KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Menurut artis Olivia Zalianti, yang menjadi panitia festival itu, di Jakarta, Selasa, pemutaran dua film tersebut merupakan bagian dari festival yang memberi gambaran tentang industri film Iran setelah 30 tahun kemenangan revolusi Islam di negeri tersebut.
Dua film tersebut yaitu KHEILI DUR KHEILI NAZDIK dan GOFLSAZ. Film berjudul KHEILI DUR KHEILI NAZDIK bercerita tentang seorang dokter yang anaknya menderita penyakit kanker dan sisa umurnya tidak banyak lagi.
Sang ayah merasa sangat sedih, karena sebagai seorang dokter ia terlambat menyadari penyakit anaknya sehingga penyakit tersebut tidak bisa diobati lagi. GOFLSAZ menceritakan perjuangan seorang anak membebaskan sang ayah yang ditangkap kepolisian karena sebuah kasus kekerasan.
Namun demikian, perjuangan sang anak melewati berbagai rintangan karena kasus sang ayah harus melewati berbagai prosedur hukum yang rumit. Festival yang berlangsung sejak Senin (16/11) hingga Rabu (18/11) itu bukan hanya memutar sejumlah film namun juga diselingi dengan seminar bersama sutradara dan sejumlah pemain.
Pembukaan festival berlangsung pada Senin (16/11) dan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, konsuler budaya Kedubes Iran Mohammad Ali Rabbani, Ketua Umum PARFI Yenny Rachman, dan Duta Besar Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta.
Olivia mengatakan pihaknya berharap pemutaran film tersebut dapat mendorong sineas Indonesia untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
"Saya harap pemutaran film ini dapat menjadi inspirasi bagi saya dan teman-teman sineas lain untuk membuat karya film dengan anggaran kecil namun berkualitas dan berskala internasional seperti film-film Iran yang kami putar," katanya. (ant/bun)

"Kita pasti merasakan sedih, prihatin, pas pertama kali lihat. Masa sih gak bisa bantu, apa karena alatnya kurang canggih atau SDM-nya, pokoknya mayat udah pada kejepit," kata Yenny Rachman, Ketua PARFI.
Yenny menjelaskan, PARFI bekerjasama dengan Badan SAR Nasional (Basarnas), dan mereka juga sudah dilatih, sebagai wujud kepedulian artis untuk mendistribusikan bantuan ke lokasi gempa.
"Contohnya kemarin saya ke Temulawe, sampai di sana tim medis relawan dari luar negeri berteriak-teriak 'Who can speak english', siapa yang bisa bahasa Inggris. Korban yang sudah kesakitan jangan sampai tim medis tidak tahu, ini masukan, supaya ada relawan yang penerjemah. Begitu saya coba bicara, ternyata si korban gegar otak," paparnya.
Yenny juga mengungkapkan keprihatinannya pada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi. "Seharusnya ada kebijakan dari pihak transportasi, bukan dengan menaikkan harga tiket yang luar biasa dan dilipatgandakan, itu tidak manusiawi," sergahnya.
Dan soal niatan untuk menyumbangkan tenaga untuk membantu meringankan penderitaan para korban gempa, Yenny menghimbau agar hal tersebut tak ditumpangi oleh kepentingan yang lainnya.
"Kalau peduli itu bukan hanya jalan-jalan dan nyari publisitas, tapi kita harus turun membantu. Sampai-sampai kemarin kita harus makan nasi setengah jadi. Tapi kalau kita ikhlas dan istiqomah, insya allah kita akan mendapat pahala," tandasnya. (kpl/adt/bun)

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Maria Joseph, ibunya Sheila, usai menerima kunjungan ketua Parfi, Yenny Rachman bersama rombongan. "Secara mental dan fisik baik, bahkan sempat bercanda dengan Ketua Parfi," tegasnya.
Keluarga Sheila merasa terhormat mendapat kunjungan dari Parfi, karena dalam pandangan Maria, pihaknya telah mencemarkan nama di dunia artis. Namun kenyataan Parfi mau mengunjungi putrinya yang tengah tertimpa masalah.
"Sheila merasa benar-benar bersalah, kok bisa terjadi, kelakuan sekejap namun menghancurkan semua. Ini harus digarisbawahi dan jangan dicontoh," ungkap Maria saat ditemui di rumah kontrakannya yang tidak jauh dari Rutan Pondok Bambu, Jakarta, Rabu (16/9).
"Saya kaget saat didatangi, saya kira orang yang berprestasi saja yang didatangi, tapi ternyata tidak. Saya angkat jempol telah dikunjungi orang yang berdedikasi, sekali pun kesalahan Sheila fatal," terang Maria.
Kunjungan tersebut, memberi semangat bagi Sheila untuk kembali bangkit. Apalagi usianya yang masih muda, masih memungkinkan untuk melakukan banyak hal dan menunjukkan prestasinya.
"Membuat kita bangkit terutama Sheila, sempat dia bilang, I am nothing (Saya tidak ada apa-apanya, red). namun dijawab Yenny, 'Hey jangan seperti itu, ayo bangkit. Kamu ibu walau 20 tahun'," pungkasnya mengutip kalimat Yenny Rachman. (kpl/dis/dar)

