< >

BLOG YOHANNES E YUNARKO


Dangdut Mania Siap Bikin Heboh Pemirsa TV

Kapanlagi.com - Jika ingin melihat aksi penyanyi dangdut 'dadakan' namun tetap 'oke', dengan berbagai profesi, silahkan menonton acara di TPI tiap hari Sabtu. Karena, disana bakal ada 20 finalis Dangdut Mania yang akan tampil membawakan kemampuan mereka. Para peserta ini berhasil menyingkirkan lebih dari 6000 peserta audisi dari berbagai daerah.

Menurut Artine S. Utomo, selaku wakil direktur utama TPI, program tersebut sengaja dibuat karena para penikmat musik dangdut sebenarnya datang dari beragam profesi. Untuk itu, pihaknya mencoba menjembatani bakat yang selama ini terpendam.

"Mereka bukan hanya penikmat saja, tapi tak sedikit dari mereka juga hobi menyanyikan lagu dangdut. Tapi sayang, belum ada wadah untuk menampung itu. Makanya TPI bergerak membuat sebuah program musik baru guna mengakomodir kebutuhan tersebut," katanya di studio TPI, Kamis (30/11).

Ia berharap, dengan acara ini akan tidak ada pembatas maupun sekat pemisah yang selama ini membedakan mereka.

"Ya, disini semua itu seolah cair. Apakah itu seorang penguasa, tentara atau pedagang asongan, semua batas-batas kelas sosial sekan hilang dan hanya punya satu stigma yakni sebagi penggila dangdut," jelasnya.

Berbeda dengan kontes yang ada di TPI sebelumnya, program ini bukan hanya hiburan semata, tapi unsur human interest juga turut bermain. Hal tersebut dibenarkan oleh Nalar Rinaldo, kru dari bagian kreatif.

"Jadi ini pure reality show. Dimana impian-impian mereka dapat diwujudkan. Jadi istilahnya ada kesempatan kedua," katanya.

Pada episode pertama pada hari Sabtu (25/11) lalu, 'Dangdut Mania' masih merupakan ajang perkenalan ke-20 finalis dan telah meraih rating 4,2 dan share 14,8 %.

Sedang pada Sabtu (2/12) mendatang, para finalis akan bertarung sesungguhnya, lantaran mulai terjadi seleksi dan pengurangan jumlah finalis.

Ke-20 peserta itu adalah Ian Kasolo (office boy & penjual mie goreng), Heru Bule (marketing manager), Siti Pijit (tukang pijat tuna netra), Jupri Asong (pedagang asongan), Ucok Koki (koki hotel), Agus Kenek (kondektur bus), Oded Bius (perawat bedah), Seno Gusi (dokter gigi), Wiwi Opor (pedagang lauk), Ida Nyonya (ibu rumah tangga), Rico Siap (TNI), Nunu Kepsek (kepala sekolah), Atik Badut (badut keliling), Tika Priit (polwan), Pardi Haloo (operator telepon).

Sedangkan peserta tamu adalah Omas Lenong (pemain lenong), Boyke Dokter (dokter), Mamiek Prakoso (pelawak), Julia Artis (artis) dan Yohannes Bridal (pemilik salon).

Karena berbagai aktivitas, semua peserta dikarantina hanya hari Kamis hingga Minggu. Mereka juga mendapat pelatihan dari team mentor yang terdiri dari bintang-bintang KDI, seperti Lola, Eny, Dedi, Rames, Ekabima, Genta, Yuli, Andi dan Kiki. (kl/opa)


Lihat profil: Yohannes E Yunarko
Diposting oleh: Editor | Kamis, 30-11-2006 |

Yohannes: Saya Tak Punya Ciri Khusus Rancangan!

Kapanlagi.com - Perancang gaun pengantin sekaligus pemilik usaha 'bridal', Yohannes E. Yunarko, mengatakan bahwa dirinya tak memiliki ciri khusus di setiap rancangannya.

