KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kalau didengar musiknya yang diciptakan Anang menginspirasi aku menyelesaikan buku ini. Mas Anang dengan lagu ini berkaitan, lebih mewakilkan perasaan cinta," terang Wulan saat ditemui di launching buku FEEL di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Jumat (13/11).
Menulis buku ini bukan semata-mata sebuah kesenangan, bagi Wulan ini juga jadi tanggung jawab bagi diri sendiri. "Ini tanggung jawab aku sama diri sendiri, FEEL ini tanggung jawab moral saya. Aku lihat di zaman ini," ungkap mantan kekasih Ananda Mikola yang diperistri Adilla Dimitri ini. (kpl/adt/erl)

"Tempat liburan yang sering kita datangin itu Bali, aku sama Dilla juga suka budaya, kita lebih paham dengan Bali. Makanya cerita dalam buku itu sebagian besar memang berada di Bali. Biasanya saya pilih semangat dan diskusi," terang Wulan yang ditemui di launching bukunya, FEEL di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Jumat (13/11).
Kini, bagi Wulan dunia tulis-menulis telah jadi bagian hidupnya. Dan dia berencana menghasilkan karya setiap tahun. "Kayaknya kalau sudah kecebur di suatu hal nggak boleh berhenti di sini. Tiap tahun satu novel, di sini kan kita belajar. Karena kerja juga, kan sering syuting, kadang-kadang kalau nggak sibuk suka mandek," terangnya. (kpl/adt/erl)

Menulis memang bukan perkara mudah, Wulan mengakui selama proses pembuatan dua tahun, dia mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. "Cukup lama juga sih sampai dua tahun. Tapi untungnya ada Dilla dan mas Ronny, jadi kalau aku lagi mandek nggak ada ide, mereka ngasih aku ide. Jadi ya ganti-gantian, tapi keseluruhan ide dari aku, kadang di tengah-tengahnya aku suka bingung," terang Wulan yang ditemui launching bukunya yang berjudul FEEL di Gramedia Matraman, Jakarta Timur Jumat (13/11).
Wulan menceritakan isi buku yang ditulisnya. "Kisah seorang perempuan, pada satu titik mengalami kesadaran apa yang dia mau, karena selama ini apa yang dia kerjakan nggak sesuai dengan keinginannya. Pokoknya nggak comfort. Dalam perjalanan hidup bertemu dengan seseorang yang membuka hati dan pikirannya, karena orang ini unik visi dan misinya. Ada love story-nya, cukup dramatisir, ringan, metropop," kilahnya.
Wulan juga melibatkan Anang untuk buku barunya ini. "Dia (Anang) bikin lagu untuk novel aku, dibuat juga sekitar dua tahun lalu, barengan sama buku ini. Saya kenal sama mas Anang sejak kecil karena tinggalnya deketan. Dulu saya suka nongkrong sama temen-temen cowok di studionya, saya disuruh nyanyi, saya nggak mau. Kemudian aku main di studionya, lagu ini belum selesai, saya bilang suka dengan lagu itu, kemudian dia kasih lagu itu," ujar istri Adilla Dimitri ini.
"Kalau film kan ada soundtrack, ini mungkin semacam bonus untuk temen-temen yang membeli buku aku, untuk lebih merasakan feel dengan lagu mas Anang. Satu sama lain berkaitan," tambahnya.
Sedang suaminya, Adilla Dimitri menegaskan kalau dia sama-sama belajar dengan sang istri. "Saya ikut membantu menyatukan ceritanya Wulan. Sambil menulis sambil belajar, ya kita sama-sama belajar," terangnya. (kpl/adt/erl)

Adrenalin yang dirasakan kian kencang ketika waktu pertunjukan kian mendekat. Tapi bagian itu yang kadang Wulan Guritno rindukan. Oleh karenanya, Kamis (29/10), dia bersama selebriti lainnya mengisi acara Indonesia Membaca Rendra di Gedung Kesenian Jakarta.
"Baca puisi lebih nikmat. Bedanya, lebih live dan ada tatapan mata yang menuju ke kita, mendengar tepuk tangan langsung dan deg-degan setengah mati. Jadi perasaan seperti itu yang nggak pernah didapat dari yang lain. Itulah nikmatnya kalau kita berada di atas panggung," katanya. (kpl/dis/boo)

"Dengan latihan dan persiapan singkat mudah-mudah berjalan baik. Soalnya baru hari ini kita latihan bersama-sama," harapnya kepada KapanLagi.com.
Dengan wajah dipenuhi make up sesuai dengan sajak yang dibawakan, Tamara mengaku sebagai bagian interpretasi diri sehingga apa pun akan dilakukan demi kelancaran pentas.
"Kebetulan karyanya panitia yang pilihkan, jadi kita ikuti saja. Sebenarnya banyak karya dia yang saya sukai," sambungnya lagi.
Disinggung mengenai ketertarikan atas karya Rendra, mantan istri Teuku Rafli Pasya ini mengatakan bahwa sosok Rendra dapat dijadikan panutan terutama dalam berkesenian.
"Wow, saya gemetaran begitu dengar nama dia. Dia guru saya. Dia ajarkan banyak hal seperti kebebasan berkarya. Ya, walau karyanya cukup sulit saya berusaha bisa untuk menghayati. Makanya vokal kembali saya latih," pungkasnya lalu menuju ruang rias. (kpl/dis/npy)

"Kalau di film kita seperti baca tapi untuk di sajak kita seperti sahut-sahutan. Jadi saya bacakan Indonesia dengan perasaan Rendra. Bahkan saya masih deg-degan walau pernah tampil 2005," jelasnya seraya menambahkan membacakan sajak dan puisi Rendra perlu pemahaman lebih dibandingkan skrip film.
Dilanjutkan Wulan, karya Rendra merupakan gambaran realitas dalam kehidupan masyarakat sejak lama dan masih relevan dengan keadaan saat ini.
"Dari zaman kakek sampai sekarang belum ada perubahan yang signifikan di negara ini. Karya dia juga punya karakter dan ciri khas," katanya. (kpl/dis/boo)

Menurut Teddy film ini merupakan film fiksi sejarah, dengan didukung sebuah survey cukup panjang. Sebuah tim riset disiapkan untuk membangun kisah cerita yang seolah terjadi di masa pergerakan.
"Cerita ini hanya fiksi, nggak ada niat mengecilkan tokoh sejarah. Untuk bikin film ini kita juga membentuk tim riset, konsultasi dengan ahli sejarah, dan juga yayasan Bung Karno," terangnya saat ditemui di Pers Screening di Blitzmegaplex Grand Indonesia, Rabu (21/10).
Karena berdasar sebuah kisah fiksi, sejumlah tokoh pun dimunculkan untuk mendukung jalan cerita. Termasuk lagu sountrack Pulau Tenggara yang dibuat dengan semangat perjuangan kaum muda.
"Itu (Pulau Tenggara, red) juga fiksi karangan Ayu Utami. Begitu juga karakter Ishak Pahing dan Nani Kudus," tegasnya.
Film RUMA MAIDA diperkirakan akan menelan dana produksi antara Rp4,5 milyar - Rp5 milyar. Dalam produksinya melibatkan sejumlah artis berbakat, yaitu Atiqah Hasiholan (Maida), Yama Carlos (Sakera), Davina Veronica (Ratu), Nino Fernandez (Ishak Pahing), Wulan Guritno (Bertha). Sementara tokoh Ir. Soekarno diperankan aktor pendatang baru Imam Wibowo. (kpl/ant/dar)