"Ini sebagai support sekaligus prihatin di saat kami menjalankan aktivitas sosial ada artis yang diperlakukan seolah-olah penjahat kelas kakap melebihi para koruptor maupun teroris. Apapun kesalahan yang dilakukan adalah sebagai sebuah kesalahan yang tak boleh diulang lagi walau kecil. Namun cara menjemputnya itu lho yang kami sesalkan," ujarnya.
Dikatakan pihaknya sontak kaget ketika mendengar kabar bahwa Sheila dijemput kembali aparat Kejaksaan pada pagi buta untuk melanjutkan sisa masa hukuman. Apalagi, saat penangkapan kondisi Sheila tengah hamil.
"Kita tersentak dengan kabar Sheila ditangkap lalu dijebloskan ke tahanan lagi untuk menjalani sisa waktu tahanan. Kita nggak mau masalahkan soal hukum tapi sebagai sesama umat yang kebetulan satu profesi merasa sedih karena ada anak yang baru keluar kemudian dimasukkan lagi," sambung Yenny.
Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada penegak hukum supaya Sheila dapat keluar dari rutan dengan status tahanan kota.
"Kami imbau berikan tahanan luar atau kota dengan wajib lapor. Ini kan hanya meneruskan sisa hukuman. Sementara koruptor masih banyak berkeliaran di luar sana," pungkasnya diamini Yati Octavia, Edies Adelia dan Rizal Djibran. (kpl/dis/npy)

"Saya minta jangan tanya bapaknya siapa, karena Sheila memperkirakan bisa terjadi pada orang tersebut, orang itu juga tahu," kata Maria meminta.
"Soalnya kalau ditanyakan terus maka persoalan hukumnya bisa tenggelam, saya akui ini bukan contoh yang baik, perbuatan Sheila tetap salah," tandasnya beralasan.
Maria juga merasa lucu dengan munculnya banyak nama yang dikaitkan dengan kehamilan putrinya. Padahal mereka hanya mengunjungi Sheila ke Rutan, atau sekedar mengenal dan bersimpati.
"Lucu aja, bahkan sebelum dikaitkan mereka sempat ke saya, mereka ke Rutan pun sudah pernah. Dari pertama mereka support dan kaget saat dikaitkan," terangnya.
Maria mengaku tidak akan menghindar dari wartawan, namun pertanyaan mengapa hanya itu. Padahal putrinya terkenal dekat dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk dengan sopir dan para wartawan.
"Saya nggak lari diwawancarai, tapi media ada apa semua itu," tegasnya dengan nada bertanya.
Maria Joseph, Kamis (16/9) menerima kunjungan di rumah kontrakannya, dari rombongan Parfi yang dipimpin oleh Yenny Rachman. Kunjungan tersebut bermaksud memberi support kepada Sheila dan keluarganya yang tengah ditimpa persoalan. Turut dalam rombongan yang juga mengunjungi Sheila di Rutan, artis Yati Octavia, Rizal Djibran, Edies Adelia dan kawan-kawan. (kpl/dis/dar)