"Saya tidak memiliki ciri khusus di setiap rancangan, tetapi justru itu adalah kunci kesuksesan saya karena saya dapat merangkul semua selera masyarakat," katanya di sela-sela acara 'Wedding Festivaganza 2006', di Jakarta, Sabtu (14/10).

Ia mengatakan, setiap orang memiliki selera yang berbeda sehingga ia mengatakan tidak akan memaksakan suatu model gaun pengantin kepada pelanggannya.

"Saya hanya akan memberikan masukan kepada pelanggan, misalnya bentuk lengan gaun akan lebih bagus jika dibuat seperti ini. Tetapi semua kembali kepada pelanggan, saya cukup fleksibel," katanya.

Pria yang mengawali karirnya dengan membuka salon ini mengatakan setiap gaun yang ia rancang tidak pernah ia jual, melainkan disewakan. Alasannya, dari segi bisnis, menyewakan gaun pengantin lebih menguntungkan dibandingkan menjualnya.

"Kalau disewakan kan pendapatan yang diperoleh lebih banyak dan tidak menghabiskan ongkos produksi. Kalau dijual maka akan rugi tenaga dan waktu untuk membuatnya," katanya.

Keputusannya untuk menyewakan gaun tersebut, telah ia perhitungkan resiko yang terjadi yaitu gaun rusak atau sobek. Untuk itu setelah pemakaian 6-7 kali maka gaun tersebut akan dibuang.

Untuk menjaga kualitas gaun yang ia rancang, Yohannes harus mengimpor jenis kain yang ia butuhkan dari Hongkong, Korea dan Taiwan.

"Saya tidak ingin jika gaun tersebut setelah dicuci akan mengkerut atau kusut. Untuk itu dibutuhkan bahan-bahan yang berkualitas tinggi. Dalam satu tahun saya dapat berbelanja kain 2-3 kali. Paling tidak dibutuhkan 10 piece (500 yard) untuk setiap jenis bahan," kata pria yang telah mengembangkan usaha bridalnya menjadi waralaba ini.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai tren gaun pengantin 2006 di Indonesia, ia mengatakan tren saat ini model lipit-lipit.

"Kalau model gaun pengantin maka tidak akan jauh berbeda dari prinsip gaun pengantin internasional yaitu warna putih dan modelnya pun itu-itu saja. Bagian atas dengan model bustier, tali satu, halter neck. Sedangkan bagian bawah gaun model duyung, L-line, atau ball gown," jelasnya.

Untuk setiap ide rancangannya, Johannes dengan jujur mengaku terinspirasi oleh model-model gaun pengantin di luar negeri. Ia kerap melihat-lihat majalah fashion atau pergi ke luar negeri menghadiri fashion show.

"Model lipit-lipit juga bukan asli ide kita tetapi dari luar negeri. Dari model tersebut kemudian dikembangkan, disesuaikan dan dikombinasikan sesuai dengan selera masyarakat kita," katanya.

Selain merancang gaun pengantin, Yohannes juga merangcang gaun malam dan kebaya modern.

"Untuk gaun malam dan kebaya modern dapat dibeli dan tidak disewakan. Harganyapun bervariasi. Bila pelanggan telah membawa sendiri kainnya maka ia hanya akan membayar ongkos pembuatannya saja. Tetapi kalau semua berasal dari saya, maka paling tidak harganya mencapai Rp10 juta," kata pria yang pernah belajar menjahit dan mendesain ini. (*/bun)


Lihat profil: Yohannes E Yunarko
Diposting oleh: Editor | Minggu, 15-10-2006 |

Yohannes Bridal Ciptakan Gaun Pengantin Dari Sisik Ikan

Kapanlagi.com - Salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa kecantikan dan gaun pengantin,Yohannes Bridal kembali menciptakan inovasi baru dalam dunia Bridal. Yohannes Bridal selalu mempersembahkan karya yang unik terlepas dari nilai komersial dan keinginan yang tidak pernah surut untuk menciptakan karya-karya seni yang menjadi ciri khasnya.

