< >

ARTIKEL WULAN GURITNO


'RUMA MAIDA', Angkat Kembali Semangat Bhinneka Tunggal Ika

KapanLagi.com - Pemain: Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Davina Veronica, Imelda Soraya, Nino Fernandez, Wulan Guritno, Verdy Solaiman, Frans Tumbuan, Hengky Solaeman.

Mencoba merangkum persoalan bangsa dalam sebuah film, itulah yang ingin ditampilkan di RUMA MAIDA. Mengangkat tema sejarah kebangsaan, film ini sengaja dirilis untuk pada tanggal 29 Oktober, untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Film besutan Teddy Soeriaatmadja ini mencoba menggabungkan peristiwa-peristiwa penting di negara ini lewat sebuah rumah yang terbengkalai. Rumah yang memiliki sejarah panjang, rumah yang kini digunakan oleh Maida (Atiqah Hasiholan), sebagai tempat singgah anak-anak jalanan untuk belajar bersama.

Maida, gadis kikuk dan cuek yang idealis, yang mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Setelah dua tahun bergelut bersama anak-anak jalanan, memberikan pendidikan, Maida harus menghadapai kenyataan pahit. Rumah tempat mereka bernaung akan segera dihancurkan untuk kemudian dibangun pusat pertokoan.

Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Maida berjuang keras untuk mempertahankan sekolahnya. Tak ada celah untuk menghindar membuat gadis itu gusar dan beringas, insinyur pembangun rumah tersebut dihadapinya dnegan ketus.

Adalah Sakera (Yama Carlos), sang insinyur yang rupanya juga mantan seorang aktivis semasa kuliahnya, tertarik dengan kegiatan yang dilakoni Maida. Setelah serangkaian kesalahpahaman, mereka akhirnya sepakat sama-sama berupaya mempertahankan sekolah tersebut.

Dalam perjuangannya, Maida justru menyibak misteri rumah tua tersebut. Bangunan itu adalah saksi bisu atas kisah cinta yang syahdu dan tragis antara dua insan di tengah perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Alur cerita mulai berputar ke masa lampau dan kembali ke kenyataan sekarang. Penonton harus cermat mengenang waktu dan sejarah kebangsaan kita agar tidak kehilangan alur cerita.

Tokoh lain yang penting dalam film ini adalah Bung Karno. Dalam film ini Bung Karno digambarkan bukan sebagai orator yang ulung. Tapi sebagai negosiator yang memiliki apresiasi seni yang tinggi. Selain itu, simak pula grup band Naif mengisi soundtrack dengan mengaransemen ulang lagu-lagu Juwita Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Ibu Pertiwi selain lagu Keroncong Tenggara yang diciptakan Ayu Utami dan dinyanyikan langsung oleh pemeran Nani Kuddus (Imelda Soraya).

Nani adalah garis penghubung Bung Karno dengan tokoh imajiner dalam cerita Ruma Maida. Selain tokoh sejarah yang sudah terkenal, tokoh baru seperti Ishak Pahing (Nino Fernandez), Nani Kudus adalah imajiner. Karakter yang sengaja dimunculkan Ayu Utami untuk menunjukkan sisi lain Bung Karno. Rumah tempat Maida mengajar, konon, adalah rumah di mana Bung Karno sering berbincang dengan Iskak Pahing dan keluarga.

Film ini bukan sekedar memberi hiburan yang bermutu. Selain lokasinya yang menarik di kota tua Jakarta dan Semarang, kualitas akting jebolan teater juga menghidupkan film ini. Bahkan jika Anda termasuk orang yang kurang peduli sejarah, bisa-bisa Anda menangkapnya sebagai kebenaran sejarah. Padahal tidak seluruhnya benar-benar pernah terjadi. RUMA MAIDA percaya bahwa masih banyak anak-anak muda yang ingin meneruskan cita-cita mulia para pelopor bangsa, yakni mencerdaskan bangsa dan hidup damai berdampingan dengan semangat bhinneka tunggal ika. (kpl/uji/riz)


Lihat profil: Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Davina Veronica, Wulan Guritno, Nino Fernandez, Frans Tumbuan
Diposting oleh: Editor | Rabu, 28-10-2009 |

'KING', Bukan Film Biografi Liem Swie King

KapanLagi.com - Pemain : Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakoso, Aryo Wahab, Wulan Guritno, Argo Aa Jimmy.

Jika Anda membayangkan film KING adalah film biografi Liem Swie King, bersiap-siaplah untuk kecewa. Tapi kekecewaan itu justru memberi kejutan saat Anda menontonnya. Ari Sihasale pandai meramu kisah hidup legenda bulutangkis era 70-an itu menjadi film yang mampu membangkitkan semangat penontonnya untuk selalu berusaha maksimal mengejar impian.

Paham bahwa film biografi cenderung membuat penonton jemu, dihadirkanlah Guntur sebagai pemain utama. Anak SD yang dibesarkan sendirian oleh ayahnya (Mamiek Prakoso). Sebagai seorang komentator untuk pertandingan bulutangkis di depan rumahnya, ayah Guntur berharap anaknya dapat menjadi juara bulutangkis, seperti idola dia dan ayahnya, Liem Swie King.

Ayah Guntur hanya bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan untuk pembuatan shuttlecock. Dia sangat mencintai bulutangkis dan dia menularkan semangat dan kecintaannya itu pada Guntur, walaupun dia sendiri tidak bisa menjadi seorang juara bulutangkis. Karena itulah, Guntur diperlakukan dengan keras dalam hal latihan bulutangkis. Guntur, ditandingkan dengan pemain yang jauh lebih tua dan bepengalaman.

Tentu kekalahan yang dialaminya. Bukannya menghibur, Guntur justru dimarahi oleh ayahnya atas kekalahan tersebut. Mendengar cerita ayahnya tentang King sang idola, yang selalu dibanding-bandingkan dengan dirinya, Guntur bertekad untuk dapat menjadi juara dunia. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada di hadapannya.

Sahabat setianya, Raden dan Michele pun selalu berusaha membantu Guntur. Dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal lelah, dan pengorbanan berat yang harus dilakukan, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulutangkis dan meraih cita-citanya menjadi juara dunia bulutangkis kebanggaan Indonesia.

Ketika seleksi pendaftaran seleksi beasiswa Djarum untuk bulutangkis dibuka, Guntur berlatih jauh lebih keras. Didampingi sahabatnya, Guntur fokus pada seleksi tersebut. Guntur berhasil lolos pada seleksi awal, untuk dilanjutkan ke seleksi akhir di Kudus. Masalahnya, jarak Banyuwangi ke Kudus tentu bukan perkara mudah untuk seorang anak pengumpul bulu angsa. Itupun dengan pertaruhan, belum tentu Guntur diterima.

Seolah ingin bertutur di mana ada kemauan pasti ada jalan, Ari Sihasale memberikan rangkaian perjalanan yang indah dalam mengantar Guntur ke Kudus. Bukan hanya kisahnya, visual landscape yang ditawarkan sangat menggoda. Mampukah Guntur mewujudkan impiannya dan ayahnya? Seberapa kuat dia bertahan dari persaingan saat di karantina? Bisakah dia bertemu Liem Swie King, sang idola? (kpl/uji)


Lihat profil: Surya Saputra, Mamiek Prakoso, Aryo Wahab, Wulan Guritno, Argo Aa Jimmy, Ari Sihasale
Diposting oleh: Editor | Kamis, 25-06-2009 |

«12345»