"Sejak Mas Slamet Rahardjo jadi Ketua BP2N, terus sampai Deddy Mizwar, draft ini sudah dibuat. Ini menjadi hak inisiatif DPR pada 2003. Kalau merasa belum disosialisasikan, terus tugas siapa dong mensosialisasikan? Ya kalau ada yang belum terpenuhi harusnya kita bisa sama-sama memberikan pernyataan tertulis dan elegan. Kalau sekarang menolak berarti kan kita masih berpegang pada UU lama. Harusnya kita menggunakan akal pikiran jernih dan tidak mendiskreditkan seolah anggota dewan yang bersalah. Saya sangat prihatin dengan bunga bela sungkawa," terangnya.
Dijumpai langsung di kantornya, Gedung PPHUI, Jakarta, Selasa (8/9) kemarin, Yenny menjelaskan bahwa dalam UU yang baru, seorang pelaku film akan mendapatkan jaminan sosial, royalti, dan lain sebagainya. Justru artis itu dilindungi dan haknya setara dengan produser. "Kalau kita menolak maka kita memakai UU lama yang tidak memayungi kita. Bisa jadi pihak-pihak artis yang menolak itu mereka digunakan untuk kepentingan bisnis yang terancam (praktek monopoli, red)," urainya.
Dan walaupun dirinya berbeda pendapat dengan kebanyakan insan film, tapi bukan berarti Yenny berada di pihak oposisi. Ia menegaskan jika ia tidak memihak BP2N atau pemerintah saja. Di sini ia lebih mementingkan perolehan perlindungan hukum. "Kalau ini disosialisasikan, mereka bisa usul kok. Tapi nggak usah mengacak ke mana-mana, jadi malah bikin orang resah," katanya.
"Apalagi para seniornya seharusnya lebih bijak untuk memberikan contoh pada generasi baru, beri masukan tertulis dan elegan. Kalau ini kelihatan sekali, takut filmnya nggak ada yang diputar di bioskop kali ya? Siapa yang berdiri di bawah orang orang yang nggak setuju itu? Apakah pihak pebisnis monopoli? Jangan diadu domba hingga beroposisi. kalaupun kreativitas diancam, kreativitas yang mana? Jangan terprovokasi dengan kepentingan orang yang terancam bisnisnya. Jangan buat polemik di keluarga perfilman sendiri," tegas Yenny.
Dikatakan Yenny, ia sebenarnya tidak kaget lagi dengan tindakan para sineas yang mendatangi Gedung DPR. Pasalnya sejak diundang anggota dewan para pekerja film tersebut sudah menunjukkan pro dan kontra mereka. Tapi yang disesalkan Yenny adalah cara mereka mengaplikasikannya.
"Kemarin itu saya masih bisa menolerir karena sifatnya menunda, bukan menolak. Kalau misalnya mereka mau menolak ya harus konsekuen. Dalam UU yang lama, orang bikin film itu harus melewati semua rekomendasi, termasuk PARFI. Ya kita introspeksi diri sendiri saja. Alhamdulillah kali ini usulan kita diterima oleh DPR, jadi terwakili di sini," tuturnya.
"Mungkin bagi yang baru terlibat merasa ini terburu buru, tapi bagi saya yang mengikuti sejak 3 periode lalu, saya merasa lelah. Alhamdulillah deh ini sudah disahkan. Kalau baru huru-hara sekarang, kemarin-kemarin ke mana saja?" ujar Yenny lantang. (kpl/adt/boo)

"Ya harusnya bersyukur, karena kita akan memperoleh payung atau perlindungan. Kan lucu kalau misalnya kita menolak," ujar Yenny yang ditemui di kantornya di Gedung PPHUI, Jakarta, Selasa (8/9).
"Kalau yang dulu UU yang lama, UU No.8/1992, kan di bawah Departemen Penerangan. Sekarang kan Departemen Penerangan sudah nggak ada, jadi undang-undang yang lama sudah nggak ada lagi," sambungnya.
Ia juga mengharapkan agar para insan perfilman tidak terpancing provokasi. Apalagi dengan adanya pasal 6 dalam undang-undang yang baru, yang menyebutkan jika pembuatan film dibatasi dengan tidak diperbolehkan mengangkat tema SARA, narkoba, pornografi, dan lain-lain.
"Jangan suudzon dulu, seolah-olah kita dicurigai sebagai orang jahat. Nah, kalau pelanggaran pasal 6 itu terjadi, siapa yang bertanggung jawab? Tapi kalau soal pornografi batasannya memang belum jelas. Kita punya undang-undang aja dilanggar, apalagi kalau nggak punya undang-undang," ujarnya.
Yenny juga menampik anggapan jika undang-undang yang dibuat mengandung unsur politis. Pasalnya, aturan pemerintah tersebut dianggap sebagian orang terlalu terburu-buru karena hanya ingin mencapai target sebelum masa jabatan DPR berakhir. "Kita jadi seniman saja deh, sesuai dengan proporsi kita. Jangan mengaitkan dengan kepentingan yang lain," tukasnya. (kpl/adt/boo)