Bertempat di Megamall Pluit,(29/7), Yohannes Bridal kembali menggelar acara Wedding Party dengan meluncurkan satu koleksi uniknya, gaun pengantin dari sisik ikan. Ini merupakan gaun spektakuler Yohannes yang ke 19. Sementara untuk koleksi ke 18, Yohannes telah mendapatkan penghargaan dari MURI.

Seusai pagelaran Yohannes pemilik Yohannes Bridal, mengatakan bahwa ide untuk merancang gaun pengatin dari sisik ikan ini, berasal dari salah satu fans beratnya yang selalu mengikuti show Yohannes Bridal dimanapun.

"Namanya ibu, Lina, waktu itu beliau mengirim paket yang berisi satu kantong plastik sisik ikan yang sudah kering dan berwarna bagus untuk diaplikasikan dalam gaun pengantin," tuturnya.

Karena jumlahnya sedikit, Yohannes kemudian berburu sisik ikan dipasar. Dengan ikan kakap berdiameter antara 1 cm sampai 1,5 cm, Yohannes dapat mengumpulkan satu setengah karung sisik ikan. Dari situ dimulailah proses pengeringan, penghilangan bau dan pengecatan sisik.

"Sebenarnya tidak ada kesulitan yang berarti, tapi proses yang paling sulit adalah proses penghilangan bau. Tapi karena saya pernah mempunyai pengalaman dalam membuat gaun pengantin dari tulang ikan, jadi tidak begitu susah," jelasnya.

Untuk menghilangkan bau amis Yohannes mengunakan arak putih sebanyak 10 botol dan direndam selama dua hari. "Dari proses pengeringan, penghilang bau serta pengecatan, memakan waktu satu bulan untuk menyelasaikan gaun ini yang semuanya dibuat dengan handmade," ungkap om Yo.

Dari pagelaran ini Yohannes mengharapkan bisa menarik para calon pengantin untuk bertransaksi. Dan harapan kedepannya gaun ini bisa masuk Guinness Of Record bukan sekedar MURI. (kl/wwn)


Lihat profil: Yohannes E Yunarko
Diposting oleh: Editor | Selasa, 01-08-2006 |

Yohannes Bridal, Tiga Kali Terima Penghargaan MURI

Kapanlagi.com - Kreatifitas Yohannes dalam pembuatan gaun pengantin dari barang yang tak terpakai menjadi sebuah gaun yang indah serta glamour, nampaknya tak pernah berhenti, Setelah dua kali menerima penghargaan MURI dengan karya spektakulernya, kini pria bernama asli Kho Bun An itu kembali menerima penghargaan MURI untuk yang ketiga kalinya.

"Untuk yang ketiga kalinya Yohannes Bridal menerima penghargaan MURI dengan kategori kolektor gaun pengantin unik dengan aplikasi terbanyak di Indonesia, yaitu 18 aplikasi," terang Paulus Pangkah, wakil dari MURI, setelah menyerahkan penghargaan MURI kepada Yohannes di Mall Taman Anggrek, Sabtu (29/04).

Seperti kita ketahui pada rekor MURI yang pertama, Yohannes memakai batang korek api, sumpit, sedotan, kuaci, karet tutup botol dan paper clip untuk membuat gaun pengantin yang unik serta spektakuler. Dan untuk rekor yang kedua, pria yang kini berusia 51 tahun ini membuat gaun pengantin dengan menggunakan sapu lidi, kepingan cd, biji buah kedondong, tulang ikan, krupuk dan jagung.

Sedang untuk penghargaan MURI yang ketiga ini, Yohannes membuat gaun dari aplikasi krupuk, serutan kayu, kulit biji salak, tanduk, biji buah asem dan terakhir adalah biji buah mahoni.

"Waktu aku jalan jalan di Sukabumi, aku melihat banyak pohon mahoni dan aku meminta untuk mengumpulkan bijinya untuk di jadikan gaun spektakuler," tutur Yohannes yang selalu mendapat ide ketika lagi jalan-jalan.

