kita mencari teman yang banyak masih mencari untung-untungan," tandasnya. (kpl/ant/bun)

"Kita gak perlu sebut nama. Ya memang pada saat itu ada launching Bank Saudara, kira-kira sebulan yang lalu dan salah satu dari staf Bank Saudara ini, Ibu Yani Panigoro, berulang tahun. Dia senang sekali dengan Afgan dan itu disiapkan untuk surprise. Tapi ketika sudah waktunya, kok ga dateng-dateng juga. Ada apa ini?" papar Tante Widya.
"Akhirnya setelah acara selesai setelah makan siang baru datang, jadi ya saya merasa 'Aduh, kenapa kok kamu sampai datang telat begini?'. Terus dia (Afgan) bilang macet, tapi kan macet bisa diantisipasi. Saya hanya memberikan satu wejangan, saya bilang 'Kamu masih sangat muda, potensial, suaramu bagus, kamu cakep. Jangan sampai hanya karena ini orang tidak mau pakai kamu lagi'. Dia berterima kasih sekali," imbuhnya.
Walau kecewa, namun Tante Widya sama sekali tak marah. Apa yang ia sampaikan ke Afgan adalah untuk kemajuan Afgan di masa yang akan datang.
"Ini kan sangat luas, kita sampai kepada bagaimana kita membawa diri kita seperti kalau kita mendapat undangan. Harus tau itu resmi atau tidak, agar kita bisa mengatur waktu dan berpakaian yang pantas," pungkasnya. (kpl/gum/bun)