KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Sri Sularsih kepada pers di Jakarta, Kamis (14/5), menjelaskan, acara bedah buku Koes Plus yang antara lain ditulis personilnya yang masih aktif, Yon Koeswoyo itu dimaksudkan agar masyarakat mengetahui tentang sejarah grup band musik Indonesia yang berdiri tahun 1960-an hingga keberadaannya sekarang ini.
Acara yang diadakan atas kerjasama Perpusnas dan manajemen Koes Plus itu juga akan diisi penampilan Koes Plus Senior, dan grup Junior Koes Plus di halaman gedung tersebut.
Sri Sularsih menjelaskan, HUT ke-29 Perpusnas yang jatuh pada 17 Mei 2009 bertepatan hari Minggu, juga akan diisi pemberian penghargaan kepada penerbit, tokoh masyarakat, insan film dan media massa yang dinilai berjasa dalam pengembangan minat membaca masyarakat dan pendirian perpustakaan dalam rangka mencerdaskan masyarakat.
Pada 20 Mei 2009 akan diisi diskusi tentang perfilman yang mampu meningkatkan minat membaca masyarakat, seperti film AYAT-AYAT CINTA dan LASKAR PELANGI dengan menghadirkan pembicara aktor Ray Sahetapy dan komedian Aming.
Pada saat yang sama juga akan diadakan lokakarya penyelamatan bahan pustaka, sehingga bagi masyarakat yang memiliki dokumen rusak akibat bencana banjir, dapat di bawa ke PNRI untuk dilatih cara memperbaiki dan menyimpannya.
Sementara itu, Ketua Panitia HUT ke-29 Perpusnas T Syamsul Bahri mengatakan, peringatan PNRI yang bertemakan Perpustakaan sebagai Wahana Belajar Sepanjang Hayat juga akan diisi dialog interaktif UU No 43/2007 tentang Perpustakaan dengan menampilkan pembicara Parni Hadi (Dirut RRI), Arswendo Atmowiloto (pemerhati media), Tantowi Yahya (Duta Baca Indonesia), Rieke Diah Pitaloka (artis) dan pakar Hukum Adnan Buyung Nasution pada 26 Mei 2009. (kpl/dar)

"Demokrasi sekarang sudah kebablasan, saya justru setuju dengan jamannya Soekarno, partai itu cuma sedikit, kalau sekarang masing-masing ingin menyuarakan hatinya," tegas pria yang pernah dipenjara di jaman Soekarno itu.
"Bangsa barat itu justru menginginkan kita hancur dengan banyaknya partai, jadi bikin bingung masyarakat untuk milih, nah itu yang akan bikin kita terus jadi kacung," tegasnya bersemangat.
Keadaan sekarang ini membuatnya untuk memilih langkah Golput (Golongan Putih) pada pemilu mendatang, karena menurutnya Pemilu tidak berdampak bagi kehidupan pribadinya. Justru, menurutnya dengan banyaknya partai saat ini membuat bangsa semakin terpecah-belah.
"Ya kalau saya males saya Golput, partai banyak untuk apa sih? Saya akan memilih partai yang mendukung kehidupan saya, partai banyak ini sebenarnya karangan siapa justru bangsa asing gembira dengan kondisi ini. Bukannnya kita bersatu malah terpecah-pecah," tegasnya.
Bersama dengan grupnya, Koes Plus Pembaruan, Yon Koeswoyo menghibur peserta kampanye PDP (Partai Demokrasi Pembaruan) di Lapangan Blok S, Jakarta Selatan, Jumat (3/4). Meski demikian dirinya mengaku bukan pendukung partai pecahan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu.
Sementara ditanya soal ketertarikannya untuk terjun ke dunia politik, pria yang tetap eksis sebagai musisi itu mengaku tidak lagi tertarik menjadi Calon Legislatif (Caleg) atau pun sebagai Presiden sekali pun.
"Gak mau udah lanjut usia, jadi Presiden itu susah karena harus selalu wibawa kalau kita tak wibawa di depan orang banyak, nasibnya akan seperti Gus Dur," pungkasnya. (kpl/hen/dar)