Nampaknya, kreatifitas pria kelahiran Tegal ini tak akan padam dan terus menyala, apalagi dirinya berambisi untuk bisa terdaftar di 'Guiness Book Of Record'. Dukungan dari Jaya Suprana pun membuat pria lajang ini menjadi lebih termotivasi.

"Saya disemanagati Jaya Suprana, kalau kreatifitas yang positif dan berhubungan dengan karya seni jangan dihentikan, terus berkarya dan berkarya. Dan apabila aku mendapat MURI yang ke empat, akan didaftarkan ke 'Guiness Book Of Record," ungkap Yohannes penuh semangat.

Untuk mewujudkan MURI yang keempat pada bulan Juli mendatang, pria berkacamata yang pernah mengenyam pendidikan di negara Kanguru ini akan menyiapkan gaun dari sisik ikan.

"Kalau tidak ada aral melintang, bulan Juli akan membuat gaun dari sisik ikan, sisik ikan apa saja asal ikannya besar," pungkasnya. (wwn/bun)


Lihat profil: Yohannes E Yunarko
Diposting oleh: Editor | Minggu, 30-04-2006 |

Yohannes Ingin Raih Rekor MURI Ketiga

Kapanlagi.com - Yohannes, pendiri Yohannes Bridal tak pernah lepas dari karya- karya spektakuler. Hingga barang-barang kecil yang tak terpikirkan bagi orang lain, ditangan pria ini bisa disulap jadi sebuah karya nan Indah. Setelah dua kali meraih rekor MURI, rupanya Yohannes tak juga berpuas diri, kali ini ia kembali membuat sensasi, menghasilkan sebuah karya spektakuler dengan merancang gaun pengantin dari biji asam.

Pria bernama asli Kho Bun An ini pertama kali meraih gelar MURI dengan merancang batang korek api, sumpit, sedotan, kuaci, karet tutup botol dan paper klip untuk membuat gaun pengantin yang unik. Sedang rekor kedua, pria berusia 51 tahun ini membuat gaun pengantin menggunakan : sapu lidi, vcd, biji buah kedondong, tulang ikan, krupuk dan jagung.

Kali ini, Yohannes menghabiskan 20 kg biji buah asem yang dipadu dengan saten berwarna coklat muda, french lace dan taburan payet berwarna emas serta kristal swarouwsky.

"Kalau di bilang sensasi itu benar, di samping itu saya mempunyai satu ambisi yang ingin dicapai yaitu salah satunya penghargaan MURI yang ketiga," ungkap pria kelahiran 17 Juni 1954 ini saat penutupan pagelaran Bridal Show dan Exibition di Mal Kelapa Gading pada hari Minggu (12/02).

Perlu di ketahui untuk mendapatkan penghargaan MURI, Yohannes di haruskan membuat enam gaun spektakuler, dan peragaan gaun pengantin menggunakan biji buah asem adalah gaun yang kelima. Sebelumnya sempat pula dirancang gaun dari kulit telur, tanduk , biji dan kulit buah salak, serutan kayu.

"Pada bulan April nanti sedang disiapkan untuk busana yang ke enam," tutur Yohannes yang pernah mengenyam pendidikan di Australia ini.

Selain rekor MURI ternyata ada ambisi yang cukup besar yang, ingin ditorehkan oleh Yohannes di tingkat Internasional, ingin mencatatkan namanya di Gueness Book Of Record.

"Bapak Jaya Suprana pernah menjanjikan kalau sampai dapat empat penghargaan MURI, dia akan membantu saya di daftarkan di Gueness Book Of Record," paparnya dengan penuh harap. (kl/ww)

Lihat Foto:
Gaun 'Biji Asem'


Lihat profil: Yohannes E Yunarko
Diposting oleh: Editor | Selasa, 14-02-2006 |

«1»

LIHAT ARSIP BERITA YOHANNES E YUNARKO TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA YOHANNES E YUNARKO TAHUN 2004